Sore itu, suasana di ruang tamu masih hangat. Tapi aura Bu Ratna mulai berubah — bukan lagi lembut seperti tadi, melainkan tajam, seperti kucing betina yang mencium aroma ancaman. Ia menatap Marni dari ujung kepala sampai ujung kaki, senyum tipisnya nyaris tak bisa disebut ramah. “Jadi… kamu ini pembantu disini ya, Marni?” tanyanya, nada suaranya datar tapi sarat makna. Marni, yang sedang menata cangkir teh, hanya tersenyum lebar. “Iya, Bu. Pembantu… spiritual, emosional, dan domestik.” Pak Gunawan yang duduk di sebelahnya terkekeh. “Wah, definisinya keren. Pembantu zaman modern ya, Rat.” Bu Ratna melirik tajam suaminya. “Kamu diam dulu, Pak. Saya lagi nanya serius.” Lalu matanya kembali ke Marni. “Kalau boleh tahu, kamu sekolah di mana dulu?” Edgar spontan memegangi jidat. “Ma…” gumamnya pelan. Marni menoleh, menatap Bu Ratna dengan polos. “Sekolah ya, Bu? Hmm…” — ia pura-pura mikir lama, seperti mencari inspirasi — “saya… nggak lulus SD, Bu.” Suasana langsung bek
Terakhir Diperbarui : 2025-10-24 Baca selengkapnya