Malam itu, setelah badai amuk massa mereda, rumah persembunyian itu kembali sunyi, namun kesunyiannya terasa berat. Pecahan kaca di ruang tamu sudah dibersihkan, tetapi bekas lemparan batu di dinding luar masih menyisakan trauma. Di dalam kamar, Utari menggelar sajadah tipis yang ia bawa dari kampung. Ia bersimpuh, mengadu pada Tuhan dalam isak tangis yang tertahan. "Ya Allah... jika anak ini adalah ujian, kuatkan hamba. Jika ia adalah anugerah, lindungilah ia dari kebencian dunia," bisiknya lirih di akhir sujudnya. Utari baru saja melipat mukenanya ketika pintu kamar terbuka. Tuan Darsa masuk dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak sangat lelah. Dasi hitamnya sudah tanggal, dan kancing kemeja atasnya terbuka. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Utari dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu masih berdoa untukku, Utari? Setelah semua kekacauan yang aku bawa ke hidupmu?" tanya Darsa serak. Utari mendekat, dudu
Baca selengkapnya