Samudra terperanjat ketika rasa sakit itu kembali menyapanya. Dengan napas yang tersengal, ia mencoba meraih toples obat yang ada di samping tempat tidur. Namun, kali ini rasa sakit itu tidak dapat ditahan lagi. Bagaikan beribu belati yang sangat panas ditancapkan tepat ke jantungnya. Pemuda itu tersungkur ke lantai, meraung-raung kesakitan seraya mencengkram dadanya kuat-kuat. Tubuhnya basah bermandikan keringat yang bulirnya sebesar biji jagung, wajahnya sudah pucat pasi. Oh terlalu banyak beban yang ia pikul sendiri hingga tubuh ringkih nya menyerah dan tumbang. "Bunda, Ayah, Bibi, tolong!" Teriak Samudra sekeras yang ia bisa. Walaupun pada kenyataannya teriakannya itu hanyalah seperti bisikan. Tidak ada yang mendengar permintaan tolong pemuda malang itu, dia semakin merintih kesakitan. Pasokan udara pun semakin sulit untuk ia dapatkan, kelopak matanya semakin terasa berat dan lelah. Samudra ... sekarat. “Tuhan, apakah ini akhir hidup hamba? Jika ini waktunya, tolong jemput ham
Terakhir Diperbarui : 2021-08-04 Baca selengkapnya