Lelaki tua dekil itu menerima satu serangan dari Diskra. Namun, alih-alih terluka, dia bahkan bergeming.Mulutnya terus mengulang kalimat yang sama, "Berikan pedangnya padaku."Ewan tercengang melihat pemandangan itu. Perlu diketahui, Diskra adalah seorang ahli tingkat puncak maharaja.Serangan telapak tangan barusan bahkan tidak mampu ditahan oleh Ewan. Siapa sangka, lelaki tua dekil yang kehilangan kewarasannya itu justru tidak terluka sedikit pun? Mungkinkah lelaki tua ini adalah seorang ahli tertinggi yang luar biasa?Sambil memikirkan hal itu, Ewan segera mengeluarkan selembar daun pohon suci berwarna emas dan memasukkannya ke mulut. Dalam sekejap, tenaganya pulih sepenuhnya.Di sampingnya, Nazar berseru kaget, "Si tua bangka ini sebenarnya siapa? Kok bisa lebih hebat dari aku?"Di sisi lain, tatapan Diskra menjadi makin dalam. Dia menatap lelaki tua dekil itu tanpa berkedip, seolah ingin melihat sampai ke dasar dirinya.Dia tidak menyangka bahwa lelaki tua itu bisa menerima satu
Baca selengkapnya