Catalog
51 chapters
Utang Piutang
(Prolog)"Tolong, jangan sentuh aku!" lirihku, seraya meremas dan menutup rapat kerah baju kemeja putih yang aku kenakan."Kenapa? Kamu sudah saya bayar, jadi saya berhak atas tubuh kamu!" jawabannya dengan enteng.Dia mendekati ranjang, lalu tangan kekarnya terulur, dengan lembut Pria itu memegang daguku, ku tatap wajahnya sekilas lalu ku tundukkan kembali wajah ini. Aku semakin takut padanya, ku bergeser ke belakang duduk meringkuk menyenderkan punggung di kepala ranjang, nafas ini tersengal, rasanya dada ku sesak, melihat tatapan matanya yang liar dan beringas, seperti macan yang kelaparan dan akan segera menerkam mangsanya. "Tolong Tuan, saya mohon jangan sentuh saya!" rengekku, sambil menggeleng pelan. "Kalau kamu tidak mau saya sentuh, kenapa kamu berada di sini? Bukannya kamu sendiri yang datang, dan meminta pekerjaan pada saya, untuk mendapatkan uang dengan mudah,""Tapi bukan pekerja'an seperti ini yang saya mau, Anda sudah me
Read more
Uang Jajan 5 Ribu
Aku berdiri di hadapan ibu, ku membungkukan badan seraya memegang kedua bahunya yang kurus, ku tatap lekat-lekat wajah perempuan yang sangat ku sayangi itu, dengan tatapan penuh kasih."Bu, aku akan cari uang! bagaimana pun caranya, agar aku bisa melunasi hutang-hutang kita, pada rentenir kejam itu, tapi aku minta izin dari ibu! Untuk pergi mencari pekerjaan di kota besar!" ucap ku penuh harap."Tapi Nak, ibu gak mau kamu jauh dari sisi ibu! Kamu anak perempuan ibu satu-satunya, ibu khawatir kalau kamu pergi ke kota besar, kamu mau ikut siapa di sana Nak? Kamu anak gadis ibu, ibu takut terjadi apa-apa dengan kamu," jawab ibu sambil menangkup pipi kiri ku. Aku mendeku di hadapannya seraya mendongakkan wajah."Bu." Ku raih tangan ibu dan menggenggamnya, ku tatap wajah ibu lekat-lekat. "Ibu percaya sama aku! Aku gak akan melakukan hal di luar batas, apalagi melakukan hal yang di larang oleh agama." Aku meyakinkan ibu."Sudah Silvi! ibu mau berangkat dagang dulu,
Read more
Sahabat Lama
Aku masih berkutat dengan pekerjaan rumah, menjemur pakaian baru saja selesai, mentari lumayan terik, sehingga keringat pun bercucuran sebesar biji jagung, ku mengusap pipi tirus ku yang basah dengan keringat. "Huh, capek." Ku bergumam sendiri menumpu satu tangan di pinggang, tanganku yang lain menyibak anak rambut, dan ku selipkan di belakang telinga."Tinggal nyapu lah," ucap ku sambil berjalan menuju samping rumah, untuk mengambil sapu lidi dan pengki yang teronggok di pinggir tembok rumah. Ku menyapu halaman yang masih sedikit basah sisa hujan semalam.Daun ceremai yang gugur karena terpaan air hujan dan angin kencang membuat daun keringnya berserakan di mana-mana, baru saja setengah halaman aku sudah letih, ku berdiri dan meletakkan kedua tangan di pinggang sambil menggerakkan badan."Ini daun... Kurang ajar amat sih," umpat ku sedikit berteriak. Aku kesal karena susah di sapu tanahnya basah daunnya menempel dan lengket hingga sangat sulit untuk di
Read more
Merantau
Aku melongok dari kaca jendela mobil yang aku tumpangi, pandangan ku mengedar ke sekeliling jalanan berharap bisa bertemu ibu sebelum berangkat ke ibu kota. Dari kejauhan aku melihat sosok yang sangat aku kenal menggendong bakul dan menjinjing box, tubuh kurusnya di balut gamis maroon yang lusuh dan kerudung bergo hitam. Dia adalah ibuku."Nab, Nab, itu ibu," ucapku, pandanganku tertahan ke arah ibu sambil menarik-narik tangan Nabila."Kak, berhenti! Silvi mau pamitan dulu pada ibunya!" pinta Nabila pada kakaknya. Mobil pun menepi di pinggir jalan dekat mushola. Aku membuka pintu dan segera keluar dari mobil."Ibu..." Panggil ku sambil berteriak dan berlari ke arahnya, aku takut ibu keburu jauh, ibu pun menghentikan langkahnya ia menatapku lalu meletakan box plastik di dekat kakinya."Silvi." Ibu merentangkan kedua tangannya ke arah ku, dengan cepat aku menjatuhkan tubuh ke pelukannya."Ibu,""Nak, kamu benar-benar akan pergi!" Aku mengangguk.&nbs
Read more
Cari Kerja
"Sil, Silvi," samar-samar ada suara yang memanggil namaku. "Bangun!" lanjutnya. Akupun mengerjap sambil mengucek mata."Iyah, ada apa?" sahutku, rupanya aku ketiduran di dalam mobil, aku sangat letih semalaman tak bisa tidur, karena memikirkan aku akan pergi meninggalkan Ibu dan Adik-adik ku, sehingga mataku terjaga sepanjang malam."Silvi, kita udah sampai, ayo turun!" ucap Nabila seraya membuka pintu mobil sampingnya, dia pun keluar, sementara Mas Andri dan Mbak Karina sudah turun dan masuk duluan ke dalam rumah."Oh, kita udah sampai ya?" tanya ku pada Nabila, nyawaku belum sepenuhnya sadar, efek tidur yang nanggung cuma beberapa menit, akupun turun mengikuti dia dari belakang, sambil menggendong tas ransel ku.Rumah minimalis dinding tembok warna abu-abu, rumah mungil sederhana namun sangat nyaman, ku berpijak di jalan konblok halaman rumah ini, kanan dan kiri jalan yang kupijak tanaman hias yang hijau nan indah sehingga menghadirkan nuansa asri."S
Read more
Jauh Berbeda
Di meja makan sudah tersaji nasi putih ayam goreng dan cumi pedas manis juga sup ayam jamur, sebagai pelengkap lalapan selada air mentimun dan sambal goreng, minumannya jus buah, dan untuk cuci mulut beberapa jenis buah tersedia di meja makan, mangga yang tadi kami kupas pun ikut serta di hadapan kami.Jauh berbeda dengan menu setiap hari di rumah ku, setiap pagi aku sarapan nasi uduk sama bihun goreng, tempe orek, kerupuk udang, makan siang alakadarnya kalau ada telur sisa ibu jualan, ya kami makan telur meski satu butir di bagi dua, makan malam tumis-tumisan jarang sekali kami makan ayam apalagi lauk yang enak mungkin tidak pernah.Ya Tuhan... Apa-apaan aku ini masih saja membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan ku, yang jauh berbeda. Aku mengusap wajah, menyadarkan diri ini yang terhanyut dalam lamunan. Masih beruntung aku bisa makan 3 kali sehari walaupun makan seadanya, di luaran sana masih banyak orang yang ketemu nasi hanya sekali sehari, ba
Read more
Melamar Kerja
15 menit perjalanan kami lalui, menuju tempat yang di janjikan oleh Mbak Karina. Mas Andri mengurangi laju kendaraannya, lalu membelokan mobilnya dan menepi di halaman sebuah bangunan. Aku melongok dari kaca jendela mobil mataku mengedar keluar, tempatnya sangat asing bagiku."Mbak, emang kita sudah sampai?" tanya ku pada Mbak Karina yang duduk di kursi depan samping Mas Andri.Mbak Karina memutar tubuhnya menoleh padaku, "Iya Sil, kita sudah sampai, sekarang kita turun yuk!" ajak Mbak Karina sambil menganggukkan kepala."Iya Mbak." Akupun membuka pintu mobil dan turun ku seret koper berisi baju-baju pemberian Mbak Karina, aku mendongak menatap papan nama yang terpampang di atas kanopi, (Maya coffe shop). Aku langsung menyimpulkan bahwa pemilik tempat ini bernama Maya.Kami bertiga berjalan menaiki undakan tangga menuju pintu. Aku berjalan paling belakang mengikuti Mbak Karina, Mas Andri mendorong pintu kaca yang masih ada tulisan tutup yang menempel di kaca.
Read more
Hari Pertama
Ku kenakan baju seragam kemeja lengan pendek hitam kombinasi warna merah di sisi kanan nya, dan celana jeans hitam, rambut panjang ku, ku ikat kuncir kuda, lalu ku buka pintu toilet, aku keluar berdiri di depan lorong toilet dan musholla. Ku pejamkan mata sejenak menetralkan rasa gugup, karena hari ini adalah hari pertama ku bekerja, dan akan berhadapan dengan orang banyak.Meski gaji yang di janjikan hanya 3,5 juta perbulan namun aku tetap bersyukur, tekad ku mencari kerja tak lain hanya untuk membahagiakan keluarga dan membatu ibu melunasi hutangnya ke rentenir, walaupun gajiku sebulan takkan cukup untuk membayar hutang, tapi aku akan fikirkan nanti, aku percaya semua masalah pasti ada jalan keluarnya, yang penting kita berusaha.Ku berdoa semoga di hari pertama ku ini bekerja, aku di berikan kelancaran oleh Tuhan, agar aku bisa menjalankan tugas dan melayani para pengunjung dengan baik, semoga saja aku bisa di percaya oleh Bu Maya yaitu Bos baru ku.Pukul 10 pag
Read more
Jadi Pelayan
"Bu," ucapku pada perempuan yang bertugas sebagai kepala bagian dapur, "Ini Bu, ada yang pesan lasagna!""Oh, iya," sahutnya menoleh ke arahku, dan mengambil kertas catatan dari tangan ku, dia pun menginformasikan kepada asisten chef, lalu ia kembali fokus mengecek makanan sebelum di antar oleh para waiters, ke meja pelanggan."Sil, antarkan dulu makanan ini ke meja Nomor 13! Sambil menunggu lasagna siap di sajikan!" titah kepala bagian."Baik Bu."Akupun mengangguk patuh, dan mengambil nampan dengan piring berisi kentang goreng saus keju, dengan toping keju parut di atasnya, juga segelas minuman dingin, dari tampilannya nampak begitu segar, rasanya ingin sekali aku meneguknya.Jangankan pernah meminumnya, melihatnya saja baru kali ini dalam seumur hidupku, rasanya seperti apa aku tak tau? membuat kerongkonganku semakin dahagaku. Aku hanya bisa menelan ludah.Aku keluar dari dapur sambil berjalan menuju meja Nomor 13, sesuai yang di perintahkan ol
Read more
Rumah Kontrakan
Pukul 12.30 siang, tubuhku sangat lelah, dari pertama datang ke sini belum sempat istirahat walau sejenak, Sementara karyawan yang lain sudah istirahat bergantian, namun aku belum mendapatkan giliran, karena Bu Ema belum juga menyuruh ku.Aku tak berani meminta izin padanya karena aku anak baru, ya aku sedisuruh nya saja, meski letih namun aku harus menjalani pekerjaan ku dengan tuntas. Setelah mengantarkan pesanan aku kembali ke dapur, duduk menekuk lutut seraya menyenderkan punggung di tembok untuk menghilangkan rasa lelah, sambil melihat Bapak koki yang masih sibuk memasak."Silvi." Bu Ema datang menghampiri dan berdiri di samping ku."I, iya Bu." Aku terperanjat, berdiri dengan gerakan cepat, merapatkan tangan dan kakiku sambil merundukan kepala, "Apa, ada tugas lagi untuk saya Bu?""Gak ada, Sil, istirahat dulu sana! Kamu pasti sudah lapar kan?""Iya Bu,""Sil, Waktu istirahat kamu setengah jam ya, Pergunakan dengan baik! Hanya un
Read more
DMCA.com Protection Status