MasukSetelah menghabiskan satu malam penuh kemesraan, Maggie menjadi Nyonya Keluarga Devantara. Tunangannya secara pribadi mengantarnya ke ranjang pria lain, lalu malah menikahi adik angkatnya. Semua orang meninggalkan Maggie dan menindasnya. Dia pernah berpikir bahwa Easton berbeda dari yang lain. Tidak disangka setelah tiga tahun pernikahan, dia dilukai begitu dalam. Anaknya meninggal di dalam kandungan, sementara kekasihnya menantangnya secara terang-terangan. Dia tidak ingin lagi mencintai siapa pun, juga tidak ingin jatuh cinta lagi. .... Easton selalu mengira bahwa Maggie adalah miliknya dan bisa dia perlakukan sesuka hati. Namun, ketika Maggie meninggalkannya tanpa menoleh, dia benar-benar panik. "Easton, sadarlah. Hubungan kita sudah lama berakhir." Easton menahan air mata di pelupuk matanya. Dia menolak, "Aku nggak mau hubungan kita berakhir." Kali ini, Maggie memilih untuk mengikuti kata hatinya. Dia memberanikan diri untuk jatuh cinta satu kali lagi, tetapi hanya sekali.
Lihat lebih banyakSuasana hati Easton sangat baik. Sudut bibirnya sedikit terangkat, menampilkan senyum penuh rasa sayang. "Tidur lagi sebentar. Nanti turun untuk makan."Maggie membenamkan wajahnya ke dalam selimut, bulu matanya terkulai saat dia mengangguk. Sepasang matanya yang jernih tampak lembap dan penuh perasaan.Easton menunduk mencium pipinya, lalu berkata puas, "Anak baik."Maggie mengerutkan wajah kecilnya dan mengusap pipinya dengan ekspresi jijik. Gerakan kecil yang hampir tidak terlihat itu tetap tertangkap oleh tatapan dalam pria itu.Easton mengerutkan kening, sengaja ingin menggodanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi tempat tidur, lalu dia menunduk dan menjatuhkan satu demi satu ciuman di wajah lembut Maggie.Maggie ingin menghindar, tetapi pergelangan kakinya sudah ditahan oleh sepasang tangan yang besar. Dia tidak bisa bergerak, hanya bisa duduk di tempat tidur dengan wajah cemberut."Kamu jijik sama aku?" Easton mengerutkan kening dan menatapnya dengan sorot mata dalam.Maggie mema
"Terlambat!"Easton sudah sama sekali tidak ingin terlihat dingin seperti penampilannya. Dia menyeringai lebar dengan senyuman bodoh. Dengan sedikit gugup, dia tetap berlutut di lantai, lalu memasangkan cincin itu ke jari manis tangan kanan Maggie dengan sungguh-sungguh.Dia sulit menenangkan perasaannya. Dia menggenggam tangan Maggie dan menunduk mencium punggung tangannya."Segitu senangnya?" Hati Maggie terasa lembut sekaligus sedikit perih. Tangannya terangkat menyentuh tengkuk Easton.Suasana hati Easton benar-benar bagus. Wajahnya segar dan berseri-seri. Dia mendongak meminta ciuman yang panjang dan dalam."Gaun pengantinmu mau yang haute couture dari merek mewah atau rancangan desainer yang dibuat khusus sesuai ukuran? Atau bulan depan kita terbang ke Paris saja, temui langsung desainer brand dan pesan beberapa model sesuai selera kamu.""Pernikahan tetap harus diadakan. Dengan latar belakang keluargaku ada beberapa batasan, jadi mungkin harus dilakukan di dalam negeri. Tapi kit
Maggie sendiri tidak tahu bagaimana semuanya bisa berlanjut seperti itu. Dia hanya merasa tubuhnya sudah dipeluk Easton dan dibawa ke kamar mandi. Suara air mengalir deras, sementara kesadarannya perlahan terasa melayang.Saat hampir mencapai puncak kelelahan, dia menahan tubuhnya di tepi bak mandi dan sempat berpikir, 'Bagaimanapun juga aku nggak hamil, nggak ada yang perlu ditakutkan.'Dia mulai menjadi lebih aktif, sedikit bersikap manja dan menyenangkan hati. Meski masih agak canggung, hal itu tetap membuat Easton merasa senang."Lain kali jangan sebodoh itu. Kalau nanti ada yang mengganggu kamu lagi, kamu mau gimana?" Easton menunduk mencium pipinya, lalu memeluknya ke dalam pelukan."Cari kamu."Easton terlihat sangat puas. Sudut bibirnya terangkat. "Ya, sudah pintar."Air memercik ke mana-mana. Maggie kelelahan sampai tidak mampu mengucapkan satu kalimat pun. Dia menggenggam lengan bawah Easton dan memohon dengan pelan, "Boleh ke tempat tidur dan rebahan sebentar?"Easton mengan
Easton memang masih marah, tetapi dia tetap berjongkok membantu Maggie mengganti sepatu. Setelah itu dia menggulung lengan kemejanya, duduk di sofa, lalu menuang segelas air dan meminumnya perlahan."Masih nggak mau ke sini? Berdiri di sana mau dihukum ya?" Easton melirik orang yang masih berdiri kikuk di area pintu masuk.Maggie diam-diam mengamati ekspresinya dan meletakkan tas, lalu berjalan pelan menghampirinya."Ke sini. Kita bicara." Easton menepuk sofa di sebelahnya. Alisnya masih tajam, sisa amarah masih terlihat di wajahnya. Jelas dia belum benar benar tenang.Maggie menyentuh saku bajunya. "Aku mau ke toilet dulu. Tunggu aku sebentar boleh?"Easton tidak menjawab. Dia kembali menggigit sebatang rokok, lalu menyadari Maggie masih berdiri menatapnya.Entah kenapa, separuh amarahnya langsung menguap. Dia sengaja mengangkat kelopak mata dan menggoda, "Kenapa? Perlu aku gendong ke atas?"Maggie menggeleng dengan cepat, lalu setelah sadar, dia berlari kecil menaiki tangga ke lantai












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak