“Aku minta maaf, Raisa,” ucap Armand dengan suara yang terdengar lebih rendah dari biasanya. Ada gugup, ada penyesalan yang menekan dadanya. Raisa menarik bahunya pelan, melepaskan sentuhan Armand. Senyum kaku itu masih bertahan, tetapi matanya kosong—seolah ia sudah terlalu lelah untuk marah. “Mas tidak perlu minta maaf,” katanya tenang, terlalu tenang. “Aku hanya salah paham.” Ucapan itu justru membuat Armand semakin panik. “Bukan begitu,” Armand menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa antara aku dan Mira. Dia masuk ke ruanganku tanpa izin. Aku—” “Aku melihatnya sendiri, Mas,” potong Raisa lirih. Ia berbalik kembali ke arah jendela. “Aku melihat bagaimana tubuhnya berada di atas tubuh Mas. Itu bukan sesuatu yang bisa disangkal dengan kata-kata.” Armand terdiam. Kata-kata Raisa menusuk lebih dalam karena disampaikan tanpa emosi. Tidak ada tangis, tidak ada bentakan—hanya penerimaan yang terasa seperti menyerah. “Itu tidak seperti yang kamu pikirkan,” ujar Armand akhirnya,
Read more