LOGINSelama enam tahun pernikahan, Brielle Sudarma selalu menjalankan perannya sebagai Nyonya Pramudita dengan sepenuh hati. Baru belakangan dia tahu, ternyata Raka selama ini menghidupi cinta pertamanya di luar negeri. Dulu Brielle mengira, hati sedingin apa pun tetap akan bisa luluh suatu hari karena ketulusan. Namun saat wanita itu memenangkan penghargaan internasional dan mengadakan pesta kemenangan, Brielle hanya bisa menatap anak perempuannya dibawa masuk ke ruang operasi yang dingin. Saat itulah, dia baru benar-benar sadar. Akhirnya, Brielle menarik kembali perasaannya yang selama ini dianggap tak berharga. Kemudian, dia menyerahkan surat cerai, lalu pergi bersama putrinya tanpa menoleh sama sekali. .... Setelah kembali menekuni karier, Brielle yang dulunya hanyalah ibu rumah tangga, berubah menjadi sosok yang paling dicari dalam dunia medis. Makalah ilmiahnya diterbitkan di jurnal internasional paling bergengsi dan penelitiannya memenangkan penghargaan dari berbagai negara. Ketika dia tampil memukau di hadapan dunia dan memutuskan untuk memberi dirinya sendiri kesempatan meraih kebahagiaan yang baru, pria yang selama ini begitu angkuh itu, akhirnya runtuh pertahanannya. Raka kehilangan akal sehatnya. Dia berlutut di hadapan Brielle dengan mata yang sembap dan memohon dengan rendah hati, "Brie ... jangan tinggalkan aku ...."
View MoreBrielle kembali duduk di kursinya. Saat itu, para pelayan mulai menghidangkan makanan penutup. Di depan setiap orang diletakkan semangkuk kecil mango sago.Tampilannya begitu menggugah selera.Namun, Raka tidak menyentuh bagiannya. Dia hanya mendorong mangkuk itu perlahan ke depan Brielle. "Buat kamu saja."Suaranya rendah, dengan nada yang samar-samar terdengar seperti sedang membujuk.Brielle menatapnya beberapa saat, lalu mengambil sendok dan mulai menyantapnya. Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul di benaknya. Apa tadi sikapnya sedikit keterlaluan?Bagaimanapun juga, hari ini Raka adalah salah satu tokoh utama dalam pesta perayaan ini sekaligus presdir Pramudita Biotech. Kalau dipikir-pikir, semua sikap anehnya tadi mungkin juga karena ....Brielle menghentikan pikirannya di situ. Dia menghabiskan mango sago miliknya dalam beberapa suapan. Setelah itu, dia mengambil mangkuk milik Raka dan ikut menghabiskannya.Raka menatapnya. Kesuraman di matanya perlahan menghilang, sementara sudut b
Melihat hidangan mulai disajikan, Brielle baru menyadari bahwa dia memang sudah lapar.Dia mengangguk. "Baiklah, kita makan dulu saja. Jangan sampai perut kosong."Brielle sedang berpikir ingin mengambil lauk apa, ketika Raka mengangkat sendok saji dan mengambil bagian perut ikan kukus yang paling lembut, lalu meletakkannya ke piring Brielle dengan alami.Bersamaan dengan itu, dia berkata kepada Harvis, "Profesor Harvis memang sosok berbakat di bidang ini. Cara berpikirmu selalu visioner. Aku benar-benar kagum."Brielle mengedip pelan, lalu menoleh ke arah pria di sampingnya.Nada bicara Raka terdengar tenang, tak ada yang aneh. Namun entah mengapa, Brielle merasa ada makna lain yang tersirat di balik ucapannya.Harvis tersenyum tipis sambil mendorong kacamatanya. "Pak Raka terlalu memujiku. Aku hanya berusaha menjalankan pekerjaanku sebaik mungkin."Brielle kembali menatap Raka dengan sorot mata yang seolah sedang mengamatinya.Raka menyadari tatapannya, tetapi tidak membalas pandanga
Siang harinya, Raka mentraktir seluruh anggota tim proyek makan bersama di aula perjamuan. Malam harinya, dia juga telah menyiapkan sebuah pesta perayaan berskala besar.Tim Harvis kini telah berkembang menjadi lebih dari 30 orang. Ditambah para asisten dan staf dari berbagai divisi, total ada lima meja yang terisi di aula perjamuan.Brielle duduk bersama tim Harvis di salah satu meja.Raka datang sedikit lebih lambat, tetapi kursi di samping Brielle sengaja dibiarkan kosong untuknya. Seolah semua orang sudah memiliki kesepahaman bahwa tempat di sebelah Brielle memang disediakan bagi Raka.Brielle tidak menyadari hal itu. Dia sedang mendengarkan Harvis menjelaskan rencana proyek berikutnya. Saat membahas topik yang berkaitan dengan bidang mereka, Brielle dan Harvis memang memiliki perasaan seolah menemukan seseorang yang benar-benar memahami diri masing-masing.Seakan ada hal-hal yang tak perlu Brielle ucapkan karena Harvis sudah bisa menebaknya. Begitu pula sebaliknya. Harvis kadang h
Brielle tidak menghampirinya, melainkan berjalan ke arah Harvis yang sedang berada di samping panggung.Tatapan Raka mengikuti langkahnya. Saat melihat Brielle menyapa dan mengobrol dengan Harvis, dia mendorong pelan kacamata di pangkal hidungnya. Di balik wajahnya yang tampak tenang dan elegan, tersirat gejolak yang sulit disembunyikan.Kemudian, Raka berkata kepada para tamu di sampingnya, "Permisi sebentar."Dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana, dia melangkah ke arah Brielle.Brielle sedang menanyakan kondisi Harvis ketika sebuah suara pria yang rendah terdengar dari belakangnya. "Kamu cantik sekali."Brielle menoleh. Tatapan Raka tertuju lurus kepadanya."Terima kasih." Brielle menatapnya sejenak. Kacamata yang dipakainya hari ini ternyata adalah kacamata yang dulu pernah dia hadiahkan kepada Raka.Harvis berkata kepada Brielle, "Brielle, kalian ke tempat duduk kalian saja. Acara akan segera dimulai."Brielle mengangguk. Dia tidak ingin mengganggu persiapan terakhir Harvis,
Malam hari, Brielle sedang membereskan beberapa urusan pekerjaan. Pukul 9 malam, dia menerima pesan dari Niro yang mengatakan bahwa dirinya sudah tiba di Amadeus dan besok pagi akan menemaninya terbang ke Kyoza.[ Besok jam 8 pagi aku jemput kamu ke bandara. ]Brielle sebenarnya tidak ingin merepotk
Xena berdiri di samping, menatap Brielle yang sudah melangkah masuk ke lobi. Dia tak kuasa bertanya kepada Faye, "Faye, tadi yang antar Brielle pulang itu siapa?"Naik mobil mewah dan juga tampan.Faye menjawab singkat, "Lambert, presdir Grup Seraphine."Xena langsung terkejut dalam hati. Tak disang
Raline menggigit bibirnya. Air mata terus mengalir. Dia sama sekali tidak menyangka dua kalimat yang diucapkannya dengan sembarangan justru memicu kemarahan kakaknya sebesar itu.Sepertinya Anya telah menceritakan hal ini kepada Brielle, lalu Brielle mencari kakaknya untuk membuat keributan. Itulah
"Ke depannya, jangan sembarangan sentuh barang-barangku." Suara Raka terdengar sebagai peringatan.Meskipun tidak sampai berteriak, sejak kecil Raline belum pernah menerima ucapan keras dari kakaknya. Di telinganya, itu sama saja seperti dibentak. Rasa sedih langsung meluap. "Oke, aku nggak akan sen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore