MasukRyan dikhianati oleh pacarnya dan memilih untuk mengakhiri hubungan dengan tegas. Tak disangka, setelah kembali jomblo, hidupnya justru seperti mendapat "cheat". Dia dipenuhi keberuntungan. Para wanita kaya muda, para wanita karier tangguh, hingga para wanita cantik dengan berbagai pesona, semuanya seakan-akan diatur oleh takdir untuk hadir di sisinya. Mereka menjadi penopang terkuat Ryan, mendorongnya selangkah demi selangkah menuju puncak kejayaan. Mereka yang dulu mengkhianati dan meremehkannya, kini hanya bisa berlutut dan menatapnya dengan penuh penyesalan. Namaku Ryan dan aku ditakdirkan untuk menjadi raja!
Lihat lebih banyakI shouldn’t have come home for the summer.
That was the first thing I thought when I saw Liam standing in the kitchen shirtless, barefoot, and sin wrapped in skin. The house smelled like lemons and spice, but all I could breathe in was him. Musk, heat, and a hint of sweat. Not the kind that turned your stomach but the kind that made you want to lean in. He didn’t flinch when I walked in. Just looked over his shoulder like I wasn’t the same girl who used to throw popcorn at him during movie nights or cry when he pranked me with fake spiders. Except I wasn’t. And neither was he. His voice dropped like it belonged in a darker hour. “Didn’t think you’d show.” “You mean Mom didn’t tell you?” I tried to keep my tone light. Unbothered. But my legs were already crossing unconsciously. Tight. He turned fully then. The muscles on his chest tensed as he leaned back against the counter. I stared for too long. His abs were a map of sins I hadn’t studied yet. And the towel hanging dangerously low on his waist didn’t help my resolve. “She said you were coming,” he said. “Didn’t say you’d look like that.” I swallowed. Hard. “Like what?” His gaze dipped low, then dragged back up slowly. Intentionally. “Like you’ve been kissed by trouble.” I laughed. Nervous. Stupid. “I’ve been studying. Not sinning.” He moved toward me. Slow. Controlled. A panther scenting weakness. “That’s the thing about sin,” he whispered, stopping just a breath away. “It doesn’t need your permission.” I could hear my heartbeat in my ears. Fast. Heavy. I hated how quickly my thighs clenched. How wet I felt already. “Liam,” I warned. “Still saying my name like that?” he said, low and dangerous. “Like you did that night after prom?” My breath caught. He remembered. That night, two years ago. I was drunk on cheap champagne and lies. He was newly eighteen. We kissed. Just once. Behind the garden shed. No one knew. I swore I’d forget. He swore he didn’t care. But clearly, he did. “I was stupid,” I said. “No,” he replied. “You were honest. For once.” His hand reached up to tuck a strand of hair behind my ear. My skin betrayed me. Goosebumps rose instantly. “You should go put a shirt on,” I whispered, stepping back. He didn’t follow. Just smirked like he’d won something. “You should go put something on under that dress.” I turned, pretending to be unaffected, even though I knew. I knew he saw the outline of my nipples through the thin cotton. That night, I couldn’t sleep. My room felt too hot. The air felt too tight. And when I heard the shower turn on down the hall, I was already peeling off my dress before I even made the choice. I padded down the hallway, barefoot and reckless. The door was ajar. He didn’t lock it. Steam curled from the bathroom like fingers, beckoning me in. I stood at the doorway, watching. Liam’s back was to me, water cascading down his muscles. His hand was wrapped around himself. Slow. Rhythmic. Controlled. I should’ve walked away. Instead, I moaned. Soft. Barely audible. But it was enough. He froze. Then turned. His eyes met mine. No shock. No anger. Just hunger. I stepped in. Neither of us spoke as he reached for me. My nightgown was thin. It fell off like water. My skin was already dewed with sweat and need. He pressed me against the fogged glass. “You’re sure?” he asked, voice hoarse. I nodded. “Don’t make me beg.” He kissed me then. Deep. Bruising. A kiss that said this would be our undoing. His fingers found me slick and ready, and the first time he slid inside me, I cried out his name like a prayer. He took his time. Teasing me with slow strokes until I begged for more. When I tried to move, he pinned me back against the glass, lifting my leg, owning me. His tongue tasted every whimper. My orgasm came like a storm shaking, violent, and real. He didn’t stop. He made sure the next was harder. Louder. He whispered all the filthy things he’d imagined since I left. And when I came again, he grunted my name like he was worshipping it. There was nothing soft about it. He fucked me like he hated me for coming home. Like he hated himself for wanting it as much as I did. His teeth sank into my shoulder. My nails raked down his back. It was filthy. Loud. Everything we promised not to be. When it was over, he rinsed the steam from my thighs with the showerhead. Then, he kissed my temple. And whispered, “We’re not done. We’ll never be done.” I believed him. Because sin never ends with one confession. And this was only the beginning.Beberapa kata terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang sangat kuat!Tiba-tiba, Wilsen menatap mata kiri Ryan."Tsk, tsk, kalau dilihat baik-baik, karyaku dulu masih kelihatan ya! Hahaha!"Yang dia maksud tentu adalah bekas luka halus di tulang alis Ryan. Dulu, Ryan disergap oleh beberapa teman berengsek Wilsen dan dipukul di tanah. Wilsen yang memakai sepatu kulit beralas keras langsung menginjak wajah Ryan. Injakan itu bukan hanya melukai tulang alisnya, bahkan hampir membuat Ryan buta.Sejak kejadian itu, demi melindungi Ryan, Yanna tidak berani lagi berhubungan dengannya.Mengingat masa lalu itu, amarah di dalam hati Ryan sudah seperti gelombang besar yang mengamuk.Saat itu, Wilsen melihat semangkuk obat yang belum diminum habis oleh Timmy. Kilatan licik muncul di matanya."Ryan, kamu bilang mengobati pasien, tapi malah kasih pasien minum benda seperti ini?" Dia berjalan ke meja, mengangkat mangkuk obat, lalu mencium baunya."Dokter Wilsen, hati-hati!" Melisa langsung panik, ja
"Wilsen?" Yanna mengernyit.Mobil Audi hitam itu memang kendaraan milik Wilsen.Pagi tadi di ruang medis, Wilsen sedang menggoda seorang perawat kecil. Tiba-tiba, dia melihat dari jendela bahwa Yanna keluar dari rumah sakit. Padahal masih jam kerja, kenapa Yanna tiba-tiba keluar?Wilsen merasa ada yang tidak beres, jadi dia ikut keluar dan mengemudi mengikuti sampai ke sini.Saat ini, Wilsen turun dari mobil, menendang pintu gerbang dengan kasar, lalu berjalan masuk ke halaman dengan penuh amarah."Kak, kamu beri tahu Wilsen pasien tinggal di sini?" tanya Ryan dengan ekspresi jijik."Nggak!" Yanna memasang ekspresi lugu, lalu bertanya kepada Wilsen, "Kamu kenapa ke sini?"Wilsen langsung berteriak marah, "Kenapa aku ke sini? Aku datang untuk menangkap basah kalian berselingkuh!"Wilsen menunjuk Ryan dan berteriak kepada Yanna, "Yanna, tadi di rumah sakit aku lihat kamu keluar sendirian, aku sudah tebak kamu datang menemui dia untuk kencan. Ternyata dugaanku benar!"Wajah Yanna langsung
Pagi hari, di tempat tinggal Melisa.Saat ini, Melisa tinggal di sebuah rumah pedesaan di kaki Gunung Umara. Tempat ini bersandar pada pegunungan, jauh dari pelabuhan Kota Shein, sangat bermanfaat bagi kondisi talasemia Timmy.Selain itu, rumahnya berdiri sendiri, dikelilingi bebatuan dan pepohonan. Suasananya tenang, udaranya segar, merupakan tempat yang sangat cocok untuk pemulihan.Pukul 9 pagi, Ryan datang tepat waktu ke halaman kecil itu. "Kak, ini obat yang kubawa. Nanti Timmy minum dulu. Sebentar lagi aku akan melakukan akupunktur," kata Ryan sambil mengeluarkan obat dari tasnya.Kemudian, dia mengeluarkan satu per satu barang tanpa henti."Timmy, ini Ultraman Zero versi kecepatan yang kamu mau.""Kak, ini produk perawatan kulit untukmu. Produk ini bagus, semuanya ekstrak herbal!"Melisa berkata dengan penuh haru, "Pak Ryan, ke depannya nggak perlu lagi beliin kami barang-barang seperti ini. Kamu sudah nggak memungut biaya pengobatan Timmy, malah masih beliin kami barang-barang
Tengah malam, di Vila Nirvana.Plak! Septian marah besar. Dia melempar ponsel di tangannya hingga hancur berkeping-keping."Kak Septian, tenanglah!" Hengky memungut ponsel yang pecah dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas meja. "Kak Septian, ada apa? Kenapa sampai semarah ini?""Delapan Wajah gagal!" pekik Septian. "Rusam berhasil kabur!"Hengky terkejut. "Kalau Kak Rusam tahu itu kamu ... apa dia akan kembali ke tanah air buat ...."Kalimat selanjutnya tidak dia ucapkan, tetapi semua sudah paham."Itu yang aku khawatirkan!" Alis Septian sampai berkerut. "Sekarang hanya ada satu cara!"Septian menatap Hengky. "Kamu bawa orang-orang kita, culik istri dan anak Rusam!""Hah?" Ekspresi Hengky tampak serbasalah. "Kak Septian, ini ...."Dia sebenarnya ingin mengatakan cara itu terlalu kejam. Namun, karena tekanan dari Septian, kata-kata itu ditelannya kembali."Kenapa? Ada masalah?" Tatapan Septian menusuk ke arah Hengky."Sebenarnya tadi aku juga ingin melapor. Istri dan anak Kak Rusa
Untuk sesaat, Ryan merasa otaknya tidak bisa memproses. 'Perusahaan bernilai ratusan miliar diberikan kepadaku?'Namun setelah tenang, semakin dipikirkan semakin terasa ada yang tidak beres.'Oriental Farma adalah anak perusahaan Waterfall Group. Dia bilang mau memberikannya kepadaku, tapi bagaimana
Salwa mengerutkan kening. "Jangan sebut Darshen lagi. Aku nggak pernah menyetujui dia menjadi direktur utama."Merly menggigit bibirnya dengan erat. "Kak Darshen jelas-jelas sangat hebat. Ibu saja yang nggak suka dia. Ibu malah memaksaku belajar dari Ryan itu. Memangnya dia siapa?""Diam!" Salwa men
Teater kecil A3? Ada yang bikin onar? Kenny mengernyit sambil berpikir. Bukankah itu tempat mereka nonton pertunjukan sambil minum?Sementara itu, di dalam teater, Ryan berdiri melindungi Vania di depannya.Di depan mereka, anak buah bos besar berkepala plontos bersama para preman klub, totalnya leb
Selain itu, semua pencapaian Lucya diraih lewat kemampuan sendiri. Dia ditempa dari posisi paling dasar dan menghadapi jatuh bangun, hingga akhirnya berada di posisi sekarang. Kalau bicara pengalaman sosial dan kemampuan manajerial, Ryan merasa dirinya masih seperti murid sekolah dasar di hadapan Lu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak