Kampus sudah ramai bahkan sebelum jam pertama dimulai. Motor Daren berhenti di parkiran fakultas, berderet di antara kendaraan lain yang tampak sama lelahnya. Dila turun, melepas helm, lalu menghembuskan napas pelan, seolah baru sekarang paru-parunya benar-benar bekerja. “Jangan ngelamun,” kata Daren sambil mengunci stang. “Nanti ditabrak scopus.” Dila mendecak pelan, malas menanggapi tuturan tak penting Daren yang selalu berhasil menyebalkan. Ia melangkah menuju gedung fakultas, Daren menyusul di belakang dengan langkah santai. Baru beberapa meter, suara seseorang memanggil dari arah depan. “Dila?” Langkah Dila terhenti. Ia mendongak. Seorang laki-laki berdiri di bawah pohon ketapang, kemeja putih digulung sampai siku, tas selempang disampirkan rapi. “Oh,” ucap Dila ragu. “Kenapa Mas?” Vero mendekat beberapa langkah. “Gue mau minta tolong, kan lay out-nya udah jadi, nanti setelah matkul bisa kan kamu yang aturin?” Dila mengangguk kecil. "Bisa Mas, habis matkul aku langsung
Magbasa pa