로그인Ardila dikenal di kampus bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena ulah sahabatnya. Laura. Laura sering menjodohkannya dengan mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebagai sahabat dekat, Laura ingin Dila memiliki seseorang untuk berbagi cerita, apalagi dia sendiri mulai sibuk dengan pacarnya. Namun, Dila bukan yang mudah dirayu. Ia menolak semua kenalan yang Laura perkenalkan, dia ingin menunggu seseorang yang benar-benar sesuai dengan pilihannya. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang berbeda. Presiden BEM kampusnya—dingin, tegas, dan penuh wibawa. Tatapan pertama cukup untuk membuat Dila jatuh hati. Dan untuk pertama kalinya, ia ingin mengejar seseorang. "Cinta dalam diam sudah nggak zaman. Kalau suka sama orang, setidaknya harus temenan."
더 보기Dila berdiri diam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menekan kulit sendiri, tapi rasa itu kalah jauh dari yang baru saja ia dengar. “Aku…” suaranya tertahan. Serak. “Aku kerja.” “Iya kan ngelayani cowok tadi, kan.” Ayahnya tertawa lagi. Pendek. Sinis. Dila menunduk. Kecewa dengan seluruh dugaan ayahnya. Dadanya semakin sesak tiap ayahnya melengkapi kalimat jahat itu. “Itu temen kampus.” “Teman?” ulangnya, kali ini lebih pelan tapi jauh lebih tajam. “Jangan naif, Dila.” Langkahnya mendekat. Satu. Dua. Jarak di antara mereka semakin sempit. “Cewek kalau udah biasa pulang sama cowok malam-malam, ujungnya ke mana gue juga tahu.” Kalimat itu diucapkan keras. Tanpa jeda. Dan cukup untuk menghancurkan. Dila menggeleng kuat. Napasnya berat, tapi kali ini ia tidak mundur. Dengan sisa keberanian yang entah datan
Malam turun lebih cepat dari yang Dila sadari. Lampu jalan memantul di kaca etalase, membentuk garis-garis panjang yang berlari bersama waktu. Ramainya pelanggan sepanjang hari menyita hampir seluruh tenaganya, sampai ia baru benar-benar sadar jam pulang sudah di depan mata. “Closing sekarang aja,” ujar Daren dari ujung ruangan. “Biar nggak terlalu telat pulang.” Dila mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, ia mulai membereskan meja kasir, merapikan nota, dan menutup laci satu per satu. Sesekali matanya melirik ke arah laki-laki dengan secangkir kopi di meja pojok, tangannya sibuk dengan ponsel, tapi jelas menunggu. Beberapa menit kemudian, semua selesai. Dila menghela napas pelan, lalu menjatuhkan diri ke kursi di depan mesin kasir. “Capek?” tanya Daren singkat. Dila mengangkat alis. “Menurut lo?” Daren terkekeh pelan, “Ya kali gue nanya kalau lo kelihatan seger.” Tanpa menunggu
Beberapa menit berlalu dalam hening yang nyaman. Hanya suara mesin dan lagu dari radio yang mengisi ruang di antara mereka. Dila mulai bisa bernapas lega sepertinya Vero sudah tidak menyinggung soal lukanya lagi. Begitu mobil memasuki area kampus, Vero memperlambat laju kendaraan. “Nanti makan siang pakai apa?” tanyanya tiba-tiba, nadanya santai tapi tetap penuh perhatian. Dila melirik, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Gak tahu,” jawabnya singkat. Vero mengangkat alis, lalu tersenyum kecil mendengar jawaban ambigu itu. “Berarti saya harus pastiin kamu beneran makan,” ujarnya ringan. Dila terkekeh. Hubungannya dengan Vero memang sering diwarnai hal-hal kecil seperti ini—menggemaskan, sekaligus menenangkan. “Aku yang pastiin aku makan, Mas. Aku bisa,” katanya sambil menatapnya sekilas. Vero mengangguk pelan. “Iya, iya… yang bisa,” balasnya cepat. “Tapi kamu tuh sering lupa makan.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Nanti sore saya jemput, ya? Sekalian makan bareng.
Kampus sudah ramai bahkan sebelum jam pertama dimulai. Motor Daren berhenti di parkiran fakultas, berderet di antara kendaraan lain yang tampak sama lelahnya. Dila turun, melepas helm, lalu menghembuskan napas pelan, seolah baru sekarang paru-parunya benar-benar bekerja. “Jangan ngelamun,” kata Daren sambil mengunci stang. “Nanti ditabrak scopus.” Dila mendecak pelan, malas menanggapi tuturan tak penting Daren yang selalu berhasil menyebalkan. Ia melangkah menuju gedung fakultas, Daren menyusul di belakang dengan langkah santai. Baru beberapa meter, suara seseorang memanggil dari arah depan. “Dila?” Langkah Dila terhenti. Ia mendongak. Seorang laki-laki berdiri di bawah pohon ketapang, kemeja putih digulung sampai siku, tas selempang disampirkan rapi. “Oh,” ucap Dila ragu. “Kenapa Mas?” Vero mendekat beberapa langkah. “Gue mau minta tolong, kan lay out-nya udah jadi, nanti setelah matkul bisa kan kamu yang aturin?” Dila mengangguk kecil. "Bisa Mas, habis matkul aku langsung
Jam malam tiba, Vero menghentikan mobilnya di depan rumah berwarna putih dengan pagar besi yang tertutup rapat. Cahaya lampu teras menerangi pekarangan yang tampak rapi, menandakan bahwa seseorang di dalam rumah sudah menunggu. Dila menoleh ke arah Vero dan tersenyum kecil sebelum membuka pintu mob
"Vero, gue nanti harus ke Bandung sama Bunda." Seorang laki-laki berkata dengan nada sedikit berteriak sambil berjalan cepat menghampiri Vero. "Harus hari ini?" tanya Vero tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Laki-laki itu mengangguk sambil membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru. "Iya, Ka
Dila duduk di salah satu bangku panjang dekat kantin setelah kelasnya selesai. Makanan yang dia pesan mulai mendingin, tapi perhatiannya masih terpaku pada ponsel. Sesekali, alisnya mengernyit, lalu berubah jadi senyum, kemudian kembali serius—seakan-akan sedang membaca sesuatu yang penting. Akhir
“Sekian rapat hari ini, ada yang mau ditanyakan?” Galen, sang ketua umum, bersuara sambil merapikan beberapa kertas di tangannya. Matanya menyapu seluruh ruangan, berharap semua anggota sudah cukup jelas dengan hasil diskusi mereka. Belum sempat keheningan menyelimuti, Dila dengan percaya diri m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.