Lucano langsung menutup mulut, menunjuk bubur di depannya, lalu merentangkan kedua tangan dengan putus asa."Kasih ke aku. Kalau dia masih nggak mau makan, kita langsung tuang ke mulutnya. Nggak mungkin kita biarin mogok makan dan minum." Alvian gelisah, membuka pintu kamar yang tertutup rapat.Alvian masuk ke kamar gelap gulita itu, mengernyit, memanfaatkan cahaya lemah dari lorong untuk melihat jalan. Suasana terasa sunyi dan menakutkan. Tiba-tiba, firasat buruk merayap di hatinya.Lucano masih belum menyadari betapa seriusnya situasi itu. Dia membawa bubur, mengikuti di belakang Alvian."Jossie!" Alvian tiba-tiba menerjang ke depan. Dia berteriak dengan panik, "Cepat telepon ambulans! Cepat panggil orang untuk selamatkan dia! Jossie, jangan menakutiku."Lucano terpaku di tempat. Seolah-olah merasakan sesuatu, dia menekan sakelar lampu dengan tangan yang gemetar. Yang muncul di depan mata adalah darah merah menyala. Jossie tergeletak dalam genangan darah itu. Kulitnya pucat, gaun pan
Read more