ログインPeter Crowley finds out that it's been three days since I last lodged a purchase request from him. Thinking that I've finally learned how to become a good wife, he decides to text me as a form of reward. "I've already restored your adoptive mother's treatment privileges. You should be more docile from now on. Don't keep lying just to ask for more money from me. "I know that it's tough, being from the bottom rung of the society and all, but I'm not a gullible idiot, you know." What Peter doesn't know is that I've already finished drafting a divorce agreement by the time I receive his text. Before leaving the manor, the only thing I can take with me is the white T-shirt and the jeans I wore when I first married into this family. No one will ever believe that I, the glamorous and radiant Mrs. Crowley, don't have enough decent clothes to take up an entire closet. Every cent meant for any private expenses needs to go through a corporate approval system. All of the fancy clothes and jewelry are locked up in a safe, too. If I ever need money, I'll have to submit a request to Peter's secretary, Cara Harden. This is all because Peter looks down on my background. He thinks that I'll somehow develop a bad habit of spending money excessively just because I've married rich. But three days ago, my adoptive mother was in critical condition. I quickly put in a request for 200 thousand dollars for her surgical bills, only for Cara to drag out the approval system's procession. In the end, my adoptive mother died in the hospital. Peter has no idea that the only reason why I can tolerate his behavior for so many years is for the sake of the medical resources that can cure my adoptive mother. Now that my adoptive mother is dead, there's no need for me to continue staying in this marriage.
もっと見る“Tu-Tuan Muda? Ke-kenapa Tuan Muda ada di kamar saya?” tanya Nina dengan takut-takut. Hawa malam itu sangat mencekam. Ruangan sempit yang awalnya adalah gudang, disulap sedemikian rupa menjadi sebuah kamar. Ya, kamar untuk Nina sebagai asisten rumah tangga yang baru saja bekerja di rumah itu semingguan lebih.
Pria yang bernama Bryan Lawrence itu sedang berdiri di depan pintu kamar Nina yang tadinya tertutup. Bryan adalah anak tunggal dari majikan Nina, pemilik rumah tersebut. Penampilan Bryan amat berantakan karena ia baru saja pulang dari klub malam, tetapi Bryan masih terlihat tampan. Walaupun bau alkohol tercium jelas di tubuhnya.
“Berikan aku makanan! Aku lapar!” titah Bryan.
Nina yang tadinya baru saja ingin beristirahat kemudian bangkit dari kasurnya. Nina sempat bergerutu dalam hati sebab ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan anak majikannya itu tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan meminta makan. Namun, Nina juga bernapas lega karena prasangka buruk yang sempat ia pikirkan ternyata tidak benar.
“Baik, Tuan Muda. Saya siapkan dulu,” jawab Nina tanpa merasa curiga.
Bryan akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh Nina menuju dapur. Nina dengan cekatan mengolah semua bumbu serta bahan yang tersedia menjadi sebuah masakan yang lezat. Satu jam berlalu, akhirnya kerjaan gadis itu telah selesai. Dan saatnya ia memanggil sang majikan yang sudah menunggunya dari tadi.
TOK TOK TOK
“Permisi, Tuan Muda. Makanannya sudah siap,” ucap Nina dengan suara lantangnya.
“Masuk!” teriak Bryan dari dalam kamar.
Nina kemudian membuka pintu lalu berjalan perlahan. Ia masuk ke dalam kamar besar nan megah dengan pencahayaan yang minim. Ia melangkah sembari menundukkan kepala. Terlihat Bryan sedang meneguk segelas alkohol. Dada bidangnya sudah terekspos jelas alias pria itu sedang tidak mengenakan bajunya.
“Tuan Muda, makanannya sudah siap,” ujar Nina lagi, dengan nada yang amat sopan. Ini hari pertamanya ia bertemu dengan Bryan, anak dari pemilik rumah mewah tempatnya bekerja. Sebab dari seminggu yang lalu ia bekerja, pekerja yang lain mengatakan bahwa Bryan sedang berada di Singapura, menuntut ilmu S-2 nya. Dan sekarang Bryan tengah libur kuliah selama 3 bulan, maka dari itu ia kembali ke Jakarta, ke rumah orangtuanya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bryan sembari melemparkan tatapan dingin pada Nina.
“Ma-maaf, Tuan Muda. Sa-saya tadi harus merebus ayam terlebih dahu—”
“Aku tidak meminta makanan yang itu,” potong Bryan cepat. Ia menatap gadis lugu di hadapannya itu. Ditatapnya penuh gairah sembari ia berjalan mendekati Nina.
“Tu-Tuan Bryan, Tu-Tuan mau ngapain?” tanya Nina tergugup.
“Ssstt! Santai saja! Jangan tegang! Yang berhak tegang di sini cuman burungku. Heheh.” Bryan masih sempat terkekeh saat Nina benar-benar ketakutan. Nina terus berjalan mundur ketika Bryan terus mendekatinya hingga tubuh Nina mentok di dinding kamar.
Nina menatap wajah tampan tuan mudanya yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya. “Tuan?”
“Kamu cantik sekali, Nina,” goda Bryan sebelum menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. “Boleh aku menciummu, Nina?” Mata Bryan terus tertuju pada bibir merah Nina, gadis itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kecil, namun Bryan tidak peduli dengan tolakan tersebut. Bryan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Nina.
Nina tersentak kaget dan langsung menjauhkan bibirnya dari Bryan. “Tuan Muda, apa Tuan sedang mabuk?” tanyanya dengan napas yang tersengal saking gugupnya.
Bryan mengangguk. “Yes, baby. Aku mabuk karenamu.” Bryan langsung menempelkan kembali bibirnya dan melumat lembut milik Nina. Bryan menahan tengkuk Nina agar gadis itu tidak melepaskan ciuman mereka lagi.
Satu tangan Bryan mulai mengusap dan meraba punggung Nina. Bryan mulai nakal menyelinap masuk ke dalam baju Nina kemudian membuka pengait bra gadis itu. Bryan lalu menenggelamkan wajahnya, menghirup aroma wangi di leher mulus Nina.
“T-Tuan Bryan, jangan lakukan ini. Saya mohon… H-hentikan ini, Tuan. Lepaskan saya!!” teriak gadis itu. Ia terus melawan, namun percuma saja, tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. Kini Bryan telah berhasil melucuti pakaian gadis itu.
Bryan mendekap mulut Nina agar gadis itu mau diam. “Ssstt. Jangan teriak Nina, nanti yang lain terbangun. Kalau kamu teriak sekali lagi, aku bakal suruh Papa untuk mecat kamu!”
Nina hanya mengangguk lemah setelah Bryan mengancamnya.
Bryan tersenyum penuh kemenangan. “Aku beruntung sekali, baru pulang tadi pagi langsung disambut dengan seorang ART baru seperti kamu. Cantik dan tentunya masih muda,” bisiknya. Pria itu kemudian membawa Nina dan melemparkan tubuh Nina ke atas ranjang. Dengan sigap, Bryan merangkak naik ke atas tubuh Nina, menguasai sepenuhnya tubuh indah sang asisten rumahnya.
“Ngghh… aahhh… Tu-Tuan Bryan… Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina dengan wajah memelas. Sesekali ia mendesah. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
“Why, Nina? Do you like it?” tanya pria itu dengan sikap genitnya. Gerakan tangan Bryan semakin liar. Tangan yang kokoh itu sedang sibuk meremas-remas kedua tumpukan daging kenyal yang menjadi aset sang gadis. Bibir Bryan tak kalah lincahnya kini menciumi leher Nina yang lembut.
“Hmmpss… ahh….” Nina tak lagi memberontak. Gadis itu terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh majikannya. Nina yang awalnya meronta meminta agar Bryan berhenti, kini ia pasrah dan justru tubuhnya merespon seolah-olah meminta lebih.
Tidak dapat menahan lebih lama, Bryan membuka celananya sendiri. Nina menggelengkan kepalanya kala melihat tuan mudanya kini mengeluarkan senjata yang berurat maksimal. Nina berniat merapatkan kedua kakinya, namun Bryan menahannya.
“Ja-jangan lakukan ini, Tuan. Saya tidak mau. Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina ketakutan.
Bryan berpura-pura tidak mendengarnya. Pria bajingan itu justru memasukkan anaconda besarnya ke milik Nina.
“Mmmmpph… ahh… Tuan… sa… sakit… Tuan Bryan, tolong…” Nina meremas seprai kasur Bryan hingga berantakan. Nina terus-terusan menjerit kesakitan kala Bryan memompa kejantanannya hingga masuk ke tempat yang paling dalam milik Nina. Sakitnya sungguh berasa hingga tak sadar membuat Nina meneteskan air mata.
Bryan melihat tangis kesakitan di mata Nina. Pembantunya itu kemudian berhenti meremas seprai dan beralih mencakar punggungnya hingga berdarah.
Bryan mengecup ujung mata sang gadis dan berbisik, “Apa terlalu sakit, Nina? Bawa enjoy aja. Nanti lama-lama enak kok.”
“Ahh… ahh… h-hentikan….” Tubuh Nina mengejang karena kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. “Hentikan, saya mo—”
Belum selesai sang asistennya berbicara, Bryan kembali melahap bibir Nina dengan brutal. Lidahnya menerobos masuk dengan ciuman yang berkembang semakin liar. Ciuman penuh gairah dan brutal diterima Nina, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, gadis itu pun pasrah.
Nina tidak kuat lagi menerima rangsangan bertubi-tubi dari Bryan. Kemaluannya yang diserang dengan barang kokoh milik majikannya, ditambah lagi bibirnya yang tiada henti dicium oleh pria berusia 23 tahun itu.
Beberapa menit berlalu, permainan mereka hampir berada di ujung jalan. Nina tidak sanggup lagi menahan aliran deras hangat yang keluar dari miliknya. Sedangkan Bryan masih terus memompa batangnya hingga dirinya pun mengalami klimaks.
“Ohh, shit! Kamu sangat enak. Bikin nagih.” Begitulah perkataan pria bajingan yang selalu bermain wanita di luaran sana. Ini bukan pertama kalinya Bryan meniduri perempuan. Diberkahi wajah tampan dan harta berlimpah dari orangtuanya membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapan Bryan. Gadis mana yang mampu menolak seorang Bryan? Bahkan tak jarang seorang gadis yang masih suci bersedia melepas mahkotanya kepada sosok bad guy itu.
Bryan pun mengerang kenikmatan saat dirinya menyembur cairan cinta ke rahim gadis malang itu. Seiring dengan datangnya rasa nikmat itu, pria berwajah tegas itu langsung lemas dan ambruk di atas tubuh Nina.
Nina kini menangis tanpa suara. Dari raut wajahnya saja bisa dinilai bahwa gadis itu sungguh syok berat atas kejadian ini. Nina menyingkirkan tuan mudanya yang kini terlelap di atas tubuhnya.
“Hiks. Hiks.” Nina menyeka air matanya. Ia melihat ke arah Bryan yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ lirihnya dalam hati.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nina beranjak pergi dari ranjang itu. Tempat di mana ia melepaskan kehormatannya secara paksa dengan dibanjiri air mata. Nina mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai lalu memakainya kembali. Ia menghela napas panjang diiringi deraian air mata yang tak kunjung reda, gadis itu pun keluar dari kamar dan meninggalkan sang majikan seorang diri.
"But I can't deny that it was you, Peter, who gave Mom three more years of life," I added.In the final days of Mom's life, I had hated Peter and Cara so much that I wished I could die. I wanted nothing more than to stab them both to death or run them over with a car.But Mom reached out her hand and covered my eyes with great difficulty, saying, "What a pity. We said we'd see the Wishing Wall and take a nice set of photos together, but neither of them came true. Ada, you will go on living happily, right?"In that moment, I became the person I hated the most.I hated myself for being so incapable, for needing to rely on what others gave me just to extend Mom's life.I also hated that I didn't take Professor Shor's advice to spend more time with Mom in her final days or to take her on a trip across the country.But what I hated most was that my own obstinacy and refusal to let Mom go kept her painfully imprisoned in that cramped hospital room, bound to that bed for three years.E
Peter continued giving me random gifts until the data collection finally wrapped up, and he showed up beaming, a gift box in hand."You'll definitely like the gift this time," he said.I didn't let him open it and got straight to the point, "It's a Chanel bag, isn't it?"Peter's eyes lit up with delight. "How did you know?""Because I've seen it on Cara's Instagram. She really likes flashy, impractical things like glittering rings set with large jewels, art supplies ground from rare and precious minerals, and tulips flown in from abroad."With every word I spoke, Peter's face grew paler.He probably never realized that he had been using things another woman liked to win me over.At this point, I felt a bit puzzled."As you can see, you remember Cara's preferences so clearly. So, wouldn't it be nice to just go through with the divorce and marry her?"Without a moment's thought, Peter replied, "She doesn't even come from a respectable background. She just likes my money, so how
Indeed, I did love Peter once, back when he treated me with tenderness.But his love was like a bubble under the sun—beautiful on the surface, yet vanishing before it could even be felt."You think everyone should fall in line and accommodate you. But on what grounds? It's not like I'm your mother! I don't need you to do anything. All I want is to divorce you!"Peter was utterly devastated, all color draining from his face. He staggered a step and grabbed hold of me."Can't you at least give me a chance to make it right?" he pleaded. "Ada, you can't do this. Even criminals get a second hearing. You can't reduce it to a single verdict."I firmly pulled my hand out of his grasp and said quietly, "Peter, I've already given you plenty of chances."Yet, he never treasured them.I knew all too well how stubborn Peter could be, and that getting a divorce from him would be a long, drawn-out battle.I assumed this draining standoff would be put on hold until we returned. But not long af
"Why wasn't I told a single thing about this?" Peter demanded.Cory was full of hesitation, as if it were too embarrassing to say."I did report it to you at the time. But you said, 'When I'm in a good mood, I don't want to hear a single thing about Ada."In an instant, Peter remembered what he had been doing at the time.He had arranged 52 thousand drones to perform above the television station, all just to cheer Cara up, who had been frightened when I had cornered and berated her at the company.He felt a wave of dizziness wash over him, and a headache began to set in.Why had I, who had always been so compliant, suddenly gone to the company to cause such a huge scene back then?I seemed to have said that Cara was deliberately stalling the approval process and refusing to give me money.Thinking of this, Peter abruptly turned to look at the woman beside him, whose face was full of concern.Startled, Cara put on a helpless, pitiful expression and explained, "Peter, I didn't m
"I called you—didn't you hear?" Peter asked."I did, but I didn't want to answer," I replied indifferently.Peter looked as if he had heard something utterly ridiculous, speaking to me as though he couldn't comprehend what I'd said."Didn't I already tell you? Cara has been performing well at wor
Cara would always delay approval until the very last moment, then watch with a beaming smile as I scrambled pathetically to the venue for a piece of jewelry or a gown.Occasionally, I'd end up being late because of this, and Peter would look at me with displeasure."Ada Patton, have you no sense o
Professor Shor frowned imperceptibly. "What? Don't tell me you've gotten too used to the good life of a wealthy wife and can't handle the hardships we working folks have to put up with?"With tears still clinging to my cheeks, I smiled from the bottom of my heart."I can handle it, Professor Shor.
The fact that Peter agreed to Cara's suggestion so casually was simply proof that he didn't care about me.This meant that if I accepted his arrangements now and went back to being his wife, Cara would continue to appear in our lives going forward."I don't want a single thing. All I want is to en
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.