Di dalam kamar, Maya kini bangkit ke posisi duduk, napasnya masih terengah-engah. Wajahnya berseri-seri oleh kepuasan, rambutnya acak-acakan jatuh di bahunya."Itu luar biasa, Mas," ucapnya, mencium Karyo yang kini duduk di sampingnya. "Saya kangen juga kita berdua seperti ini"Karyo tersenyum malu, tangannya membelai rambut Maya dengan lembut. "Saya juga bu.""Terima kasih untuk selalu memuaskan aku," balas Maya, tangannya membelai wajah Karyo. "Tapi Mas Karyo belum keluar kan?"Matanya berkilat nakal, jemarinya turun menyusuri dada Karyo yang basah oleh keringat."Memang belum," geram Karyo, napasnya masih terengah. "Saya masih punya banyak untuk Bu Maya."Tanpa peringatan, Karyo memegang bahu Maya, membalikkan tubuhnya dengan satu gerakan cepat dan kasar.Ratih menegang mendengar percakapan intim ini. Ada sesuatu yang menyakitkan namun juga anehnya menarik dalam melihat suaminya
Last Updated : 2026-02-09 Read more