Keheningan yang menyergap setelah kalimat Arthur terasa lebih menyakitkan daripada tamparan keras di pipi. Shela masih bisa merasakan sisa hangat bibir Arthur di bibirnya, namun kata-kata pria itu barusan terasa seperti es yang membekukan aliran darahnya. Dunia seolah berhenti berputar di depan gerbang kost yang remang-remang itu."Kamu... apa?" suara Shela keluar begitu kecil, nyaris tercekik oleh udara malam yang tiba-tiba terasa menyesakkan.Arthur tidak berani menatap matanya. Pria itu menunduk, memandangi ujung sepatunya dengan bahu yang merosot. "Aku jadian sama Neva, Shel. Tadi sore."Shela melepaskan tangannya dari pipi Arthur seolah-olah kulit pria itu baru saja berubah menjadi bara api yang menghanguskannya. Dia melangkah mundur, satu langkah, dua langkah, hingga punggungnya menabrak pagar besi kost yang dingin. Tawa hambar keluar dari bibir Shela—sebuah tawa yang lebih terdengar seperti rintihan luka."Tadi sore?" ulang Shela dengan nada yang bergetar. "Jadi, alasan ka
Last Updated : 2026-04-25 Read more