All Chapters of Menjadi Istri Keponakan sang Mantan: Chapter 51 - Chapter 60

102 Chapters

Bab 51 : Permintaan Maaf William

Sophia masih duduk di tepi ranjang, memeluk kedua lututnya. Sejak kejadian semalam, tubuhnya masih terasa lemas, pikirannya masih kalut. Ia tidak bisa menghilangkan rasa takut yang menyelimuti dirinya. Matanya memandang kosong ke luar jendela, menatap langit pagi yang tampak mendung, seolah mencerminkan perasaannya yang masih kelabu. Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Ia menghapus air mata yang sempat menggenang di sudut matanya dan berusaha menenangkan dirinya. "Masuk," ucapnya dengan suara yang sedikit serak. Saat pintu terbuka perlahan, ia melihat sosok William yang berdiri dengan raut wajah tenang, tapi sorot matanya menyiratkan perasaan bersalah. Sophia segera berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa lemah. "Kakek ...." William mendekat, langkahnya terukur dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Sophia tersenyum tipis, meskipun tatapan matanya masih menyimpan kepedihan. "Aku baik-baik saja, Kak
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 52 : Perubahan Sikap Robert

Sophia menatap ayahnya dengan bingung. Selama ini, Robert adalah orang yang paling menentang hubungannya dengan Daniel. Ia yang paling keras menolak Daniel masuk ke dalam hidupnya. Tetapi sekarang? Ayahnya justru terlihat membela pria itu. Sesuatu terasa janggal. "Ayah ..." Sophia akhirnya bersuara, meski ia terlihat ragu. "Kenapa Ayah tiba-tiba membela Daniel?" Robert terdiam sejenak, lalu menatap Sophia dengan serius. "Ayah tidak membelanya, Sophia. Ayah hanya mengatakan yang sebenarnya." "Tapi ..." Sophia mengernyit, mencoba memahami maksud ayahnya. "Dulu Ayah yang paling tidak setuju jika aku dekat dengan Daniel. Ayah selalu berkata kalau dia bukan orang yang tepat untukku." Robert menghela napas panjang, matanya menerawang jauh, dulu ia memang menentang hubungan putrinya dengan Daniel, tapi setelah ia tahu bahwa ternyata Daniel yang membantunya membayar biaya rumah sakit, ia menjadi goyah. "Dulu, ayah hanya melihat Daniel sebagai seorang pria yang tidak memiliki apa
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 53 : Kehamilan Sophia

Di lorong rumah sakit yang sepi, Jane berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas. Kedua tangannya saling menggenggam erat, berulang kali menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ketika menemukan Sophia tergeletak pingsan di jalan tadi, ia begitu panik. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Setahunya, Sophia tidak memiliki riwayat penyakit serius. Lalu, mengapa tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri seperti itu? Jane melirik pintu ruang perawatan tempat sahabatnya berada. Rasanya ingin segera masuk dan melihat kondisinya, tapi dokter masih memeriksa. Waktu terasa berjalan begitu lambat. "Kenapa bisa begini …?" gumamnya dengan napas tidak stabil. Saat itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Jane menoleh, dan pada saat itu juga ia melihat dokter. Jane segera menghampiri dokter begitu pria itu keluar dari ruang perawatan. "Dokter, bagaimana keadaan sahabat saya?" tanyanya, suaranya bergetar karena cemas. Dokte
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 54 : Pikiran yang Terhenti

Pintu kamar perawatan terbuka pelan, memperlihatkan sosok dokter yang melangkah masuk dengan berkas di tangan. Jane, yang sejak tadi duduk di kursi samping ranjang, segera bangkit dan menoleh ke arah datangnya dokter tersebut. Sophia juga ikut menoleh, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Ada ketegangan di wajahnya, tapi ia berusaha untuk mendengar apa pun yang akan dikatakan dokter. Dokter menghampiri mereka, memberikan senyum tipis sebelum berbicara, "Nona Sophia, bagaimana perasaan Anda sekarang? Apakah masih merasa pusing atau mual?" Sophia menggigit bibirnya sesaat sebelum menggeleng pelan. "Sedikit pusing, tapi sudah jauh lebih baik," jawabnya lirih. Dokter mengangguk, lalu melihat sekilas ke berkas di tangannya. "Itu wajar. Kehamilan Anda masih sangat awal, baru menginjak lima minggu, jadi tubuh Anda sedang beradaptasi dengan perubahan hormon." Mata Sophia sedikit melebar. Meski ia sudah mendengar kabar itu sebelumnya, tetap saja sulit baginya untuk benar-benar men
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 55 : Hati yang Semakin Hancur

Sophia tidak tahan lagi. Setiap kata yang keluar dari mulut Daniel terasa seperti pisau yang mengoyak hatinya perlahan. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang hampir pecah. Napasnya terasa sesak, seakan ada beban berat yang menghimpit dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu tiba di kamar, ia segera menutup pintu dan bersandar di sana, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh tanpa bisa ia kendalikan. Tangan Sophia kembali turun ke perutnya, mengusap lembut permukaannya yang masih rata. Ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam dirinya—anak dari pria yang masih mencintai wanita lain. "Kenapa harus sekarang?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di antara isakannya. Sementara itu, di dalam kamar Daniel, percakapan antara ayah dan anak itu berlanjut. "Tapi itu dulu ... sebelum dia pergi meninggalkan aku." Mata William menyipit sedikit, menat
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 56 : Penolakan Daniel

Sophia memasuki kamarnya dengan gontai. Pikirannya masih kacau setelah mendengar percakapan Daniel dan William. Pintu ia tutup perlahan dengan hati-hati. Sepasang mata coklatnya langsung tertuju pada sebuah laci di sudut ruangan—tempat di mana ia menyimpan obat pemberian ibunya, Rose. Dengan napas yang masih tersengal akibat isakan yang ia tahan sejak tadi, ia berjalan mendekat dan menarik laci itu. Jemarinya sedikit gemetar saat meraih sebuah botol kecil berisi obat. Ia duduk di tepi ranjang, menatap botol itu dengan ekspresi kosong. Pikirannya berputar tanpa henti. "Apa aku harus menggunakan ini sekarang?" Jantungnya berdetak cepat. Ia tahu betul bahwa kehamilan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin ia umumkan kepada keluarga Williams. Mereka tidak akan menerimanya. Bukan hanya karena statusnya sebagai istri orang lain, tetapi juga karena anak ini adalah darah daging Daniel—pria yang selama ini hanya menganggapnya sebagai bayangan di balik masa lalunya yang gagal. Tanganny
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 57 : Rencana Sophia

David mengusap matanya, berusaha mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerangnya. Kelopak matanya terasa semakin berat, seakan sesuatu yang menariknya ke dalam tidur. "Kenapa aku merasa ngantuk sekali …?" gumamnya dengan suara samar. Sophia, yang mendengar keluhan suaminya, segera menghampiri dan menatapnya dengan perhatian. Ekspresi di wajahnya tetap tenang, seolah tidak ada yang aneh. "Mungkin kau terlalu lelah. Ayo, tidurlah dulu. Aku akan membantumu beristirahat." Dengan perlahan, Sophia membantu David merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya menarik selimut, menyelimutinya dengan perhatian—atau setidaknya, itulah yang terlihat di permukaan. "Apa kau mau aku ambilkan makan dulu?" tanyanya, suaranya terdengar begitu tulus. David menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku hanya ingin tidur saja." Matanya yang semula berusaha terbuka kini mulai tertutup rapat-rapat. Tubuhnya terasa semakin berat, kesadaran David perlahan tenggelam dalam kantuk yang tak bisa dilawan. Sophia
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 58 : Garis Dua

Di salah satu meja dekat jendela, seorang pria bertubuh tegap duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya menatap lurus ke arah pintu masuk, sedari tadi ia sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian, seorang wanita melangkah masuk. Begitu melihat pria yang sedang menunggunya, Sophia langsung berjalan ke arah lelaki itu. John mengangkat alis, ia sedikit tersenyum saat melihat kedatangan Sophia. "Kau akhirnya datang juga." Sophia duduk tanpa basa-basi. Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu menatap pria di hadapannya dengan tegas. "Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama, John. Aku butuh bantuanmu." John menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Sophia dengan penuh minat. "Bantuan apa?" "Aku ingin kau mencari tahu siapa yang telah menabrak ayahku." Senyuman John langsung menghilang. Matanya menyipit, menatap Sophia dengan serius. "Kecelakaan yang terjadi beberapa bulan lalu? Kau yakin itu bukan sekadar kecelakaan biasa?" "Aku tidak percaya itu hanya kebetulan.
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 59 : Kabar Baik & Buruk

Pagi ini, Sophia dan David menuruni tangga bersama. Tangan Sophia menggapit lengan David, pemandangan itu mengejutkan bagi semua orang yang sudah duduk di meja makan. Biasanya, mereka selalu datang secara terpisah, seolah-olah rumah ini hanyalah tempat singgah bagi dua orang asing yang kebetulan berbagi ikatan pernikahan. Namun, pagi ini berbeda. Daniel yang sedang menuangkan kopi ke dalam cangkirnya tiba-tiba menghentikan gerakannya. Jemarinya mencengkeram pegangan teko sedikit lebih erat, dan rahangnya mengeras saat melihat bagaimana eratnya genggaman Sophia pada David. Apa yang sedang terjadi di sini? Daniel bahkan tidak sadar bahwa ia menuangkan kopi terlalu penuh hingga tumpah ke atas meja. Sementara itu, Anne yang duduk di seberang meja juga tampak tidak senang. Bibirnya tertarik menjadi garis tipis, matanya terlihat begitu marah, saat tertuju pada tangan Sophia yang menggenggam lengan David begitu erat, seakan mereka adalah pasangan suami istri yang paling romantis.
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 60 : Batu Loncatan

Anne berdiri di dalam kamar dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya merah padam karena amarah yang tertahan sejak sarapan tadi pagi. Begitu David masuk dan menutup pintu, Anne langsung meledak. "Kau bilang kau tidak akan pernah menyentuhnya! Kau bilang kau hanya mencintaiku!" ujar Anne begitu kecewa pada David, terlebih saat ia dengar bahwa Sophia sedang hamil. David menghela napas, melepas jasnya dengan santai seolah tak terpengaruh oleh kemarahan Anne. "Tenanglah, Anne. Aku juga tidak menyangka ini akan terjadi." "Tidak menyangka?! Bagaimana bisa kau tidak menyangka kalau kau tidur dengannya?! Kau bilang kau hanya menikahinya demi mendapatkan warisan dari William! Tapi sekarang dia hamil, David! Kau benar-benar menjijikkan!" David mendengkus, menangkupkan kedua tangannya di wajah sebelum menatap Anne dengan lelah. "Aku tidak ingat pernah menyentuhnya, Anne. Kau tahu itu. Aku bahkan yakin dia menjebakku." "Oh, sekarang kau menyalahkan Sophia? Lalu bagaimana dengan ak
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
1
...
45678
...
11
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status