Xiao Tian tersenyum lembut. Dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di pipi Ibunya dengan ibu jarinya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin saat menghadapi musuh, kini berubah menjadi sangat hangat dan menenangkan. “Ibu, jangan menangis. Air mata Ibu terlalu berharga untuk jatuh demi mengkhawatirkan anak nakal ini,” ucap Xiao Tian dengan nada lembut. Dia membalas genggaman tangan Ibunya, menyalurkan keyakinan yang teguh melalui kontak fisik tersebut. “Ibu tenang saja. Aku sangat menyayangi nyawaku sendiri. Aku masih muda, masih banyak hal indah di dunia ini yang belum aku nikmati. Aku belum memiliki istri, belum memberikan cucu untuk Ibu, jadi mana mungkin aku rela mati konyol di tangan orang-orang tua dari empat Istana itu?” Mendengar ucapan Xiao Tian tentang istri dan cucu, Wang Mei sedikit tertawa di sela isak tangisnya. Senyuman kecil terukir di wajah cantiknya, sedikit mengurangi beban di hatinya. “Kamu ini, di saat seperti ini masih sempat bercanda,” prote
Huling Na-update : 2026-02-07 Magbasa pa