Pagi harinya, suasana di Mansion Munthe terasa sangat tenang namun fungsional. Sakha sudah bangun lebih awal, duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke laut dengan laptop militer di pangkuannya. Meski kakinya masih dibalut perban, ketajaman matanya menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berperang. Di sampingnya, Meera berdiri dengan tatapan cemas, menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan rekaman suara Tante Rosa. Bayangan tentang bagaimana tantenya itu sering memamerkan perhiasan mahal dan meremehkan Sakha di setiap acara makan malam keluarga, menyebut suaminya sebagai pria miskin, kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. "Minumlah tehmu, Meera. Kamu butuh energi untuk besok," ujar Sakha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku masih tidak habis pikir, Sakha," gumam Meera. "Ibu mertuamu, maksudku ibuku, yang selalu memuja Tante Rosa karena kepintarannya mengelola uang perusahaan. Ternyata, uang itu berasal dari penghianatan terhad
Read more