Malam itu rumah sakit terasa berbeda, lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu di lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang terasa dingin dan kosong.Namun di salah satu ruang ICU, ada sesuatu yang tidak biasa. Sebuah meja kecil diletakkan di sudut ruangan. Di atasnya, terdapat beberapa benda sederhana.Buah-buahan, air putih dan kain putih yang dibentangkan rapi. Tidak mewah apalagi meriah. Namun cukup untuk satu makna yakni sekedar syukuran tujuh bulanan.Ares berdiri di samping ranjang Mauren sendirian. Tanpa siapa pun, tanpa Ava juga saksi. Hanya dirinya, Mauren dan calon bayi yang terus bertahan di dalamnya.Ares menatap wanita yang berstatus istri mudanya itu lama. Wajah itu masih sama, cantik, beraura lembut juga tenang. Seperti seseorang yang sedang tidur.Namun selang yang terpasang di mulut sang wanita dan dada yang naik turun dengan bantuan alat menghancurkan ilusi itu.“Sudaj tujuh bulan,” gumam Ares pelan.Suaranya hampir tidak terdengar.“Harusnya ini jadi mom
Read more