Suasana di dalam villa mewah itu kini terasa jauh lebih sunyi, namun mencekam. Sesuai janjinya, Tuan Darsa bergerak cepat. Sore itu juga, sebuah mobil jemputan khusus dikirim ke kampung untuk mengambil Ajeng. Utari hanya bisa mematung di balik jendela besar lantai dua, menatap gerbang tinggi yang kini dijaga oleh dua pria berbadan tegap. Ia telah resmi menjadi tawanan. Tawanan yang mengenakan gaun sutra, namun tetap saja tawanan. "Sudah saya katakan, Utari. Keselamatan Ajeng adalah prioritas saya, selama kamu kooperatif," suara Darsa memecah keheningan. Pria itu baru saja masuk ke kamar, melepaskan dasinya dengan gerakan elegan yang maskulin. Utari berbalik, matanya sembab. "Apa Ajeng sudah sampai di asrama, Tuan? Bolehkah Utari bicara dengannya sebentar saja?" Darsa berjalan mendekat, jemarinya mengusap pipi Utari yang dingin. "Dia aman. Tapi untuk sementara, kalian tidak boleh berkomunikasi. Saya tidak ingin lokasi asramanya bocor ke tangan penagih hutang bapakmu—atau ke teling
Baca selengkapnya