All Chapters of Balas Dendam Sang Pendamping Setia: Chapter 11 - Chapter 20

30 Chapters

Bab 11 – Kamar Kosong, Hati Kosong

Malam telah larut. Lampu redup menyala di ruang kerja sempit di sudut kamar kos mereka. Di antara tumpukan kertas, sketsa-sketsa desain produk digital berserakan. Gambar-gambar prototipe sederhana, alur kerja aplikasi, dan beberapa catatan strategi pemasaran ditulis tangan dengan pulpen hitam yang tintanya mulai habis.Nayla duduk bersila di lantai, tubuhnya menyandar pada dinding yang dingin. Rambutnya diikat sembarangan, matanya sembab dan lelah. Tapi tangannya masih bergerak—menghapus, menggambar ulang, mencoret, mencatat.Sudah tiga malam berturut-turut ia begadang, bukan untuk pekerjaannya sendiri, tapi untuk merapikan konsep yang dilempar Galan tanpa bentuk. Ide itu masih mentah—“aplikasi layanan berbasis komunitas”, katanya. Tapi tanpa detail, tanpa arah. Hanya semangat kosong yang mengandalkan energi dari kopi dan ambisi.Nayla mencoba menyusunnya ulang. Ia belajar dari forum, membaca artikel bisnis, bahkan menonton video tutorial dari internet yang kadang tersendat karena kuo
last updateLast Updated : 2025-04-11
Read more

Bab 12 – Otak di Balik Nama

Langit pagi itu mendung. Jakarta seperti malas bangun, dan matahari enggan menampakkan diri. Tapi di kamar kos kecil yang pengap itu, Nayla sudah sibuk sejak subuh.Tangannya lincah menyetrika kemeja putih milik Galan—kemeja terbaik yang mereka punya, yang hanya dipakai kalau ada acara penting. Ia menyisir rapi lipatan lengan, lalu menyiapkan dasi hitam dan sepatu yang semalam ia bersihkan sendiri. Meski usang, Nayla ingin semuanya tampak terbaik. Hari ini penting bagi Galan. Hari ini, ia akan presentasi di inkubator bisnis kampus ternama—tempat yang bisa membuka jalan ke pendanaan besar.Di sisi lain kamar, Galan berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan satu tangan sambil melihat ke layar ponsel.“Kamu udah siapin slide-nya?” tanyanya tanpa menoleh.“Udah. Aku juga masukin semua analisis pasar dan peta kompetitor ke bagian akhir. Kalau ditanya soal revenue stream, kamu tinggal buka slide ke-17.”Galan mengangguk pelan. “Good. Nggak nyangka bisa lengkap juga, ya.”Nayla ter
last updateLast Updated : 2025-04-11
Read more

Bab 13 – Gema di Balik Panggung

Malam itu hujan rintik-rintik. Di kamar sempit yang lampunya mulai berkedip karena kabel usang, Nayla dan Galan duduk bersila di atas lantai beralas tikar tipis. Di depan mereka dua bungkus mie instan tersaji dalam mangkuk plastik, masih mengepul hangat. Aroma gurih sederhana mengisi ruangan, menumpuk bersama rasa lelah dan rasa lega.Galan membuka berita di ponselnya—sebuah media kampus menulis singkat soal proyeknya yang mendapatkan investasi awal dari alumni sukses.“Tuh, lihat,” katanya sambil tersenyum lebar. “Gue masuk media, Nay. Katanya ini bukti langkah awal startup yang bisa tembus pasar nasional.”Nayla ikut tersenyum, meski matanya sembab karena terlalu lama menatap layar laptop semalam—mengutak-atik prototype versi alpha dari aplikasi yang Galan bawa ke investor. Ia tahu betul, di balik angka-angka yang Galan sebut, di balik desain antarmuka yang katanya ‘inovatif’, ada dirinya. Ada tangannya. Ada pikirannya.“Aku bangga,” katanya pelan. “Kamu layak dapet itu.”Galan meny
last updateLast Updated : 2025-04-11
Read more

Bab 14 – Cinta yang Semakin Sepi

Pagi itu dingin, tapi bukan karena cuaca. Bukan juga karena angin yang masuk dari celah jendela yang belum sempat diperbaiki. Dingin itu datang dari suara yang tak lagi hangat, dari tatapan yang mulai terasa jauh, dan dari kehadiran yang tak lagi menyentuh hati.Nayla terbangun lebih dulu seperti biasa. Ia menyeduh dua gelas kopi—satu manis tanpa gula untuknya, dan satu dengan krimer yang selalu jadi favorit Galan. Meja kecil sudah dirapikan, sarapan sederhana disiapkan: roti isi telur dadar dan irisan tomat sisa kemarin.Tapi Galan tak keluar dari kamar. Hanya suara ponselnya yang terdengar. Nada rendah, tawa pelan yang ditahan, lalu langkah cepat ke arah kamar mandi sambil menutup pintu.Nayla mematung.Beberapa hari terakhir, hal itu menjadi rutinitas baru. Galan lebih sering menerima telepon di kamar mandi, atau di luar kost, atau saat ia menyuruh Nayla membeli sesuatu ke warung. Dan tiap kali ia kembali, Galan sedang tertawa kecil dengan suara pelan—bukan tawa lega seperti dulu,
last updateLast Updated : 2025-04-12
Read more

Bab 15 – Akulah Fondasi yang Kau Lupakan

Siang itu, ruangan co-working space tempat investor pitching digelar tampak megah. Dindingnya dihiasi layar-layar LED yang menampilkan logo berbagai startup baru, dan di antara semuanya, salah satu logo tampak lebih mencolok—warna biru tua dengan bentuk abstrak yang elegan, menggambarkan teknologi dan konektivitas.Itulah logo yang Nayla buat.Logo yang ia rancang semalaman, setelah puluhan coretan ditolak Galan. Logo yang mewakili gabungan nilai mereka berdua—keterbukaan, visi masa depan, dan semangat membangun dari nol. Ia yang memilih font, menyesuaikan gradasi warna, bahkan mengurus detail hak cipta secara administratif.Tapi saat siaran live presentasi dimulai dan kamera menyorot panggung, hanya satu nama yang disebut sang pembawa acara dengan penuh semangat:“Sambut CEO sekaligus pendiri SynVision, Galan Mahendra!”Tepuk tangan bergemuruh.Nayla menonton dari rumah, duduk di karpet tipis ruang tamu yang masih bau lem karena ia baru saja memperbaiki kaki mejanya yang patah. Ia me
last updateLast Updated : 2025-04-12
Read more

Bab 16 – Di Balik Pintu Kesempatan

Udara di kafe kecil itu terasa hangat oleh aroma kopi dan kayu manis. Hujan baru saja berhenti di luar, meninggalkan jejak embun di kaca jendela. Di tengah keramaian lembut suara mesin kopi dan percakapan pelan, Nayla duduk di sebuah sudut meja dengan tangan bertaut di pangkuannya.Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan rambut separuh memutih sedang memutar cangkir tehnya. Ia mengenakan batik sederhana, kacamata bingkai emas menggantung di ujung hidung. Matanya tajam, tapi tak kehilangan kelembutan. Itulah Pak Handoko—mantan rekan bisnis almarhum ayah Nayla, sekaligus salah satu pengusaha senior yang dikenal sebagai investor konservatif tapi jujur.Nayla menarik napas dalam-dalam sebelum bicara.“Pak Handoko, saya tahu Bapak sedang cari peluang investasi baru. Saya tidak bisa menjanjikan banyak, dan saya juga tahu startup kami belum sempurna. Tapi saya percaya pada ide ini. Platform yang kami bangun punya potensi besar di sektor UMKM.”Pak Handoko mengangkat alis. “Kami?”Nayla
last updateLast Updated : 2025-04-12
Read more

Bab 17 – Cahaya Panggung yang Menyilaukan

Pagi itu matahari bersinar cerah, tapi di dalam rumah kecil mereka, dunia terasa dingin bagi Nayla. Ia duduk di meja makan dengan secangkir kopi yang sudah kehilangan uapnya. Di hadapannya, layar ponsel menyala, menampilkan sebuah artikel dari salah satu media startup lokal ternama: “Galan Pradipta: Pendiri Muda yang Siap Mengubah Dunia UMKM Digital”.Judulnya besar, mencolok. Wajah Galan memenuhi layar, mengenakan setelan kasual elegan, tersenyum percaya diri di bawah sorotan lampu. Di bawah fotonya, ada kutipan yang menonjol:“Kami memulai dari mimpi. Sekarang saatnya mimpi itu jadi kenyataan—berkat kerja keras dan visi saya.”Nayla membaca paragraf demi paragraf, matanya menelusuri kata-kata yang terasa seperti luka baru. Tak satu pun menyebut tentang orang lain di balik proyek itu. Tak satu pun menyebut tentang mereka—yang dulu memulai semua ini bersama.Tak ada "kami".Tak ada Nayla.Galan pulang sore itu dengan semangat meletup-letup, masih mengenakan jaket abu-abu dengan logo m
last updateLast Updated : 2025-04-14
Read more

Bab 18 – Retak yang Tak Terdengar

Waktu tak pernah benar-benar berhenti, tapi bagi Nayla, hari-hari belakangan terasa seperti pengulangan dari kesunyian yang menyakitkan.Pagi hari dimulai dengan meja makan yang kosong. Galan sudah pergi sebelum matahari naik, meninggalkan sisa kopi dalam gelas kaca dan serpihan roti di piring. Tak ada catatan. Tak ada pelukan. Hanya aroma parfum pria yang masih tertinggal di udara, mengabarkan kepergiannya lebih awal dari biasanya.Nayla mencuci piring-piring itu dengan gerakan lambat. Di pikirannya, terngiang suara tawa Galan dulu—ketika mereka masih duduk bersama, mencoret-coret buku sketsa, atau sekadar berbicara tentang mimpi. Sekarang, mimpi itu terasa seperti milik satu orang saja. Dan yang lainnya, tertinggal sebagai penonton yang tidak diundang.Malam-malam Nayla tak banyak berubah. Ia tetap duduk di depan mesin jahitnya, menyelesaikan pesanan pelanggan tetap dari toko daring kecil yang ia jalankan sendiri. Tangannya bergerak cekatan, menjahit renda di ujung gamis pelanggan,
last updateLast Updated : 2025-04-14
Read more

Bab 19 – Semua Mata Padanya

Layar ponsel Nayla memancarkan cahaya kebiruan ke wajahnya yang tanpa ekspresi. Jemarinya menggenggam erat benda persegi panjang itu, seolah berusaha menangkap sosok yang kini bergerak penuh percaya diri di panggung Astoria Grand Hotel. Dari sudut kamarnya yang sunyi, Nayla menyaksikan Galan—lelaki yang dulu begitu ia kenal setiap lekuk wajahnya—kini terasa seperti orang asing.Siaran langsung "Jakarta Startup Awards" menampilkan suasana megah dengan lampu-lampu kristal berkilauan. Kamera menyorot para tamu dengan busana formal elegan, gelas-gelas sampanye, dan tawa yang bercampur dengan alunan musik orkestra. Tapi mata Nayla hanya tertuju pada satu sosok.Galan tampil menawan dalam balutan jas navy blue yang sempurna. Potongannya presisi, jahitannya rapi, dan detailnya tak tercela. Jenis jas yang hanya bisa dihasilkan oleh tangan-tangan terampil dari butik ternama dengan harga selangit. Bukan lagi jas buatan tangan seorang Nayla Pratiwi yang dulu begitu ia banggakan.Di samping Galan
last updateLast Updated : 2025-04-14
Read more

Bab 20 – Dalam Diam yang Paling Sepi

Jam digital di sudut layar laptop Nayla menunjukkan pukul 02:37 dini hari. Apartemen kecilnya sunyi, hanya ditemani desisan samar pendingin udara dan ketukan jari lentiknya pada keyboard. Sudah lebih dari sepuluh jam ia berkutat dengan angka-angka dan proyeksi keuangan untuk proposal pendanaan seri B Kasara Tech. Matanya perih, punggungnya nyeri, tapi pekerjaannya hampir rampung."Tinggal sentuhan terakhir," gumamnya pada diri sendiri.Nayla menyesap kopi yang sudah mendingin—cangkir ketiganya malam ini. Ia menambahkan beberapa slide presentasi dengan visualisasi data yang menarik, memastikan setiap grafik dan tabel mudah dipahami namun tetap mengesankan. Ia tahu betul bagaimana memikat para investor dengan bahasa angka yang meyakinkan.Ironis, pikirnya. Namanya tidak lagi tercantum dalam struktur perusahaan, tapi tangannya masih mengerjakan bagian paling krusial dari proposal pendanaan yang bernilai miliaran rupiah ini. Sebuah proposal yang nanti akan dipresentasikan Galan dengan per
last updateLast Updated : 2025-04-14
Read more
PREV
123
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status