Dila diam. Suara di lorong mendadak terasa jauh, seolah disaring tembok tebal. Tatapannya turun ke kotak bekal di pangkuan Vero, lalu naik ke wajah laki-laki itu. Ada lelah di sana, tapi juga sesuatu yang tak bisa ia tebak. “Mau balikin ini,” ujar Vero akhirnya, tangannya mengulurkan kotak bekal milik Dila. Dila menerimanya tanpa banyak ekspresi. Jemarinya menutup rapat pengait kotak itu, lalu ia mengangguk singkat. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Bukan karena ia marah, melainkan karena Daren, anak menyebalkan itu, sudah menunggu lama di bawah. Baru kali ini Dila harus mengabaikan lelaki tampan di hadapannya. “Dila.” Langkahnya terhenti. Si empu nama pun menoleh sebagai respons kecil. “Kamu marah?” tanya Vero, suaranya terdengar hati-hati. Dila menarik napas, menahan jawabannya sejenak. Ada rasa aneh menyusup terlalu bahagia karena ia merasa Vero mulai peduli. “Eng…” “Dila mana?!” Teriakan suara yang familiar memotong kalimatnya. Daren. Nada itu jelas tak sabar, dan pert
Huling Na-update : 2026-01-25 Magbasa pa