Wajah semringah Zein langsung memenuhi pelupuk mataku saat kukatakan akan berbuka puasa di rumah kakeknya hari ini. Sambil menarik-narik lenganku ia bertanya sekali lagi seperti kurang percaya.“Kita beneran buka puasa ke rumah Kakek, Bun?”Bocah kecil itu berteriak girang saat melihatku mengangguk.“Om Radit ikut juga, kan?” tagihnya saat menoleh ke arahRadit.“Ayah, Zein.” Aku meralat sebutannya untuk Radit.“Ayah,” ulang Zein sambil tersipu. “Ayah ikut kan, Bun?”“Ikut, dong.” Radit mewakili menjawab. “Zein siap-siap sekarang, ya!""Aku mau bawa buku astronot yang terbaru, Bun," celetuk Zein bersemangat. "Aku belum pernah bacakan Kakek buku itu. Boleh, Bun?""Lain kali saja, Zein" larangku. "Sudah terlalu sore. Nanti kita bawa bukunya kalau datang ke rumah Kakek pagi-pagi.""Kamu bikin kue apa, harum sekali?" Radit menoleh ke arah dapur setelah Zein berlalu."Cake pisang kesukaan Papa, juga bronis coklat favorit kamu dan Zein." Aku baru malah teringat bronisnya masih tinggal menung
Last Updated : 2026-01-27 Read more