LOGIN"Aku rela berbagi suamiku, karena aku lebih takut kehilangan dia selamanya." Keira, seorang arsitek berbakat dan istri setia Carlos, harus menghadapi kenyataan pahit: dia tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya. Setelah kehamilannya yang berisiko tinggi, dokter memperingatkan bahwa Keira harus menjaga diri—termasuk mengurangi aktivitas intim dengan Carlos. Tapi Carlos bukan pria biasa. Dengan energi dan hasrat yang menggebu, pria miliarder itu mulai menunjukkan tanda-tanda stres. Keira tahu, jika terus begini, pernikahan mereka bisa hancur. Maka, dengan berat hati, Keira mengajukan solusi radikal: "Carlos, menikahlah lagi."
View MoreSebelumnya, Mariana sudah tahu ada yang tidak beres sejak pertama kali melihat foto anak Dinda di Nistagram.Anak itu bernama Mimi. Kecil, pipinya bulat, matanya besar dan hidup. Rambutnya hitam pekat, sedikit bergelombang. Tipe anak yang bikin orang refleks senyum saat melihatnya.Lucu. Terlalu lucu.Masalahnya bukan di kelucuannya.Masalahnya ada pada satu pikiran yang terus mengganggu kepala Mariana sejak scroll foto itu:“Kok nggak ada bule-bulenya sama sekali?”Padahal suami Dinda, Nick, bule Jerman tulen. Tinggi, putih, rambut terang, hidung tegas. Kombinasi yang secara genetika seharusnya muncul minimal satu ciri blasteran.Tapi Mimi?Kulit putih oriental. Rambut hitam lebat. Tatapan mata… sialnya mirip sekali dengan Edgar — suami Mariana.Bukan mirip sekilas.Mirip nggak sopan.Cara alisnya naik waktu tersenyum. Cara matanya menyipit sedikit kalau tertawa. Bahkan ekspresi bengalnya.Mariana berusaha menepis pikiran itu. Menuduh orang tanpa bukti itu gila. Tapi insting perempua
-- Edgar menatap amplop cokelat itu seperti menatap vonis. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama klinik dan satu kalimat kecil: Hasil Uji DNA – Rahasia Tangannya sempat gemetar ketika ia merobek tepinya. Bukan karena takut pada hasilnya—melainkan karena ia sudah tahu, jauh di dalam dirinya, apa yang akan tertulis. Ia membaca sekali. Lalu dua kali. Lalu duduk. Probabilitas hubungan biologis: 99,98%. Dunia tidak runtuh. Tidak ada petir. Tidak ada musik latar. Yang ada hanya dada Edgar yang terasa sesak, seolah udara tiba-tiba menjadi barang langka. Mimi. Anak itu… anaknya. Ia memejamkan mata. Wajah kecil itu muncul lagi—cara ia tersenyum malu-malu, cara ia memegang ujung baju ibunya. Cara ia memandang dunia tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa terlalu sering berbohong. Edgar mengusap wajah. Napasnya berat. Ini bukan sekadar hasil tes. Ini adalah utang hidup karena kesalahan Edgar dimasa lalu. --- Mariana pulang lebih awal hari i
Beberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me
---Edgar menutup map biru itu perlahan, seolah takut suara kertas bisa memanggil keputusan yang belum siap ia buat.Nama Dinda Larasati tercetak rapi di halaman pertama: usia, riwayat kerja, status—janda, satu anak perempuan. Semua data itu dulu terasa administratif. Sekarang terasa seperti beban moral.Sebagai direktur, Edgar tahu satu hal dengan pasti: tidak ada perusahaan yang sehat memecat karyawan tanpa alasan. Jabatan setinggi apa pun tidak mengubah hukum tenaga kerja. Bahkan kekuasaan punya pagar—dan kali ini pagar itu bernama alasan objektif.Ia memijat pelipis.Mariana sudah jelas. Ia tidak mau Dinda ada di gedung yang sama. Bukan karena kinerja. Justru karena sejarah masa lalu.Dan sejarah itu… Edgar yang menulisnya.---Dinda tidak pernah datang ke hidup Edgar sebagai perempuan yang minta diselamatkan. Ia datang sebagai perempuan yang berdiri sendiri, terlalu mandiri untuk usianya, terlalu dewasa untuk lingkar pergaulan Edgar saat itu.Flashback itu datang tanpa izin.Dulu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews