ログインSetelah menghabiskan satu malam penuh kemesraan, Maggie menjadi Nyonya Keluarga Devantara. Tunangannya secara pribadi mengantarnya ke ranjang pria lain, lalu malah menikahi adik angkatnya. Semua orang meninggalkan Maggie dan menindasnya. Dia pernah berpikir bahwa Easton berbeda dari yang lain. Tidak disangka setelah tiga tahun pernikahan, dia dilukai begitu dalam. Anaknya meninggal di dalam kandungan, sementara kekasihnya menantangnya secara terang-terangan. Dia tidak ingin lagi mencintai siapa pun, juga tidak ingin jatuh cinta lagi. .... Easton selalu mengira bahwa Maggie adalah miliknya dan bisa dia perlakukan sesuka hati. Namun, ketika Maggie meninggalkannya tanpa menoleh, dia benar-benar panik. "Easton, sadarlah. Hubungan kita sudah lama berakhir." Easton menahan air mata di pelupuk matanya. Dia menolak, "Aku nggak mau hubungan kita berakhir." Kali ini, Maggie memilih untuk mengikuti kata hatinya. Dia memberanikan diri untuk jatuh cinta satu kali lagi, tetapi hanya sekali.
もっと見るI stood there, my hands trembling slightly as I adjusted the edge of the tablecloth. The room was too quiet, and I could feel his eyes on me. My heart raced, and I told myself it was just my imagination. It had to be.
"You're shaking," his voice broke the silence. Deep and steady, it filled the space like a heavy presence I couldn’t escape. I froze, my hand still resting on the cloth. “I’m not,” I lied quickly, though my voice betrayed me. I didn’t dare look at him. "You are," he said again, this time softer, like he was enjoying my discomfort. I swallowed hard. "I don’t know what you mean," I whispered, keeping my eyes fixed on the table. Before I could take another breath, I felt his fingers gently lift my chin. My body stiffened, and I reluctantly met his gaze. His eyes... they were dark, intense, searching mine like he could see straight through me. “Sophia,” he said, my name rolling off his tongue in a way that made my cheeks flush. "Why are you so nervous around me?" "I’m not," I insisted, though my voice cracked. His lips curved into a small, knowing smile. “You are,” he repeated, his thumb brushing lightly against my chin. I took a shaky step back, breaking the contact. "You shouldn’t... you shouldn’t be doing this," I said, my voice barely above a whisper. “Doing what?” he asked, taking a slow step forward. “This,” I said, gesturing vaguely between us. “I’m just a maid. You shouldn’t be... looking at me like that or—” "Looking at you like what?" he interrupted, his tone teasing now. “Like... like that,” I stammered, my face burning. “You’re... you’re my boss. This is wrong.” His smirk deepened, and he took another step toward me. “Wrong?” he repeated, his voice dropping lower. “Or is it that you don’t want to admit you feel it too?” I shook my head quickly, panic rising in my chest. “No, I don’t feel anything. I mean, I can’t feel anything. This isn’t right. I’m just a maid.” “Sophia,” he said firmly, his tone commanding now. “Stop hiding behind that excuse.” “It’s not an excuse,” I said, my voice trembling. “It’s the truth.” “You think I care about titles?” he asked, stepping even closer until I could feel the heat radiating from him. “Do you think that matters to me?” “It should,” I said, my voice breaking slightly. “It matters to me.” He tilted his head slightly, studying me. "Why? Why does it matter so much to you?" “Because,” I said quickly, searching for the right words. “Because people like me... we don’t belong with people like you. You’re... you’re powerful, and I’m—” “Beautiful,” he cut me off, his voice firm. I froze, my words dying on my lips. “What?” I whispered. “You’re beautiful, Sophia,” he said again, his tone softer this time. “And I’m tired of pretending I don’t notice it. You think being a maid defines you, but it doesn’t. Not to me.” I stared at him, my mind racing. “But... you can’t mean that,” I said, my voice barely audible. “I do,” he said, stepping closer. “I’ve meant it for a long time.” I shook my head, trying to back away, but my back hit the wall. “You’re just saying that,” I said, my voice shaking. He leaned in slightly, his face inches from mine. “Do I look like the kind of man who says things he doesn’t mean?” I didn’t know how to respond. My heart was pounding so hard I was sure he could hear it. His presence was overwhelming, and I felt like I was drowning in his gaze. “I’m just a maid,” I said again, though the words felt hollow now. “And I’m just a man,” he replied, his voice soft. “A man who wants you.” I let out a shaky breath, my mind spinning. "This isn’t fair," I said quietly. "You’re not supposed to... to..." “To what?” he asked gently. “To make me feel this way,” I admitted, my voice barely above a whisper. For a moment, neither of us said anything. The room felt heavy with unspoken words, with emotions I didn’t want to face. Finally, I broke the silence. “I can’t do this,” I said, shaking my head. “I don’t belong in your world.” He reached up, brushing a strand of hair from my face. “You belong wherever I say you belong,” he said softly. “And right now, I want you here. With me.” My breath hitched, and I felt tears prick at the corners of my eyes. “Why me?” I asked, my voice breaking. “Because you’re different,” he said simply. “Because when I look at you, I see something I’ve never seen in anyone else.” I didn’t know what to say. Part of me wanted to run, to hide from the intensity of his words. But another part of me wanted to believe him, to let myself feel what I’d been trying so hard to deny. “You’re scared,” he said softly, his hand still resting against my cheek. I nodded slowly, unable to find the words. “It’s okay to be scared,” he said. “But don’t let it stop you from living.” I looked up at him, my eyes searching his for any sign of doubt. But all I saw was sincerity, a depth of emotion that left me speechless. He leaned in slightly, his breath warm against my skin. “I’m not going to force you,” he said. “But I’m not going to lie to you either. I want you, Sophia. And I think you want me too.” My heart ached at his words, and I felt my resolve slipping. “This isn’t supposed to happen,” I whispered. “Maybe not,” he said, his lips brushing against my temple. “But sometimes, the best things in life aren’t supposed to happen. They just do.” I closed my eyes, letting his words sink in. For the first time, I felt myself letting go of the fear, the doubt. Maybe he was right. Maybe it was okay to let myself feel, to let myself want. But before I could respond, the sound of a phone ringing shattered the moment. He pulled back slightly, his expression shifting. “I have to take this,” he said, his tone serious. I nodded, stepping back as he pulled his phone from his pocket. The tension in the room lingered, but the moment was gone. As he answered the call, I watched him, my mind racing. I didn’t know what would happen next, but I knew one thing for sure: nothing would ever be the same.Tidak ada satu pun makanan yang menjadi sia-sia. Maggie hamil tujuh bulan, tetapi tubuhnya tetap ramping. Selain kaki yang sedikit bengkak dan kulit perut yang agak mengeras, seluruh tubuhnya tidak menunjukkan reaksi kehamilan yang terlalu besar.Dilihat dari belakang, sosoknya masih langsing. Namun, jika dilihat dari depan, sama sekali bukan begitu. Sekarang bahkan pakaian longgar pun tak mampu menyembunyikan perutnya yang seperti bola. Bulat dan montok, seperti menyelipkan semangka besar di pelukan.Maggie memasang wajah muram, berdiri di depan cermin besar di ruang ganti lantai dua, berputar ke kiri dan ke kanan. "Di dalam ruangan nggak mungkin pakai mantel. Sepertinya memang nggak bisa disembunyikan lagi."Easton tidak menganggapnya serius. Dia memeluknya dari belakang, mengecup lehernya dengan penuh hasrat. Suaranya tetap santai seperti biasa. "Kalau nggak bisa disembunyikan, ya sudah nggak usah. Sudah tujuh bulan. Memangnya kamu benar-benar mau nunggu sampai anak-anak lahir baru
Easton tersenyum tanpa berkata apa-apa, lalu menutup telepon. Dia memang tidak melanggar kesepakatan mereka berdua, tidak lebih dulu membocorkan kabar kehamilan itu kepada siapa pun. Landon sendiri yang cukup cerdas, menebak dari intuisi dan kepekaannya.Sejak saat itu, setiap malam Easton selalu melakukan pendidikan janin. Dengan sungguh-sungguh, dia berbicara ke arah perut Maggie, "Ini Papa, ingat ya, ini Papa.""Putri kecilku yang manis, Papa sudah beliin satu lemari penuh gaun bunga dan boneka. Kamu harus patuh dan baik-baik di dalam perut Mama."Sambil menggigit apel, Maggie akhirnya menyadari ada keanehan dalam percakapan hangat pendidikan janin setiap malam itu. Setiap kali, Easton selalu bersikeras berbicara ke sisi kanan perutnya. Sisi kiri diabaikan."Kamu cuma bicara dengan satu bayi di dalam perutku?"Easton mengangguk dengan wajar. "Kurang lebih begitu."Tentu saja dia tidak berani mengatakan bahwa dalam hatinya dia sudah yakin Maggie mengandung sepasang anak laki-laki dan
Setelah selesai makan, keduanya naik mobil pulang. Di perjalanan, tatapan Easton dalam dan serius. Pandangannya terkunci pada perut Maggie yang sedikit membuncit."Lihat apa sih?" Maggie agak merinding karena terus ditatap."Aku lagi mikir, si kecil yang tadi nggak mau kerja sama saat USG itu jangan-jangan anak laki-laki? Mana mungkin dokter pakai kata nakal dan usil untuk menggambarkan anak perempuan." Easton berpikir dengan sungguh-sungguh, ekspresinya serius.Maggie sama sekali tidak terlalu peduli bayi dalam perutnya laki-laki atau perempuan. Baginya, ini seperti membuka kotak misteri. Saat waktunya tiba, tentu akan tahu jenis kelaminnya.Dia tidak memasukkan ucapan dokter tadi ke hati, hanya menggeleng. "Aku nggak tahu."Easton menghela napas. Satu tangannya menutup sisi kanan perutnya. Dia mendekat dan berkata pelan, "Kalau begitu, yang patuh tadi pasti anak perempuan. Anak perempuan memang pintar dan penurut."Tatapan Maggie yang setajam pisau menyapu ke arahnya.Easton berdeham
Easton meliriknya sekilas. "Masih mau pura-pura? Kamu sudah tahu mereka berdua bersama, 'kan?""Hah?"Easton menyesap teh dengan santai. Jarinya mengusap permukaan cangkir porselen. "Jangan kira aku nggak tahu. Kalian diam-diam punya grup, setiap hari bahas gosip dan kehidupan percintaan. Sejak kapan hubunganmu sama dia jadi sebaik itu?""Grup apaan .... Aku nggak ngerti kamu bicara apa." Maggie menunduk dengan perasaan bersalah, menggenggam ponselnya erat-erat.Faktanya, beberapa bulan terakhir mereka bertiga sering bertemu untuk makan bersama. Hubungan mereka semakin baik, obrolan grup pun luar biasa ramai. Sedikit saja tidak memegang ponsel, bisa langsung menghadapi ratusan pesan belum dibaca.Belum lama ini Jilly bahkan melempar sebuah postingan ke grup dan berseru.[ Girls, kalau suatu hari aku kenapa-napa, kalian harus bantu aku format ponselku, terutama riwayat chat grup kita. Hapus bersih. ]Maggie waktu itu hendak memarahinya karena berkata yang tidak-tidak, tetapi tanpa senga
Alvian berbicara dengan tulus dan kedua tangannya menyatu, lalu digerakkan dengan pelan.Ucapan Alvian sudah sampai sejauh itu, Maggie tidak memiliki alasan untuk menolak lagi. Setelah ragu sejenak, dia berkata, "Kalau begitu, aku kembali untuk ganti baju dulu.""Nggak perlu, nggak perlu. Kamu sudah
Parlin pun menyalakan mobilnya dan mulai melaju. Untuk sesaat, suasana di dalam mobil menjadi sangat hening dan hanya ada aroma kayu cendana terasa dingin serta menenangkan yang memenuhi ruangan.Tak lama kemudian, Maggie bersandar pada jendela mobil dan tertidur. Saat kepalanya terangguk-angguk pel
Teresa menemukan dua batang cokelat, lalu menggeleng dengan polos. "Aku juga nggak tahu. Nanti kalau sudah naik sampai atas baru tahu."Teresa tidak memelankan suaranya. Meskipun Maggie sengaja menjauhkan ponsel dari telinga, percakapan itu tetap terdengar jelas oleh orang di seberang sana.Naik? Ea
"Baru saja kupungut di ruang VIP." Suara Landon agak rendah. Jarak mereka begitu dekat, seolah-olah ingin menyihir hati orang."Nana, kamu masih menyukainya? Dia sekarang sudah mendaftarkan pernikahan dengan orang lain, kamu sudah menyerah?"Landon mengenakan kemeja biru muda, dipadukan dengan hoodi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評価
レビューもっと