Ekspresi Morgan masih terlihat tenang seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali. Sepertinya dia mengangguk dengan sangat kuat. “Yang penting kamu sudah memikirkannya dengan jelas. Aku akan dukung semua keputusanmu!”“Terima kasih!”Entah kenapa, Theresia merasa matanya seperti ditutupi kabut saja, suaranya juga terasa agak serak.Saat ini, kedengaran ada yang memanggil nama Theresia. Dia mengiakan, lalu membalikkan tubuhnya berjalan kembali ke aula. Baru saja berjalan dua langkah, dia menoleh untuk bertanya, “Apa yang mau kamu katakan sama aku tadi?”Morgan menatap Theresia dengan tatapan mendalam. Beberapa saat kemudian, dia baru berkata, “Tidak apa-apa. Kamu sudah bilang, kamu bukan Seven-ku lagi. Kalau begitu, kamu bebas melakukan apa pun, tidak perlu selalu memprioritaskanku.”Tenggorokan Theresia bagai tersangkut sesuatu saja, hatinya malah terasa hampa. “Aku akan selalu mengingat kebaikanmu kepadaku.”Morgan membalikkan tubuhnya. Bayangan punggung tinggi dan kokoh itu membel
Magbasa pa