BAB 22Saat sambungan telepon terputus, rasa berdesir muncul di dada Alea yang terduduk lemas di sisi tempat tidur. Pandangannya turun menatap lantai marmer putih di bawahnya dengan sorot sendu.“Mungkin percuma juga jika aku memohon. Dia akan tetap mengabaikanku.” Debaran jantung Alea kian bertalu cepat. Setiap kali mendengar suara itu, desir aneh menguasai hati dan pikiran Alea dalam kurun waktu yang lama. Suara yang sama dengan suara yang telah mengguncang seluruh isi dunianya sejak beberapa bulan lalu. “Tuan tidak mau pulang lagi, ya, Nyonya?” Hening di kamar tiba-tiba lenyap oleh suara Merry, asisten pribadi yang disiapkan oleh Alex untuk Alea untuk mengurus semua kebutuhannya. Alea tersenyum getir, menyembunyikan malu dari seluruh tatapan dunia tentang nasibnya. “Yah.. Seperti biasa. Aku harus mengandalkan Dokter Reza lagi kali ini,” jawa Alea tenang, dibalik rasa tak terima yang menggelitik hati. Merry tersenyum maklum. Entah memaklumi sikap bosnya, Alex, atau justru memakl
Leer más