FAZER LOGINArdila dikenal di kampus bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena ulah sahabatnya. Laura. Laura sering menjodohkannya dengan mahasiswa dari berbagai fakultas. Sebagai sahabat dekat, Laura ingin Dila memiliki seseorang untuk berbagi cerita, apalagi dia sendiri mulai sibuk dengan pacarnya. Namun, Dila bukan yang mudah dirayu. Ia menolak semua kenalan yang Laura perkenalkan, dia ingin menunggu seseorang yang benar-benar sesuai dengan pilihannya. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang berbeda. Presiden BEM kampusnya—dingin, tegas, dan penuh wibawa. Tatapan pertama cukup untuk membuat Dila jatuh hati. Dan untuk pertama kalinya, ia ingin mengejar seseorang. "Cinta dalam diam sudah nggak zaman. Kalau suka sama orang, setidaknya harus temenan."
Ver maisMatahari meninggi seperti seharusnya.Dila bangun sebelum alarm, lebih karena suara langkah kaki seseorang di dapur daripada kesiapan tubuhnya sendiri. Rumah yang biasanya sepi menjadi sedikit menakutkan jika laki-laki itu menemukannya.Benar. Dia seharusnya tidak pernah pulang. Ia tidak langsung bangun. Napasnya ditahan, telinga menangkap suara gelas diletakkan terlalu keras, kursi yang ditarik tanpa sabar. Bau kopi pahit merayap masuk ke kamar, membawa serta perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.Ponselnya bergetar di atas kasur.Pesan dari nama kontak Daren. “Kelas jam berapa?”Alih alih membalas, Dila justru meletakkan ponsel itu kembali. Ia bergeser pelan, meringkuk di sisi ranjang dekat nakas, menahan suara apa pun yang bisa mengkhianatinya. Seolah dengan diam, ia bisa membuat dirinya tak terlihat.Langkah kaki itu mendekat.Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.Dila menutup mata.Beberapa detik terasa seperti menit. Pegan
“Kamu udah pulang? Saya pengen ketemu sebentar.”Dila menatap layar ponsel itu lama, sampai lampunya meredup sendiri. Ia menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri.“Iya Mas, udah di rumah” balasnya akhirnya.Dila berakhir duduk di ruang tamu menunggu suara mobil yang menyenangkan. Tak sampai lima menit, bunyi mobil yang familiar berhenti di depan pagar. Dila meraih jaket tipis, menyampirkan asal, lalu keluar rumah tanpa benar-benar menyiapkan diri.Vero berdiri di luar pagar dengan senyum yang selalu berhasil membuat Dila lupa setengah dari masalahnya. Rambutnya rapi, kemeja sampai siku, wangi sabun bercampur tipis menyapa sebelum kata apapun keluar.“Ganggu istirahat kamu ya?” tanyanya, nada suaranya lembut, nyaris hati-hati.Dila menggeleng. “Enggak. Masuk aja.”Mereka duduk di teras. Jaraknya cukup dekat untuk saling dengar napas, cukup jauh untuk pura-pura aman. Vero memainkan kunci motornya, memutar-mutarnya di jari, seolah sedang mencari
Daren berhenti tepat di depan rumah Dila. Rem motor berdecit kecil, menahan dua manusia yang sama-sama keras kepala. Dila turun duluan tanpa bilang terima kasih, langsung membenarkan tasnya. “Besok gue ambil shift pagi gantiin Mas je” kata Daren sambil melepas helm dan mengibaskan rambutnya asal. “Lo ada kelas gak besok? Ganti shift aja biar tetep bisa bareng gue.” Dila menggeleng lemah, wajahnya santai tapi matanya waspada. “Nggak Ren, gue besok mau ketemu Mas Vero” Daren langsung mendengus, rahangnya mengeras. “Vero mulu otak lo!” Dila tersenyum kecil. Bukan senyum manis, lebih ke senyum yang sengaja di pamerkan. “Charger diri lah” Daren terdiam sesaat, lalu terkekeh pendek, meski matanya tak ikut tertawa. “Hati-hati aja, La.” “Hati-hati kenapa?” “Makin tinggi terbang, nanti jatuhnya makin sakit” Ucapan itu keluar terlalu serius untuk candaan. Dila menahan napas sepersekian detik, lalu
Dila menatap layar laptopnya lama. Terlalu lama untuk sekedar satu pesa, terlalu singkat untuk menyiapkan diri. jarinya gemetar saat akhirnya berani membaca kalimat itu. Tidak panjang, tidak juga bernada keras, tapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Nama pengirimnya saja sudah lebih dulu merobohkan pertahanannya. Ia mematikan layar sebelum sempat membaca ulang. Ponsel itu ia selipkan kembali ke saku celemek, mengabaikan apa yang ditampilkan di layarnya. “La, gue mau kencan, saran outfit” Suara Daren muncul tiba-tiba, memaksa pikirannya berbelok. Dila menoleh dan mendapati Daren berdiri di depannya sambil membawa tiga kaus yang nyaris sama, hanya berbeda warna. “outfit apaan maksud lo,” marah Dila. Nadanya sudah meninggi kesal, “Kaos semua gini, mau kencan apa mau ronda?!” Daren mengerut, kesal dengan penuturan Dila yang menurutnya menyebalkan dan terkesan tidak mengizinkan dia untuk kencan ini. “Lo kalau cemburu bilang aja La,” ujarnya ketus. “Ini namanya cowok apa adanya!


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.