Kegelapan di gudang tua itu terasa begitu padat, seolah-olah oksigen di sekitar mereka telah digantikan oleh ancaman yang nyata. Meera bisa merasakan otot lengan Sakha yang mengeras di bawah genggamannya. Meski pria ini selama ini dianggap suami sampah yang tidak berguna oleh keluarga Mahesa, di saat seperti ini, aura yang dipancarkan Sakha sama sekali tidak mencerminkan orang miskin. Ia berdiri tegak, setajam pedang yang siap mencabut nyawa, dengan kewaspadaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa hidup di puncak rantai makanan. "Tiga puluh orang," bisik Sakha tiba-tiba. Suaranya sangat rendah, nyaris tak terdengar, namun penuh dengan kepastian matematis. Meera tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Bagaimana kamu tahu?" "Langkah kaki mereka," jawab Sakha dingin. "Tekanan pada lantai beton, ritme pernapasan yang tertahan, dan desis gesekan kain seragam mereka. Armand meremehkanku. Dia pikir aku masih Sakha yang dia kenal sepuluh tahun lalu, seorang pemuda yang hany
Leer más