Catalog
38 chapters
Bab 1 Awal Mula
Caramel, gadis berusia 23 tahun memiliki paras nan cantik, senyum semanis caramel, bermata hooded, berkulit putih, tinggi 168 cm dan berat badan ideal 58 kg. Keindahan fisik itu selalu ditutupi Caramel dengan baju kebesaran yang selalu ia gunakan. Caramel bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran pinggiran kota Jakarta. Ibunya seorang penjual kue keliling, ayahnya telah meninggal dunia, dan ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Devon Setiaji yang kesehatannya juga kurang baik.  Devon menderita penyakit leukemia. Setiap satu minggu sekali, Devon harus melakukan cuci darah yang membutuhkan biaya yang tidak murah. Hutang keluarga Caramel kepada rentenir bernama Jarot kian membengkak. Untuk itu, demi kesembuhan dan kesehatan Devon, Caramel bersedia menukar hidupnya dengan menjadi istri keempat dari seorang sugar aki yang membayangkannya saja Caramel sudah bergidik ngeri. Caramel hanyalah lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas). Gajinya yang tidak seberap
Read more
Bab 2 Menebus Kesalahan
Keesokan HarinyaSehari setelah kepergian Ningsih adalah hari pernikahan Caramel dengan Jarot si rentenir kejam. Caramel terpaksa menerima lamaran lelaki tua itu karena ketidaksanggupannya dalam membayar hutang. Hutangnya begitu banyak, bahkan 10 tahun ia bekerja pun tidak akan mampu untuk melunasinya. Caramel sedang dirias oleh perias pengantin  agar terlihat lebih cantik dan menawan. Sang perias sempat merasa kesal karena Caramel terus menjatuhkan air matanya.“Mbak Caramel, sudah dong nangisnya! Saya capek kalau harus merias ulang wajah mbak terus-terusan,” keluh perias tersebut. “Iya, Mbak. Maaf,” jawab Caramel.“Kak?” panggil Devon mendekati Caramel dan duduk disebelah Caramel. “Iya, Dek?” jawab Caramel dengan memicingkan matanya. “Kakak yakin? Akan melanjutkan pernikahan ini?” tanya Devon. “Kakak tidak punya pilihan lain,
Read more
Bab 3 Kediaman Alexander
Kediaman Alexander   Yuan, Caramel, dan Devon telah sampai di halaman rumah Yuan.  “Kak Yuan, ini rumah Kakak?” tanya Devon polos.  “Bukan! Ini rumah peninggalan papa Kakak,” jawab Yuan santai.  Kemudian Yuan menggiring Caramel dan Devon masuk ke dalamnya. Semua para pengawal dan pembantu tunduk terhadapnya.  Caramel merasa sangat heran. “Sekaya apa sih orang ini? Sampai-sampai semua orang tunduk kepadanya.” Gumam Caramel dalam hatinya.  Mereka telah sampai di ruang keluarga, dan Yuan memanggil seluruh anggota keluarganya.  Semua penghuni nampak bingung dengan kedatangan Caramel dan Devon yang tengah tersenyum kikuk menyapa sang penghuni rumah. Tampilan Caramel yang memakai baju kebesaran, terkesan jauh dari kata modis. Hal itu lah yang membuat penghuni rumah bingung dibuatnya.  Di rumah tersebut dihuni oleh Damitri (ibu Yuan), Selina (adik pertama Yuan), dan Jenn
Read more
Bab 4 Suasana Pagi Hari
Pagi HarinyaMelalui celah jendela kamar, sinar mentari menyeruak masuk ke dalam kamar Yuan. Yuan tersadar dari tidurnya. Ia mendapati sebuah selimut yang menutupi dan menghangatkan tubuhnya. Sekilas Yuan tersenyum, ia yakin pasti Caramel lah yang telah memberi selimut itu untuknya. Yuan melihat ke arah ranjang dan sudah tidak ada Caramel di sana. Yuan bergegas bangun dan mencari keberadaan Caramel di kamar mandi. Namun, tak juga ia temukan. Yuan turun ke lantai bawah, dari kejauhan ia melihat punggung wanita yang sedang dicarinya. Tanpa sadar senyum tipis terurai di bibirnya. Caramel selalu bisa membuatnya kagum dengan sosoknya. Caramel tengah bergelut di dapur dengan beberapa ART di sana. Caramel terlihat sangat nyaman dan bahagia. “Lho, Mas? Kamu sudah bangun?” tanya Caramel lembut setelah menyadari kehadiran Yuan. “Iya. Kamu lagi apa di sini? Tempat ini bukan tempatmu.” Yuan menyelidik. “Aku sedang menyiapkan sara
Read more
Bab 5 Kepergian Devon
Di Halaman Rumah YuanBim! Bim! Bim! Bima meminta sang supir untuk membunyikan klakson mobilnya beberapa kali, itu semua bertujuan agar kehadirannya diketahui oleh sang pemilik rumah. Dari dalam rumah. “Itu pasti om Bima dan tante Sinta, ayo kita keluar!” Yuan mengajak Caramel dan Devon melihat siapa yang tengah membuat keramaian di halaman rumahnya. Yuan, Caramel dan Devon keluar rumah untuk menemui pasangan suami istri yang akan menemani Devon berjuang untuk kembali sembuh. “Hai ... pengantin baru!” sapa Bima dengan melambaikan tangannya. Ia sudah keluar mobil menghampiri Yuan, Caramel dan Devon. Bima dan Yuan saling berpelukan. Om dan ponakan ini sudah seperti anak dan ayah kandung karena kedekatannya. “Om kira kamu nikah sama Evelin. Ternyata bukan. Tapi, enggak kalah cantik sih ini! Pintar juga kamu cari istri!” ucap Bima spontan membuat Caramel yang tadi ter
Read more
Bab 6 Caramel Diusir
Setelah kepergian Bima, Sinta dan Devon, Yuan ikut berpamitan kepada Caramel untuk berangkat kerja ke kantor. Caramel merasa kesepian, ia bingung harus melakukan aktivitas apa saat Yuan dan Devon tidak ada di rumah. Caramel berjalan-jalan mengelilingi rumah. Beberapa kali ia disapa oleh banyak pembantu yang ada di rumah Yuan. Caramel membalasnya dengan ramah dan senyuman yang menawan. Hiruk pikuknya kota Jakarta yang terkenal dengan kemacetan nya, ternyata masih ada tempat yang begitu asri dan cukup jauh dari keramaian. Suasana yang sejuk, tenang, dan di sekitar rumah yang di tempati keluarga Yuan, hanya ada beberapa rumah saja. Tidak padat penduduk seperti kota jakarta pada umumnya. Di balik rumah tampak depan yang begitu megah, terdapat taman tersembunyi di balik rumah yang tak kalah indah. Caramel ingin membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. “Anda mau ke mana, Nona?” tegur salah seorang penjaga rumah bernama Santoso.
Read more
Bab 7 Bermalam Bersama
Di Kantor Tring! Suara ponsel Yuan berdering tanda adanya pesan masuk dari seseorang. Yuan sedang menatap monitor laptop dan mengerjakan beberapa file hingga ia mengabaikan pesan tersebut. Yuan masih terus bergelut dengan pekerjaan dan mengabaikan ponselnya. Karena jika bukan sebuah panggilan maka Yuan tidak akan menanggapinya. Pekerjaan Yuan sangat banyak, hingga ia tidak sempat membuka ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi dia belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini Yuan lembur, karena akan ada proyek besar yang menanti dan Yuan harus mempersiapkan segala sesuatunya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu. “Masuk!” jawab Yuan masih terfokus dengan laptop yang ada di depannya. “Sudah jam 8 malam, Tuan. Apa tidak sebaiknya Tuan pulang saja dan melanjutkan pekerjaan besok? Saya khawatir Nona Caramel sedang menunggu anda dengan perasaan cemas,
Read more
Bab 8 Saling Menggoda
Keesokan Harinya Di Rumah Caramel Tadi malam, benar-benar menjadi malam yang cukup melelahkan untuk Yuan dan Caramel. Meskipun tidak melakukan aktivitas berat, tetapi dengan posisi tidur yang kurang leluasa membuat semua anggota tubuhnya terasa sakit. Selain ukuran ranjang Caramel yang cukup kecil, bertambahnya tumpukan guling semakin memakan tempat, hal itu membuat Yuan beberapa kali jatuh ke lantai. Karena merasa kesal, akhirnya Yuan membuang semua tumpukan guling itu dan ia bisa tidur dengan sedikit lega. Saat kedua insan itu terbangun bersama-sama, sebuah teriakan keduanya sangat nyaring dan membuat Caramel seketika menghindar hingga tubuhnya terpental. “Mas? Mas, kok tidur peluk-peluk aku?”“Mana aku tau!” bantah Yuan. “Tumpukan guling yang ditengah sini di mana?”“Aku buang! Habisnya sempit sekali. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Lihat! Badanku jadi sakit semua. Man
Read more
Bab 9 Saling Membuka Hati
Rumah Caramel Setelah kejadian pagi yang cukup membuat tidak nyaman, Caramel segera melupakannya dengan cara memasak. Ia memasak untuk sarapan Yuan dan juga dirinya. “Mau aku bantu?” tawar Yuan. “Tidak usah, Mas. Aku bisa kerjakan sendiri. Lebih baik Mas duduk aja di sana. Mas mau aku buatkan apa? Kopi atau teh?” Caramel menawari Yuan sembari mencuci ayam yang telah ia potong-potong. “Em … aku mau susu!” jawab Yuan dengan sedikit mendekatkan bibirnya di telinga Caramel. Caramel yang mendapat bisikan seperti itu seketika bulu kuduknya meremang. Suara Yuan terdengar sangat sexy menurut Caramel. “Tapi susunya enggak ada, Mas. Aku belum sempat beli. Nanti aku balikan di warung,” jawab Caramel dengan sedikit menghindar. Yuan semakin senang melihat Caramel yang terjerat dalam godaannya. Ia sendiri bingung, mengapa bisa seagresif itu saat
Read more
Bab 10 Merubah Penampilan
Setelah Yuan berangkat kerja, Caramel kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia sarapan sejenak lalu setelah itu membersihkan rumah. Caramel melakukan aktivitas menyapu, mengepel, mencuci baju seperti kebiasaannya dulu. Setelah menyelesaikan semuanya, Caramel merebahkan tubuhnya untuk isitirahat. Karena merasa lelah, Caramel tertidur dengan sangat mudah. *** Sore hari pukul 4 soreBekerja seharian dengan menghadap layar laptop, ditambah dengan klien yang sedikit rewel membuat Yuan merasakan penat dalam tubuhnya. Tidak hanya capek badan tapi juga capek pikiran. Menghadapi klien yang kadang tidak sejalan dengan pemikiran itu membuat Yuan kerja keras untuk kembali menjelaskan dan menemukan titik terang. Tetapi, dengan kemampuannya, Yuan selalu mampu membuat klien itu mengerti hingga mengajukan kerja sama. Perusahaan yang Yuan pimpin bergerak pada lini teknologi informasi, alat berat, otomotif, dan lain sebagainya.Karena s
Read more
DMCA.com Protection Status