Lorong rumah sakit itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai, menciptakan bayangan yang terasa asing. Suara roda ranjang pasien bergema pelan, mengisi keheningan yang terlalu berat untuk ditanggung.Ava dibawa lebih dulu. Tubuhnya lemah, hampir tidak bergerak. Matanya setengah terbuka, namun kesadarannya mulai mengabur.“Ava aku di sini.” Ares berjalan di samping ranjang, menggenggam tangannya erat.Ia tidak peduli siapa yang akan melihat, tidak peduli siapa yang tahu yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin kehilangan Avanya.Ava menggerakkan jarinya sedikit dengan gerakan yang lemah namun cukup untuk membalas genggaman itu.“Ares,” suaranya hampir tak terdengar.“Iya, aku di sini,” jawab Ares cepat.Ava menatapnya samar. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Namun tubuhnya tidak lagi memberi cukup waktu.“Jangan ... menyesal ...."Kalimat itu terucap secara putus-putus juga pelan namun jelas di dengar Ares.Ares menggeleng cepat. “
Read more