“Tentu saja, Don.” Elena tersenyum canggung, tetapi dalam hatinya terasa begitu hangat. Ini kali pertama dia disambut sebagai menantu, meskipun hanya sekadar menantu settingan. Orang tua Vincent bahkan tak pernah menganggapnya sebagai menantu, melainkan lebih seperti pembantu di rumah mereka.“Bagus, aku senang akhirnya ada wanita di meja makan ini,” ujar Don dengan tawa kecil, meskipun suaranya terdengar lemah.Alvaro hanya mengamati percakapan itu dalam diam. Melihat ayahnya tersenyum bahagia membuatnya teringat pada masa lalu, saat ibunya masih ada. Ia ingat bagaimana ibunya selalu menyajikan makanan dengan penuh kasih sayang. Sekarang, hanya tinggal kenangan yang tersisa.Saat makan, Don terlihat kesulitan. Tangan kanannya masih diinfus, membuatnya sulit untuk mengangkat sendok. Alvaro yang melihat hal itu berinisiatif membantu. Ia mengambil sendok, menyendokkan bubur ke dalam mangkuk, lalu mendekatkannya ke mulut Don. Namun, gerakannya terasa kaku dan canggung. Ia tidak terbiasa m
Read more