Riani meliriknya. "Apa sudah ada janji?" Dina langsung berbohong, "Aku adiknya Raisa, apa perlu janji?" Riani berkata, "Bu Raisa sedang rapat, Anda harus menunggu. Tapi saya nggak bisa memastikan identitas Anda, jadi tolong beri tahu saya nama Anda agar saya bisa melapor kepada Bu Raisa." Dina berpura-pura terkejut, bukan marah, tetapi seolah-olah dia tiba-tiba menemukan sesuatu yang aneh. Dia menoleh ke Nora dan tertawa, "Bu Raisa? ... Hahahaha, ya ampun, aku nggak tahan, ini aneh banget! Raisa sekarang sudah jadi bos? Menarik sekali!" Riani mengerutkan kening.Dia merasa sangat muak.Nora menarik tangan Dina, mendesaknya untuk meredam tawa. "Berhenti tertawa, urusan kita lebih penting." Dina dengan enggan menghilangkan ekspresi mengejeknya, lalu berkata dengan terpaksa, "Baik, aku akan menunggu. Sekarang pergi ke ruang rapat dan bilang ke Raisa untuk segera mengakhiri rapatnya. Kalau nggak, aku akan bosan dan kesal. Ngomong-ngomong, di mana ruang tamu kalian? Suruh seseorang baw
Magbasa pa