Senin pagi di Jakarta. Matahari baru saja naik, tapi hawa panas kota ini sudah mulai menyengat. Di sebuah ruangan kantor bergaya minimalis, Mustofa menatap sekeliling sambil mengangguk pelan, mengamati kantor baru milik putranya, Bayu."Kenapa harus keberatan? Kamu hanya perlu meminta Jifanya kembali bekerja di sini," ucap Mustofa, suaranya tenang namun tegas.Bayu berdiri di dekat jendela, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Matanya menerawang ke jalanan ibukota yang padat. “Semua ini akan semakin sulit bagiku, Ayah. Mengatasi hati dan perasaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujarnya jujur.Mustofa tercenung. Untuk pertama kalinya, Bayu berbicara dengan terbuka tentang isi hatinya. Hubungan mereka memang tidak pernah dekat, lebih sering canggung dan penuh diam. Tapi hari ini, Mustofa menyadari bahwa putranya tumbuh menjadi pria yang penuh pertimbangan.“Kamu tahu itu sulit, Bayu. Ayah juga pernah mengalaminya,” ujar Mustofa, menepuk bahu anaknya pelan.Bayu menar
Huling Na-update : 2025-12-27 Magbasa pa