"Ryan, kamu kenapa? Ryan?"Lucya panik, lalu segera berlari dan menahan tubuh Ryan yang nyaris jatuh. Napas Ryan masih cukup teratur, tapi ketika Lucya menyentuh dahinya, panas tinggi langsung terasa di telapak tangannya."Ryan, kamu demam?" Dia buru-buru membaringkan Ryan di sofa, lalu mengambil handuk untuk dikompres ke dahinya untuk berusaha menurunkan panasnya. Setelah itu, dia bergegas hendak mengambil kunci mobil, bersiap membawa Ryan ke rumah sakit.Namun tiba-tiba, Ryan menggenggam tangannya erat. "Kak Ivy ...."Lucya tertegun. Kak Ivy? Siapa itu? Kakaknya? Mantan pacar?"Ryan, tunggu ya, aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!" katanya cepat dan mencoba menarik tangannya pelan.Ryan tampak sudah benar-benar demam tinggi sampai tak sadar, matanya setengah terpejam dan bibirnya bergerak pelan. "Aku kangen kamu ...," gumamnya samar.Lucya menelan ludah, menunduk dan menatapnya tak percaya. Dia meraih tasnya dan memapah Ryan untuk berdiri. "Ayo, ke rumah sakit."Namun siapa sangka
続きを読む