Arthur dan Rose sama sekali tidak lagi mendengar suara film yang masih bergulir di layar televisi di depan mereka. Ciuman mereka semakin dalam, semakin panas, tapi tidak terlihat terburu-buru. Rose menggenggam kerah kaus Arthur, menariknya lebih dekat, seolah ingin meniadakan seluruh jarak yang tersisa di antara mereka. Tubuhnya bergerak gelisah dalam dekapan Arthur, membuat napas pria itu terputus-putus.“Baby…” suara Arthur terdengar berat, nyaris seperti erangan tertahan yang meluncur begitu saja dari dada.Rose kembali mencium bibirnya, lembut namun memabukkan, seakan mencuri sisa kewarasannya sedikit demi sedikit.Arthur mengusap pinggang Rose, naik ke punggungnya, lalu turun lagi ke sisi pinggul—sentuhan yang membuat Rose menggigit bibirnya menahan sensasi aneh yang mulai membuncah. Tubuhnya terasa semakin panas meski AC kamar menyala cukup dingin.“Kalau kamu gerak seperti itu terus…” bisik Arthur tepat di telinganya, napasnya terasa hangat, rendah, dan menggoda, “…aku bisa k
Read more