Belum sempat Ewan berbicara, Nazar tiba-tiba telah maju."Bocah, aku sudah bertemu banyak orang sombong, tapi belum pernah melihat orang sesombong kamu. Aku benar-benar nggak mengerti. Kamu bahkan sudah bukan pria lagi, kenapa masih bisa sesombong ini?"Ananta menatap Nazar dengan dingin sambil mengumpat dalam hati, 'Dasar pendeta busuk, tunggu saja. Nanti akan kupotong lidahmu.'"Apa lihat-lihat?" Nazar berkata tanpa sungkan, "Matamu sudah kayak mata ikan mati. Kalau melotot, kamu malah jadi makin mirip mayat. Ananta, kalau aku jadi kamu, aku sudah nggak punya muka untuk hidup.""Warisan mahasuci nggak dapat, malah kehilangan kesempatan jadi pria. Kamu benar-benar sudah mempermalukan Aliran Hitam Putih.""Harus kuakui, kamu juga cukup nekat. Satu tebasan belum cukup, malah ditambah satu tusukan pedang. Aku bahkan kagum sama keberanianmu. Kalau memang seberani itu, kenapa nggak sekalian bunuh diri?"Setiap ucapan Nazar benar-benar menusuk titik paling sakit Ananta.Ananta sampai nyaris
Leer más