LOGINSakha, pria yang beruntung bisa menikah dengan cucu dari keluarga kaya raya yang tak lain adalah Keluarga Mahesa. Meskipun berulang kali dihina dan dicaci maki oleh orang-orang, karena Sakha termasuk orang miskin. Namun, ternyata Sakha menyimpan semua rahasia yang belum mereka ketahui tak terkecuali istrinya sendiri. Bagaimana kah kelanjutan ceritanya?
View MoreDi seberang jalan, ada seorang pemuda yang sedang membantu pria paruh baya yang kesusahan untuk menyebrang. Dengan gerak gesit pemuda itu menggandeng dan membantu pria paruh baya itu.
"Tuan, anda sebenarnya mau ke mana?" tanya Sakha menatap lelaki paruh baya itu dengan kening mengerut.
Lelaki paruh baya itu tersenyum kecil. "Saya ingin membeli sebuah bunga untuk cucu perempuan saya. Anak muda, kamu bisa bantu saya?" tanya lelaki paruh baya itu.
Sakha menganggukkan kepalanya cepat. "Sangat bisa, Tuan. Mari, saya bantu anda menyebrang ke toko bunga itu."
Sakha menggandeng pria paruh baya itu. Bunyi klakson mobil pun saling bersahutan, padahal terik matahari sangat menyengat sekali. Dan mereka menyebrang dengan selamat.
Pria paruh baya itu menepuk bahu Sakha pelan. "Terima kasih, anak muda."
"Kembali kasih, Tuan. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Sakha.
Kalinda, nama dari pria paruh baya itu. Ia tersenyum simpul dengan mata berbinar menatap Sakha.
Kalinda tersenyum sambil bergumam dalam hatinya. "Hem, dia bisa masuk salah satu kandidat calon suami untuk cucu perempuan ku."
Tring ...!
Bunyi lonceng yang bergetar akibat goyangan pintu berdengung di dalam toko bunga. Seorang penjaga toko langsung menghampiri Kalinda penuh dengan hormat
"Selamat datang, Tuan besar Mahesa. Sungguh penghormatan bagi toko saya didatangi oleh Tuan besar Mahesa," sapa penjaga toko sambil membungkukkan tubuhnya penuh hormat.
Kalinda hanya merespon dengan berdeham dingin. "Aku butuh bunga Lily. Cepat, cari 'kan bunga Lily terbagus yang kamu punya!"
Penjaga toko bunga tubuhnya bergetar ketakutan. Ia pun lantas langsung bergegas mencari bunga Lily yang dipesan oleh tuan besar Mahesa.
Siapa orang tidak mengenal Kalinda Mahesa? Sosok lelaki bagaikan seorang raja dalam segala hal apa pun.
Kekayaannya sungguh diluar batas, tetapi masih kalau jauh di bawah atas nama keluarga besar Munthe.
Keluarga Munthe bagaikan naungan seluruh kekayaan yang di tampung dari kota A dan kota B. Sedangkan kekayaan keluarga Mahesa adalah cabang dari kekayaan keluarga Munthe.
Namun, sayang. Telah dikabarkan bahwa penerus keluarga Munthe sudah hilang dan tidak ada lagi penerus perusahaan dan kekayaan yang mereka miliki.
Padahal Kalinda Mahesa sudah memiliki maksud untuk melakukan kerja sama dengan menjodohkan salah satu cucunya pada keluarga Munthe. Namun, semuanya akan menjadi sia-sia.
"Tuan besar Mahesa, ini bunga Lily yang kami punya di toko ini. Anda tidak perlu membayarnya, karena kami memberikan bunga Lily ini secara percuma," kata penjaga toko sambil menyodorkan sebuket bunga Lily pada Kalinda Mahesa.
Kening Kalinda Mahesa mengerut hingga bergelombang. Mata tajamnya menatap dingin penjaga toko bunga itu. Lalu, ia berkata dengan ketus. "Kamu kira saya ini orang tidak mampu yang suka meminta-minta seperti pengemis, hah?!"
Penjaga toko bunga hampir tersedak ludahnya. "Tuan besar Mahesa, saya tidak bermaksud seperti itu," ucap penjaga toko bunga yang menggigil ketakutan.
"Baiklah, kalau begitu kau tunjukan rumah orang yang baru saja membantuku menyebrang!"
***
Kejadian empat tahun lalu terkenang di otak Sakha. Ia meremas gugup kedua tangannya untuk masuk ke dalam villa keluarga istrinya. Ia sangat tahu kalau kehadirannya sangat tidak dibutuhkan di sana, tetapi ia butuh bantuan seseorang segera mungkin.
Sakha pun langsung melangkah masuk ke dalam villa, setelah memantapkan dirinya.Banyak suara anak, cucu, dan saudara yang berlomba-lomba mencari perhatian Nyonya Mahesa dengan cara memberikan hadiah yang sangat fantastis.“Nenek, kudengar kamu sedang mengincar tas Gucci seperti ini, kan? Harganya memang fantastis, tetapi aku rela mengocek dompetku untuk memberikan hadiah ulang tahunmu dengan menggunakan tas Gucci ini."Nyonya Mahesa yang terlihat masih muda tertawa bahagia melihat berbagai hadiah di hadapan, membuat seluruh keluarga bahagia.Suara derap langkah sepatu menantu tertua Nyonya Mahesa, yang tak lain adalah Sakha tiba-tiba berlutut di bawah kaki Nyonya Mahesa.“Mohon maaf atas kelancangan saya, Nek. Bisakah kamu meminjamkan saya uang enam juta? Bibi Lena dari panti asuhan sedang dirawat di rumah sakit, beliau butuh biaya untuk membayar ruangan dan berobat."Seluruh keluarga Mahesa terkejut. Semua orang memandang Sakha dengan mata yang terbelalak lebar.Sakha sudah sangat kelewat batas, karena Sakha adalah menantu yang masih menumpang di rumah Nyonya Mahesa.Empat tahun lalu, Tuan Mahesa yang masih hidup, tidak tahu dari mana menemukan Sakha dan bersikeras untuk menikahkan cucu tertuanya, yang bernama Laumeera Arindita Mahesa. Saat itu, Sakha tidak punya uang, seperti pengemis, sama seperti sekarang.
Setelah keduanya menikah, Tuan Mahesa meninggal. Sejak saat itu, keluarga Mahesa dengan sengaja berusaha mengusir Sakha Hanya saja Sakha memilih cuek dan tidak perduli dengan hinaan orang-orang lain.Sakha pun terpaksa meminjam uang pada ibu kandung dari ibu mertuanya. Bibi Lena dari panti asuhan tempat dia dirawat dan diselamatkan, menderita demam berdarah.
Sakha merasa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Nyonya Mahesa. Dan berpikir kalau Nyonya Mahesa mungkin sedang baik hati dan bersedia membantu ketika dia bahagia.Mansion megah keluarga Munthe berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Arsitekturnya yang bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram memberikan kesan misterius sekaligus berkuasa. Meera melangkah turun dari mobil, matanya tak henti memandangi barisan pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat saat ia dan Sakha lewat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda. Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pria tua dengan setelan kepala pelayan yang sangat rapi. Meera merasa canggung. Panggilan "Nona Muda" terasa begitu asing di telinganya, padahal di keluarga Mahesa, ia sering dipanggil dengan nada merendahkan jika pekerjaannya di kantor dianggap tidak becus oleh saudara-saudaranya. Meera memperhatikan Sakha yang kini duduk di kursi roda elektrik, wajah suaminya masih pucat namun tatapannya tetap tajam, memerintah setiap pergerakan di rumah itu tanpa perlu banyak kata. Setelah tim medis pribadi Sakha selesai menjahit luka di pa
Guncangan di area pelabuhan berangsur mereda, menyisakan debu-debu yang menari di bawah sorot lampu taktis. Meera masih berlutut di atas aspal yang kasar, napasnya tersengal seolah separuh paru-parunya baru saja dikembalikan setelah mendengar suara Sakha di radio. Tanpa memedulikan rasa sakit di lututnya yang lecet, ia bangkit dan berlari mengikuti tim taktis yang bergerak cepat menuju arah drainase timur. "Sakha! Sakha!" Meera memanggil berkali-kali, suaranya parau tertiup angin laut yang dingin. Di ujung dermaga tua yang sudah lapuk, sebuah penutup beton drainase raksasa terbuka dengan dentuman keras. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang bersimbah darah dan kotoran muncul, mencengkeram tepian semen. Tim taktis segera merapat, menarik tubuh pria yang keluar dari sana. Itu Sakha. Namun, pemandangan di depan mata Meera membuatnya hampir pingsan. Kemeja putih yang tadi dipakai Sakha kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan ada
Suara gemuruh dari runtuhnya lift servis menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke permukaan. Debu semen dan serpihan beton menghujani ruang kontrol bawah tanah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan. Sakha terlempar dari kursi kontrol, bahunya menghantam sudut meja besi dengan keras hingga ia meringis menahan sakit yang menusuk. "Tuan Muda! Tuan Muda Sakha! Jawab saya!" Suara komandan taktis di earpiece Sakha terdengar pecah dan terganggu oleh interferensi frekuensi. Sakha terbatuk, mencoba menghirup udara yang kini terasa seperti menelan pasir. Ia meraba lantai, mencari senjata dan alat komunikasinya yang sempat terlepas. "Aku... aku masih hidup," jawab Sakha serak. Ia mencoba bangkit, namun kaki kirinya tertindih sebuah panel besi yang jatuh. "Jalur keluar utama runtuh. Armand atau wanita itu... mereka memasang jebakan cadangan." "Kami akan mengirim tim evakuasi masuk kembali!" "Jangan!" perintah Sakha tegas, meski suaranya bergetar menahan nyeri di kakinya. "Strukt
Debu dari ledakan pintu utama mulai mengendap, namun ketegangan di dalam gudang itu justru semakin memuncak. Tim taktis Munthe Group telah mengamankan area bawah, memaksa anak buah Armand berlutut dengan tangan di atas kepala. Cahaya laser hijau kini terfokus pada sosok Armand yang masih berdiri kaku di atas balkon. Meera menatap punggung tegap Sakha. Meskipun identitas suaminya sebagai pewaris tunggal Munthe Group sudah terungkap, melihat kekuatan nyata yang digerakkan Sakha dalam sekejap mata tetap membuatnya merinding. Pria yang selama ini sabar menghadapi hinaan ibunya di meja makan, kini berdiri sebagai panglima yang siap menghancurkan musuhnya. "Armand," suara Sakha memecah keheningan, bergema dingin di antara dinding beton. "Kesalahan terbesarmu bukan berkhianat pada ayahku. Tapi berpikir bahwa kamu bisa menyentuh milikku." Armand mencengkeram pagar balkon. Wajahnya yang pucat kini mulai memerah karena amarah yang tertahan. "Milikmu? Kamu bicara soal Meera? Dia adalah Ma
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin dunia yang mulai bergerak lebih cepat. Di kamar, Meera terbangun dengan perasaan aneh. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya karena kontrak yang kini menjadi kenyataan, tapi juga perasaan yang sulit dijelaskan tentang Sakha. Ia menoleh ke sampi
Di ruang utama kediaman Mahesa, semua orang masih berkumpul. Namun kali ini, suasananya berbeda. Jika sebelumnya Meera dipandang rendah. Sekarang, tatapan mereka penuh perhitungan. “Meera…” suara Nyonya Mahesa terdengar lebih lembut dari biasanya. “Kamu harus menceritakan semuanya dengan jelas.
Pria itu menyeringai, meremas wajah Lili, dan bertanya, “Sekarang kamu adalah wanitaku, dan kamu masih akan bersamanya? Wanitaku, tidak boleh biarkan pria lain terlibat! "Lili buru-buru berkata, “Jangan khawatir, Dean, aku tidak membiarkan dia menyentu
Keesokan harinya, Meera bersiap untuk pergi bekerja di pagi hari.Sakha membuatkan sarapan untuknya, menyerahkan kunci mobil BMW, dan berkata, "Ayo kita pergi ke perusahaan hari ini."Meera tidak bisa membantu tetapi berkata, "Mobil yang kamu beli, aku mengemudi untu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews