Rafa menyentuh dadanya yang mendadak sesak, langkahnya mundur satu tapak hingga tubuh tambunnya hampir menabrak kursi. Matanya membelalak lebar, memantulkan bayangan Helena dan Cla yang kini berdiri dengan keangkuhan yang sangat familiar, keangkuhan darah Rifai Djatmiko."Helena... Clarissa..." gumam Rafa dengan suara serak yang tertahan di kerongkongan. "Kalian... bagaimana mungkin...""Bagaimana mungkin kami masih hidup?" potong Helena dengan nada dingin menyindir.Bibirnya mengukir senyum penuh kemenangan saat melihat wajah pria paruh baya di hadapannya pucat bagaikan mayat. "Atau bagaimana mungkin anak-anak dari pria yang Paman hancurkan sepuluh tahun lalu, kini berdiri dan akan mengambil perusahaan Paman?"Stevani di samping ayahnya memekik kaget, menggelengkan kepala secara histeris sembari menunjuk Cla. "Tidak! Ini mustahil. Kamu cuma wanita biasa yang memanipulasi Tuan David! Papa, katakan kalau semua ini bohong!""Tutup mulutmu, Stevani!" gertak Rafa dengan suara gemetar, k
Magbasa pa