Se connecterبعد انتهاء الحرب بين البشر والوحوش، اتفق الطرفان على أن يحكم العالم الوحش شبه البشري. وفي كل مئة عام، يُقام زواج بين البشر والوحوش، ومن تنجب أولًا وحشًا شبه بشريّ، تصبح حاكم الجيل القادم. في حياتي السابقة، اخترت الزواج من الابن الأكبر لسلالة الذئاب، المشهور بإخلاصه في الحب، وسرعان ما أنجبت له الذئب شبه البشري الأبيض. أصبح طفلنا الحاكم الجديد لتحالف البشر والوحوش، وبذلك حصل زوجي على سلطة لا حدود لها. أما أختي، التي تزوجت من الابن الأكبر لسلالة الثعالب طمعًا في جمالهم، فقد أصيبت بالمرض بسبب حياة اللهو التي عاشها زوجها، وفقدت قدرتها على الإنجاب. امتلأ قلبها بالغيرة، فأحرقتني أنا وذئبي الأبيض الصغير حتى الموت. وحين فتحت عينيّ من جديد، وجدت نفسي في يوم زواج بين البشر والوحوش. كانت أختي قد سبقتني وصعدت إلى سرير فارس، الابن الأكبر لسلالة الذئاب. عندها أدركت أنها هي أيضًا وُلدت من جديد. لكن ما لا تعرفه أختي هو أن فارس بطبعه عنيف، يعشق القوة والدم، وليس زوجًا صالحًا أبدًا!
Voir plusAisya Putri Mahendra, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku, umurku 17 Tahun. Aku mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Dimas Putra Mahendra, dan Andra Putra Mahendra.
Jam menunjukan pukul 6.30 pagi, yang mana Aisya masih nyenyak bergelung dengan selimutnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara teriakan sang Bunda "Aisya, bangunn..."
Aisya, tidak memperdulikan teriakan sang Bunda, ia kembali merapatkan selimutnya, sambil bilang "Apa sih, Bun. Aisya masih ngantuk" katanya karena terus mendengar Bundanya yang tak berhenti ngoceh untuk membangunkannya.
"Cepatan bangun, nanti kamu telat berangkat Sekolahnya" kata Bu Dewi, sambil mengoyang-goyangkan badan Aisya agar anak tersebut segera bangun.
"Sebentar lagi, Bun. Lima menit lagi" tawar Aisya
"Gak ada tawar menawar. Bunda, gak mau tahu pokoknya cepatan bangun" cicit Bu Dewi. Yang mana membuat Aisya segera membuka selimutnya dan duduk.
"Udah jam berapa, Bun" tanyanya dengan mata yang masih merem dan, suara yang serak khas bangun tidur.
"Udah, jam 6.30 pagi" jawab Bu Dewi.
"Hmm" gumam Aisya, ia segera duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Sudah, ayuk cepatan mandi, terus siap-siap Bunda mau siapin sarapan dulu" kata Bu Dewi, sambil berlalu keluar dari kamar anak bungsunya tersebut.
Aisya, segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Tak membutuhkan waktu lama Aisya sudah selesai dengan ritual mandi kilatnya, ia mah kalau mandi cukup sebentar saja. Ia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil seragam Sekolah, dan memakainya. Setelah selesai, ia menyisir rambut dan mengikat rambutnya seperti ekor Kuda, dan menaburkan sedikt bedak Bayi di wajahnya.
Dia mah, gak perlu dandan, gak dandan aja udah cantik apalagi kalau dia dandan, ya walaupun dia agak sedikit bar-bar, ingat ya sedikit titik gak pake titid eh, ASTAGFIRULLAH.
Setelah selesai semua, ia berjalan ke luar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Ia menyapa semua Keluarganya.
"Pagi, semua" sapanya
"Eeh, Bang Dimas mana?" Tanyanya karena tidak melihat Abang kesayangannya di ruang makan.
"Masih, di kamarnya mungkin" jawab Bang Andra yang sudah duduk manis di kursi makan.
"Bang Dimas, antarin Aisya dong" teriaknya yang membuat Dimas segera keluar dari kamarnya.
"Apaan sih, Dek. Teriak-teriak" kata Dimas, kakak sulungnya Aisya
"Antarin, Bang. Aisya dah mau telat ini" ucapnya
"Makanya, jangan begadang terus, jadi kesiangankan bangunnya" kata Bang Dimas.
"Bang Andra, tuh. Yang ngajakin Aisya begadang nonton bola" cicitnya sambil menunjuk Bang Andra dengan mulutnya yang dimonyong-monyongkan.
"Eeh, kok bawa-bawa nama gue sih, Dek. Kan lo sendiri yang mau nonton" cerocos Bang Andra yang gak mau di salahkan.
"Iih, tapikan Abang yang ngajakin" sungut Aisya
"Sudah-sudah, cepat selesaikan sarapannya, Sya. Nanti kamu telat berangkatnya." Ujar Bu Dewi menghentikan perdebatan kakak beradik tersebut.
Aisya, segera melahap sarapannya yaitu sehelai roti tawar yang sudah diolesi dengan selai strowberi kesukaannya, dan meminum segelas susu hangat.
"Ayokk, Bang. Cepatan antarin Aisya dah telat ini". Ujarnya pada Bang Dimas
"Iya, iya bentar Abang ambil kunci Motornya dulu di kamar" jawab Dimas seraya berjalan menuju kamar untuk mengambil kunci.
Aisya, berpamitan dengan Bunda, Ayah, serta Bang Andra yang masih asyik nangkring duduk di kursi makan. Setelah mengucapkan Salam, ia berlari keluar rumah dan menunggu Bang Dimas mengeluarkan Motor Sportnya dari garasi.
"Ayokk" seru Dimas, Aisya pun menghampiri Abangnya tersebut dan menerima helm yang disodorkan oleh Bang Dimas dan segera memakainya, lalu naik ke atas motor. Dimas pun segera menjalankan Motor sportnya menuju Sekolah Aisya.
======
Lima belas menit berlalu, Mereka sampai di depan gerbang Sekolah, Bang Dimas segera menghentikan laju Motornya. Aisya turun dari atas Motor Abangnya, ia melepas helm dan memberikannya pada Bang Dimas. Ia menyalami dan mencium tangan Dimas lalu berucap " Nanti, pulangnya jemputin ya, Bang" ucapnya pada Abang kesayangannya itu.
"Iya, nanti kabarin aja kalo dah pulang. Belajar yang bener ya" ucapnya
"Siap, Boss." Jawab Aisya dengan tangan di atas jidat seperti memberi hormat.
Aisya, berlari menuju gerbang Sekolahnya yang sudah mau ditutup oleh penjaga Sekolah, yaitu Pak Parman. Ia berteriak " stoop, Pak. Jangan ditutup dulu" teriaknya dan membuat Pak Parman, menghentikan aktivitas menutup gerbangnya menjadi menolehkan pandangannya ke arah Aisya.
"Eh, Neng Aisya. Tumben telat, Neng." Ujar Pak Parman
"Iya, Pak. Saya kesiangan bangunnya" jawab Aisya.
"Oh, ya sudah cepatan masuk, Neng. Bentar lagi pelajaran dah mau dimulai" seru Pak Parman menyuruh Aisya masuk.
"Ya, Pak. Aisya masuk dulu, terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Neng." Jawab Pak Parman.
Aisya, berlari menuju kelasnya, ia tiba di depan kelas dan segera masuk. Ia bersyukur karena Guru yang bertugas menyampaikan materi pelajaran di kelasnya belum datang. Ia berjalan menuju kursi tempat duduknya di sana sudah ada Nisa sahabat sekaligus teman sebangkunya. Ia meletakan tasnya di di laci meja.
"Tumben banget, lo telat, Sya." Cicit Nisa
"Ya sorry, abisnya gue bangun kesiangan gegara begadang nonton bola sama, Bang Andra" jawab Aisya.
"Beruntung, lo datang sebelum Pak Seno datang, kalo gak abis lo disuruh sikatin kamar mandi" cerocos Nisa.
"Iya, beruntung banget gue masih bisa terselamatkan dari kekejaman, Pak Seno"
"Eeh, lo dah ngerjain PR yang dari Pak Seno, belum" tanya Nisa
"Udah dong, gini-gini gue masih ingat itu tugas" jawabnya
Tak berapa lama, suara salam terdengar dari ambang pintu, semua murid dengan cepat kembali duduk di kursi masing-masing. Suasana kelas kembali sunyi, tiba-tiba terdengar suara bariton dari depan kelas mereka.
"Segera, kumpulkan tugas yang saya berikan kemaren" kata Pak Seno.
Semua murid mengeluarkan buku tugas mereka, dan memberikannya pada Ketua Kelas yang bertugas mengambil dan mengumpulkannya pada Pak Seno.
Setelah, selesai mengumpulkan tugas mereka, Pak Seno memulai pelajarannya, semua murid memperhatikan, dan mendengarkan pelajaran yang dijelaskan oleh Pak Seno. Kecuali Aisya yang tengah asyik berlayar di alam mimpinya. Pak Seno menghentikan pelajarnnya dan berjalan menuju tempat duduk Aisya.
"Sya, bangun, Sya."ucap Nisa, ia berusaha membangunkan sahabatnya tersebut, ia goyang-goyangkan badan Aisya, dan menarik-narik lengan Aisya agar temannya itu segera bangun.
"Bangun, Sya." Ia masih berusah membangunkan, tetapi Aisya hanya mengeliatkan badannya dan bergumam "hmm"
Astaga, Nisa sudah ketar ketir melihat Pak Seno yang sudah berdiri di samping tempat duduk mereka. Sekali lagi Nisa membangunkannya.
"Sya, cepatan bangun" ujarnya di telinga Aisya. Aisya bangun dan mengucek-ngucek matanya.
"Apaan sih, Nis. Ganggu orang tidur aja deh." Sungutnya
"Ehmm" dia menoleh kearah sumber suara dan ia kaget mendapati Gurunya yang berdiri di sampingnya. Aisya jadi kikuk sendiri.
"Maaf, Pak. Saya ketiduran" ucapnya kikuk
"Kenapa, kamu sampai ketiduran di kelas?"tanya Pak Seno.
"Saya mengantuk, Pak" jawabnya. Astaga jawabannya bikin Nisa istigfar.
"Jangan, diulangi lagi"
"Sekarang, kerjakan soal nomor 5 dan 6 di papan tulis" perintah Pak Seno.
Aisya, segera berdiri dan mengerjakan soal yang diberikan oleh Pak Seno, untung aja dia ini memiliki otak yang cerdas coba kalo gak, alamat nyikat kamar mandi Sekolah sudah dia. Ia sudah selesai mengerjakan soalnya dan di suruh duduk kembali oleh Pak Seno.
"Saya, tidak mau melihat ada murid yang ketiduran lagi di dalam kelas, saat pelajaran berlangsung. Hari ini masih saya maafkan, tapi untuk lain kali tidak ada lagi kata maaf."ucap Pak Seno sebelum mengakhiri pelajarannya.
Bersambung....
Semoga suka ya, maaf saya baru pemula jadi ditunggu kritik dan sarannya. Terima kasih
ما إن أنهت ليانة كلامها، حتى أدرك الجميع ما حدث بالضبط.لو أنها تناولت الدواء كما هو محدد، لكانت أنجبت طفلًا طبيعيًا، لكنها كانت جشعة أكثر من اللازم.مرة أخرى أصبحت سلالة الذئاب موضع سخرية، إذ شاع أن فارس عاجز، وأن زوجته خانته لتُنجب، بل لجأت إلى وصفة حقيرة مصنوعة من بيضة الفأرة التي تخص سلالة الفئران.ازداد مزاج فارس سوءًا، وأيام ليانة بين أهل الذئاب صارت أكثر قسوة.بعد شهر، وبينما كنت أشتري الأقمشة لصغاري من السوق استعدادًا للعودة إلى البيت، رأيت ليانة تحتضن سلة إلى صدرها وتمشي بخفية نحو زقاق ضيق.كنت قد سمعت أنها جُنّت من شدة العذاب، وأنها تحاول كل يوم خطف أطفال الآخرين بين أهل الذئاب.لم أُلقِ بالًا، وعدت إلى البيت بفرح أترقب لحظة فقس أطفالي.لكن باب غرفتي كان مفتوحًا، وثلاث بيضات الأفعى التي في صندوق التدفئة اختفت تمامًا.ارتبكت، وتذكرت قطعة القماش الخضراء على سلة ليانة، كانت تشبه المنديل الذي تركته على مكتبي.أمسكت بالخنجر الذي أهدانيه سليم للدفاع عن نفسي، وركضت بأقصى سرعة نحو الزقاق الذي اختفت فيه ليانة.في عمق الزقاق وجدت ساحة مهجورة، ومن داخلها سمعت صوتها المشوَّه."أطفالي، لا
عندما استيقظت، كان في الصندوق الحراري بجانبي ثلاث بيضات، وكان سليم يمسح العرق الدقيق عن جسدي بمنشفة.كنت على وشك أن أتكلم، لكني سمعت صرخة مؤلمة، كانت صوت ليانة."لا أريد أن ألد بعد الآن، اقتلوني أرجوكم، اقتلوني بسرعة!""آنسة العبيدي الصغيرة، تماسكي، الولادة أوشكت على الانتهاء."امتزجت صرخات ليانة بكلمات تشجيع القابلة.كانت غرفة ولادتها تفصلها عني جدار واحد فقط، وما زالت في منتصف الولادة."لقد تعبتِ كثيرًا يا رانية، أنتِ قوية."قال لي سليم وهو يطبع قبلة على جبيني.كان في نظره قلق وذنب، لكن أيضًا حب عميق لا يوصف."ألن يكون المكان مزعجًا لكِ؟ ما رأيك أن نعود إلى المنزل لتستريحي أنتِ والبيضات؟"في حياتي السابقة، بعد أن أنجبت، لم يكن في عيني فارس سوى الطفل، لم يبالِ بتعبي طوال اليوم والليلة، بل دفع الطفل إلى صدري وأجبرني على إرضاعه فورًا.لم يهتم فارس جسدي المرهق، كل ما كان يراه هو الوحش شبه البشري الذي سيمنحه السلطة.أما سليم، فلم يرَ منذ البداية إلا أنا. حتى تلك البيضات الثلاث لم يطلب مني أن أحتضنها، بل وضعها في الصندوق الحراري واعتنى بها بنفسه."لا بأس، أريد أن أرى كيف تسير ولادة ليانة."
قبل أن أتمكن من متابعة كلامي، قفز سليم عن السرير بخفة، وارتدى ثيابه مسرعًا، ثم اندفع إلى الخارج يبحث عن الطبيب.لم تمضِ نصف ساعة حتى كان الطبيب داخل الغرفة.تحسس نبضي، وراح يعبس حاجبيه، يهز رأسه تارة ويومئ تارة أخرى.ساد صمت ثقيل في الغرفة، وكان سليم ينظر إليّ بقلق بالغ.ثم نهض الطبيب، وانحنى قليلًا مهنئًا إيانا قائلًا:"مبروك يا سيد سليم، سيدتك حامل منذ شهرين، ويبدو أنها ستضع البيضة خلال أيام قليلة!"في البداية كنت هادئة، لكن حين سمعت كلمة "بيضة" تجمدت ملامحي."أليست ولادة طفل؟ بيضة؟"ابتسم سليم ولمس رأسي برفق قائلًا:"سلالة الأفاعي تختلف عن غيرها من السلالات، فهم يضعون البيض ثم يفقس ليخرج الصغير."منذ أن علم سليم بحملي، صار يلاحقني يوميًا ليطعمني المقويات، ولم يسمح لي بأن أعمل أي شيء.حتى إنه اشترى لي ثلاث ثمرات من ثمرة النعيم، وهي فاكهة نادرة لا تُقدّر بثمن، وتُعدّ من أفضل ما يمكن أن تتناوله الحامل.في حياتي السابقة، حين كنت حاملًا، لم يمنحني فارس سوى نصف ثمرة فقط، فكيف استطاع سليم أن يشتري ثلاثًا دفعة واحدة؟"من أين لك المال لشراء هذا؟ أليست سلالة الأفاعي..."جلس سليم إلى جانبي، ون
راح الاثنان يردّدان كلام بعضهما، لينكرا ما قالته ليانة."لا نعترف بهذا الوحش شبه البشري، الاتفاق منذ البداية كان واضحًا، يجب أن يكون الطفل من إنسان ومن الابن الأكبر لإحدى السلالات النبيلة للوحوش.""لو تصرف الجميع مثل سلالة الذئاب، فستختلط الأنساب، ومن يدري أي مخلوقات مشوّهة قد تولد من هذا العبث!""هذا الأمر لا يمكن أن يتم دون موافقة السلالات الأربع الأخرى، وعلى كل حال، نحن سلالة التنانين وسلالة الثعالب نعلن رفضنا القاطع."أما سلالة العنقاء، التي كانت تقف على الجانب، فقد أعلنت موقفها فورًا:"قد انسحبت سلالة العنقاءات من شؤون العالم، ولن نتدخل في هذه القرارات بعد الآن."السلالات الأربع: واحدة امتنعت، واثنتان رفضتا، أما رأي سلالة الأفاعي الضعيفة فليس ذا وزن يُذكر.حينها، اشتعل غضب فارس من جديد بعدما كان قد تأثر قليلًا بكلام ليانة."ليانة! أنظري ماذا فعلتِ! لقد جلبتِ العار على سلالة الذئاب!"في طريق العودة بعد انتهاء الاجتماع، ظل سليم صامتًا ومهمومًا، وبعد أن سألته مرارًا، باح بما في قلبه."حين رأيتِ ذلك الذئب الأحمر، لم ترفّ عيناكِ عنه، هل ترين أني لست جميلًا بما يكفي؟"رؤيتي لغيرته جعلتن