Dengan tangan gemetar, Jingga meraih pintu mobil dan mencoba membukanya. Namun, pintu itu terkunci. Kaca pintunya hancur. Dengan panik, Jingga lantas mengetuk kaca depan mobil, berteriak memanggil-manggil nama Davin."Dave! Davin, bangun! Tolong, buka pintunya!" jerit Jingga, suaranya pecah di tengah keputusasaan. Air matanya tak terbendung lagi, ia menangis sejadi-jadinya dengan hati terluka.Dodi dan beberapa orang lain yang berhenti untuk membantu sudah berada di sekitar mobil, mencoba membantu Jingga. Namun, mobil itu terlalu rusak untuk bisa dibuka dengan mudah.Tiba-tiba, Jingga merasakan tangannya tergenggam erat oleh tangan Davin yang terkulai lemah dari dalam mobil, terasa hangat dan lembut. Mata Davin terbuka setengah, mencoba memandang Jingga dengan susah payah.“Sayang, kamu baik-baik saja?” desis Davin dengan suara serak, setiap kata yang terucap terasa seperti usaha terakhirnya.Jingga balas menggenggam tangan Davin dengan erat, di saat kondisi seperti ini Davin masih me
続きを読む