Gue masih terdiam, lama banget sampai rasanya angin malam ikut nunggu jawaban gue. Dada gue sesak, bukan karena ragu, tapi karena semuanya terasa cepat dan hangat sekaligus. Akhirnya gue mengangguk pelan. Mas Arsen kelihatan langsung lega, kayak baru bisa napas. Dia tersenyum kecil, gugup tapi bahagia. Dengan tangan yang gemetar, dia mengambil cincin itu dan mengenakannya ke jari manis gue. Sentuhan logamnya dingin, tapi tangan Mas Arsen hangat, bikin perasaan gue makin campur aduk. Begitu cincin itu terpasang, dia berdiri perlahan dari posisi bersimpuh tadi. Lalu tanpa pikir panjang, dia menarik gue ke dalam pelukannya. Pelukan yang kuat, jujur, dan ngebuat gue ngerasa aman banget. Gue sempat nutup mata, mencoba menyimpan momen itu dalam ingatan. Gue bisa mencium wangi parfumnya, aroma yang lembut dan familiar, bikin hati gue bergetar. Gue bahkan nggak sadar kalau mata gue mulai panas. Ternyata gue beneran nangis. "Terimakasih ya, Rania," bisiknya pelan di dekat telinga. Kal
Terakhir Diperbarui : 2025-11-19 Baca selengkapnya