Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m
Last Updated : 2025-10-29 Read more