Mag-log inSakha, pria yang beruntung bisa menikah dengan cucu dari keluarga kaya raya yang tak lain adalah Keluarga Mahesa. Meskipun berulang kali dihina dan dicaci maki oleh orang-orang, karena Sakha termasuk orang miskin. Namun, ternyata Sakha menyimpan semua rahasia yang belum mereka ketahui tak terkecuali istrinya sendiri. Bagaimana kah kelanjutan ceritanya?
view moreKeheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Siska, yang tadi berdiri hendak menampar Meera, kini mematung dengan tangan menggantung di udara. Matanya melotot menatap Sakha, seolah sedang melihat hantu yang mengenakan mahkota. Bibirnya bergetar, mencoba mengeluarkan kata-kata, namun hanya suara desis yang keluar. "S-Sakha? Kamu bilang... Munthe?" Suara Siska akhirnya pecah, melengking dengan nada tidak percaya. "Jangan membual! Kamu hanya menantu sampah yang miskin tidak berguna! Kamu hanya sampah yang numpang hidup di rumahku!" Sakha tidak tergerak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Direktur Utama, menyilangkan kaki dengan elegan. Gerakannya begitu halus namun penuh intimidasi. Di belakangnya, para pengawal Munthe Group berdiri seperti patung baja, tangan mereka berada di dekat senjata, siap bertindak jika ada satu gerakan mencurigakan. "Tidak berguna?" Sakha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Ibu mertua, alasan aku tetap diam saat kamu menghinaku
Pagi hari menjelang rapat darurat keluarga Mahesa, Mansion Munthe disibukkan dengan persiapan yang tenang namun mematikan. Sakha berdiri di depan cermin besar, membiarkan seorang pelayan senior merapikan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dijahit khusus di London. Di kerah jasnya, tersemat pin emas kecil berbentuk huruf M yang dikelilingi berlian hitam, simbol tertinggi kekuasaan Munthe Group. Meera berdiri di ambang pintu, terpaku melihat transformasi suaminya. Tidak ada lagi kaos oblong pudar atau sandal jepit yang biasa Sakha gunakan saat disuruh ibunya membeli garam di warung. Pria di depannya kini memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga udara di dalam ruangan terasa lebih berat. "Meera, kemarilah," panggil Sakha, suaranya berat dan penuh wibawa. Meera melangkah mendekat. Sakha mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari sakunya. Di dalamnya terdapat kalung berlian yang berkilau indah. Dengan lembut, Sakha memakaikannya di leher Meera. "Hari ini,
Pagi harinya, suasana di Mansion Munthe terasa sangat tenang namun fungsional. Sakha sudah bangun lebih awal, duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke laut dengan laptop militer di pangkuannya. Meski kakinya masih dibalut perban, ketajaman matanya menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berperang. Di sampingnya, Meera berdiri dengan tatapan cemas, menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan rekaman suara Tante Rosa. Bayangan tentang bagaimana tantenya itu sering memamerkan perhiasan mahal dan meremehkan Sakha di setiap acara makan malam keluarga, menyebut suaminya sebagai pria miskin, kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. "Minumlah tehmu, Meera. Kamu butuh energi untuk besok," ujar Sakha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku masih tidak habis pikir, Sakha," gumam Meera. "Ibu mertuamu, maksudku ibuku, yang selalu memuja Tante Rosa karena kepintarannya mengelola uang perusahaan. Ternyata, uang itu berasal dari penghianatan terhad
Udara di dalam gudang logistik Mahesa semakin menyesakkan. Bau gas metana yang menyengat kini bercampur dengan aroma hangus dari kabel-kabel yang terbakar akibat peretasan sistem oleh wanita misterius itu. Suasana kacau balau; tim taktis Munthe Group berusaha menahan serangan dari penembak runduk di langit-langit, sementara getaran dari bawah tanah semakin hebat, seolah-olah ada monster yang berusaha mendobrak keluar dari perut bumi. Meera ditarik paksa oleh dua anggota tim keamanan elit menuju pintu keluar yang telah hancur. Langkahnya tertatih, matanya terus menoleh ke belakang, menatap sosok Sakha yang kian menjauh dan menghilang di balik kepulan asap tebal. "Sakha! Kembali!" teriak Meera. Suaranya serak, tenggelam di antara dentuman tembakan. Namun, Sakha tidak menoleh. Bagi Sakha, ini bukan sekadar tentang menyelamatkan aset atau menghentikan Armand. Ini adalah tentang menebus tahun-tahun di mana ia harus diam melihat keluarga Mahesa disusupi dari dalam. Jika gudang ini mel
Suara gemuruh dari runtuhnya lift servis menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke permukaan. Debu semen dan serpihan beton menghujani ruang kontrol bawah tanah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan. Sakha terlempar dari kursi kontrol, bahunya menghantam sudut meja besi dengan keras hin
Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di pinggiran kota, Armand duduk di depan deretan layar monitor resolusi tinggi. Armand menyesap wine merahnya sambil tersenyum lebar melihat drama yang terjadi di layar. Kamera tersembunyi di ruangan Meera masih berfungsi, memberikan sudut pandang sempurna da
Sakha duduk bersama Meera dan Elsa, dan Gerald mengikuti dan duduk di samping Elsa.Begitu Gerald duduk, dia tersenyum dan bertanya kepada Elsa. “Elsa, aku dengar kamu datang ke kota B kali ini untuk bekerja di Munthe Group?”Elsa mengangguk membe
Melihat bahwa Sakha telah menyetujui pertemuan teman sekelasnya, Meera mengingatkan Sakha. “Kita harus menyiapkan beberapa hadiah untuk pembukaan Stefan Hotel. Kita tidak bisa pergi dengan tangan kosong, Sakha.”Sakha mengangguk dan berkata, &ldqu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore