“Gue cuma gak mau repotin orang,” jawab Dila pelan. “Repot tuh kalau lo mati sendirian di rumah. Kalau lo cuma cerita, itu namanya manusiawi.” Kata-kata itu menancap dalam, sederhana tapi hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dila merasa aman untuk sekadar diam tanpa pura-pura tersenyum. Beberapa detik berlalu dalam hening. Daren tiba-tiba berdiri, melepas apron, lalu berkata, “Udah malem. Gue antar lo pulang.” Dila buru-buru menggeleng. “Enggak usah, gue biasa pulang sendiri.” “Tuh kan, ‘gue biasa’ lagi,” Daren mendengus, lalu tersenyum miring. “Kali ini, lo gak usah biasa. Lo cuma perlu duduk di motor dan kasih tau arah rumah.” Dila membuka mulut, ingin menolak lagi, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan. Ada sesuatu dalam nada suara Daren yang tak bisa ia lawan—bukan paksaan, tapi perhatian yang tulus. Saat mereka melangkah keluar, udara malam terasa lembab dan dingin. Daren membuka jas hujan, menaw
Huling Na-update : 2025-12-04 Magbasa pa