Devina jelas bukan wanita biasa. Dia tersenyum tipis lalu berkata, "Nyonya pintar bercanda, ya. Aku dan Raka itu sudah masa lalu. Lagi pula kami cuma teman, jadi jangan terlalu percaya gosip di luar."Kedua nyonya itu langsung saling bertukar pandang.Teman?Mereka jelas tidak buta. Kalau Devina gagal mendapatkan Raka, itu hanya berarti kemampuannya masih kurang. Namun sekarang dia malah berusaha menyangkal semuanya seperti ini, itu malah terasa lucu.Devina kemudian memandang ke arah Ignas dengan mata penuh kelembutan. "Tapi sekarang aku bertemu Ignas. Dia dewasa, tenang, dan lebih memahami diriku. Bisa bersama dia adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku."Kedua nyonya itu saling tersenyum sambil bertukar tatapan penuh arti. Wajah mereka tetap mempertahankan senyum sopan."Kalau begitu selamat ya, Bu Devina akhirnya menemukan cinta sejati.""Iya. Cinta sejati memang langka. Lagi pula zaman sekarang bukannya ada pepatah, di depan cinta sejati, usia bukan masalah."Senyum Devina lan
Baca selengkapnya