Mag-log inUrat-urat di dahi Ananta menonjol karena marah. Kemudian dia berkata, "Jadi, percakapanku dengan Tetua Foniks tadi juga kalian dengar?""Tetua Foniks sudah lama mati. Orang yang bicara denganmu tadi adalah aku." Nazar tertawa terbahak-bahak.Ananta tampak tidak percaya karena suara Nazar saat ini sama sekali berbeda dengan suara Tetua Foniks yang didengarnya sebelumnya."Nggak percaya? Akan kuperagakan sekali lagi."Nazar berdeham, lalu berkata, "Bocah Ananta, cepat berlutut!"Ekspresi Ananta berubah drastis.Saat ini, suara Nazar terdengar sangat tua dan dipenuhi kewibawaan yang luar biasa. Suaranya benar-benar sama persis dengan suara Tetua Foniks sebelumnya."Kamu pasti heran kenapa aku bisa menirukan suara orang lain, bukan?""Nggak usah heran. Keahlian semacam ini di dunia sekuler kami disebut ventrilokuisme. Jangan mikir macam-macam. Bukan 'permainan mulut' yang itu."Begitu Nazar mengatakan itu, Dewi Kembang dan Midori langsung memahami maksudnya. Wajah mereka seketika memerah d
Ananta sebenarnya sudah meninggalkan Gunung Ungu. Namun, dia tiba-tiba teringat bahwa ada ribuan pohon persik di hutan persik. Jadi, sebenarnya di bawah pohon mana Kitab Bunga Matahari disimpan?Karena itu, dia berbalik untuk menanyakannya kepada Tetua Foniks.Tak disangka begitu memasuki bagian dalam Gunung Ungu, dia melihat Nazar sedang memegang Pedang Suci Hitam-Putih."Letakkan pedangku!" bentak Ananta kepada Nazar."Kenapa dia kembali?"Nazar terkejut saat melihat Ananta. Dia segera bersembunyi di belakang Ewan dan buru-buru memasukkan Pedang Suci Hitam-Putih ke dalam Cincin Ruang.Saat itu, Ananta melihat Ewan."Willy Polin?"Ananta tertegun. Jelas dia tidak menyangka Ewan berada di sini. Kemudian, niat membunuh muncul di matanya."Nggak, kamu bukan Willy Polin.""Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu bisa berada di sini?"Ananta benar-benar tidak mengerti. Gunung Ungu hanya memiliki satu pintu masuk. Ketika masuk sebelumnya, dia sama sekali tidak melihat Ewan dan yang lainnya. Namu
Dewi Kembang berkata, "Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini!""Ya." Ewan mengangguk.Mereka pun keluar dari balik patung batu.Ewan berjalan paling belakang. Saat hendak pergi, dia tanpa sengaja melirik ke suatu tempat dan langsung menghentikan langkahnya."Ada apa?" tanya Dewi Kembang setelah menyadari gerak-gerik Ewan.Ewan tidak menjawab. Dengan hati-hati, dia mengangkat salah satu ubin di bawah patung batu. Sesaat kemudian, sebuah kotak kayu hitam muncul di hadapan mereka."Masih ada harta karun?" Nazar tertegun.Ewan mengeluarkan kotak kayu itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebutir pil merah. Pil itu tidak mengeluarkan aroma obat dan tingkatannya pun tidak dapat diketahui. Di bawah pil tersebut terdapat selembar kertas kulit dengan beberapa baris tulisan.[ Sepanjang hidupku, aku paling gemar mendalami ilmu alkimia. Sayangnya hingga akhir hayat, aku tidak pernah berhasil membuat satu pun pil suci. Pil ini sebenarnya yang paling berpeluang mencap
"Ananta, kamu adalah orang pertama yang tiba di sini. Sepertinya kamu memang berjodoh denganku. Aku sudah memutuskan untuk mewariskan ilmu dewa ini padamu."Nazar terus menyamar sebagai Tetua Foniks. Suaranya yang dibuat tua dipenuhi kewibawaan yang tak tertandingi.Ananta sangat gembira. "Terima kasih, Senior ....""Jangan buru-buru berterima kasih. Bantu aku melakukan satu hal dulu."Nazar berkata, "Bunuh semua orang dari perguruan lain. Aku nggak ingin diganggu. Mengerti?""Aku mengerti!" Ananta langsung menyanggupi.Nazar melanjutkan, "Setelah membunuh mereka, pergilah ke hutan persik. Aku menyimpan ilmu dewa itu di bawah salah satu pohon persik. Namanya Kitab Bunga Matahari!""Terima kasih, Senior."Ananta segera bangkit, bersiap pergi membunuh orang-orang dari perguruan lain dan mencari ilmu dewa tersebut."Tunggu."Nazar kembali berkata, "Ananta, kamu mau pergi begitu saja?"Ananta tertegun dan bertanya, "Apakah Senior masih memiliki perintah lain?""Aku sudah memberitahumu temp
"Mengebiri diri hanyalah ujian pertama. Ujian kedua adalah menemukan ilmu dewa. Senior, tenang saja. Aku pasti akan menemukan ilmu dewa itu."Ananta sangat percaya diri. Setelah berkata demikian, dia bangkit dari tanah dan berjalan menuju patung batu.Ewan dan yang lainnya yang bersembunyi di belakang patung batu langsung tegang. Jika Ananta berjalan mengitari patung batu, dia akan langsung menemukan mereka."Bagaimana ini?"Mereka mulai cemas.Saat Ananta tinggal berjarak tiga meter dari patung batu, tiba-tiba terdengar suara yang tua."Aliran Hitam Putih itu apaan? Memangnya pantas mendapatkan warisanku?"Ananta terkejut dan langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap patung batu dengan tatapan penuh keraguan."Senior, apakah ... Anda yang berbicara?" tanya Ananta dengan hati-hati. Meskipun suara tadi tidak membawa aura yang mengerikan, tetap saja suara itu dipenuhi kewibawaan."Berlutut!"Suara tua itu kembali terdengar.Buk!Tanpa ragu sedikit pun, Ananta langsung berlutut di tan
Meskipun Ananta adalah Putra Suci ke-17 Aliran Hitam Putih dan memiliki tingkat kultivasi yang luar biasa, setelah melakukan satu tebasan tadi, rasa sakitnya tetap membuatnya nyaris terjatuh.Bagaimanapun, itu adalah bagian paling rapuh dari seorang pria."Ugh ...."Ananta mengerang dengan suara yang tertahan. Dia memandang patung batu dan kolam yang sudah mengering, tetapi tidak melihat ilmu dewa apa pun."Apa yang terjadi? Aku sudah melakukan apa yang dikatakan sang mahasuci. Kenapa ilmu dewanya belum muncul? Jangan-jangan sang mahasuci tahu kalau aku mencoba mencari celah?"Benar, Ananta memang sengaja menyisakan jalan keluar. Dengan tingkat kultivasinya sekarang, sekalipun mengebiri diri, dia masih bisa memulihkannya dengan mudah.Justru karena itulah Ananta berani bertindak setegas itu. Semua itu dilakukannya demi mendapatkan ilmu dewa yang ditinggalkan sang mahasuci.Setelah menunggu beberapa saat dan masih belum melihat sedikit pun tanda-tanda ilmu dewa, Ananta bergumam, "Apa ak






