Tempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,
Last Updated : 2026-01-27 Read more