Aku terhenyak seketika. Merasa dunia seperti berhenti berputar. Aku terlambat ya Allah. Tatapan sayang Kak Luna,hanya menambah luka dihatiku. Aku terluka mendengar sepotong kalimat itu. Ayahku meninggal dunia. "Kakak bercanda kan?" Tanyaku padanya, berharap, dia akan bilang 'Iya. Kakak bercanda aja kok' Melihat reaksiku, Kak Luna tersenyum lagi. "Gak apa-apa Dek. Gak apa-apa. Kata Mbak Melisa, beliau sempat bangun, terus ngomong sama Kak Melisa. Papa gak ragu pergi sekarang, Nak. Adek-adek kamu sudah maafin Papa. Kamu udah maafin Ayah kan, Cha?" Aku terhenyak lagi. Ayah ... Jadi, itu cara Allah menjawab doanya, dan melunakkan hatiku. Tapi, aku butuh ayah memelukku sekali lagi. Atau, yah ... Ayah bisa menikahkan aku sama pria pilihannya. Aku menunduk. Diam seribu bahasa. Namun air mataku menetes dengan deras. Aku berdiri tanpa kata, tanpa pamit, berjalan keluar dari rumah Kak Acha. Tubuhku yang terbawa oleh otak yang sedang diterjang kebingungan, kemudian membeku di depan
Last Updated : 2026-10-23 Read more