Satu gigitan nyamuk di pipinya, membuyarkan hayalan Bram tentang Anes. "Nyamuk sialan!" umpatnya. Entah, ada apa dengannya, hingga keinginan dan obsesinya untuk bersama Anes, begitu kuat di dalam hatinya. "Maaf, ya, semua. Aku sedang ingin menikmati duniaku. Dunia halu yang sengaja kuciptakan sendiri," lirihnya. Bram mengusap wajahnya dengan kasar. Jam yang menempel di dinding kamarnya telah menunjukkan angka dua puluh tiga. Melihat perabotnya yang sudah dia siapkan baik-baik, laki-laki lajang itu berniat ingin melelapkan netranya, sejenak terbang ke pulau kapuk. Namun, belum genap lima menit netranya terpejam, tiba-tiba terdengar notifikasi ponselnya berbunyi. Ting! Ingin rasanya dia mengabaikan saja. Tetapi entah mengapa, dia penasaran saja siapa orang yang hampir tengah malam mengirimkan pesan untuknya. "Semoga Mbak Anes," gumamnya.. Bram mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, di samping tempat tidurnya. Netranya menyipit terkena cahaya lampu ponselnya
Terakhir Diperbarui : 2026-01-15 Baca selengkapnya