Menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka sampai juga ditujuan. Sebuah rumah makan yang sudah cukup terkenal di kota ini dan berkonsep masakan Sunda.Usai memarkirkan motor dan menggendong Sienna, Juna kembali mengingatkan sang istri. "Bun, makanannya dibungkus ya, kita makan di rumah aja.""Tapi Bunda pengen makan di sini, Yah. Kalo dibawa pulang nanti keburu adem.""Tapi Bun, nanti--""Nanti apa!" Dengan cepat, Liana memotong galak. Sudah tidak salah lagi, ini pasti karena istri muda suaminya. "Kamu takut istri muda kamu itu cemburu? Kamu takut dia marah, ha?""Yaudah kalo gitu, pulang aja sana! Aku mau makan di sini sama Senna." Lanjut Liana. Entah mengapa acapkali otaknya mengingat akan keberadaan istri kedua suaminya, Liana selalu saja tersulut emosi. Juna menghembus napas besar. Lagi-lagi istrinya tersebut kembali diselimuti angkara. Padahal ia baru saja berucap sedikit dan sama sekali belum menyebutkan nama istri keduanya tapi Liana sudah lebih dulu mer
Ler mais