MasukRyan dikhianati oleh pacarnya dan memilih untuk mengakhiri hubungan dengan tegas. Tak disangka, setelah kembali jomblo, hidupnya justru seperti mendapat "cheat". Dia dipenuhi keberuntungan. Para wanita kaya muda, para wanita karier tangguh, hingga para wanita cantik dengan berbagai pesona, semuanya seakan-akan diatur oleh takdir untuk hadir di sisinya. Mereka menjadi penopang terkuat Ryan, mendorongnya selangkah demi selangkah menuju puncak kejayaan. Mereka yang dulu mengkhianati dan meremehkannya, kini hanya bisa berlutut dan menatapnya dengan penuh penyesalan. Namaku Ryan dan aku ditakdirkan untuk menjadi raja!
Lihat lebih banyakSelain itu, semua pencapaian Lucya diraih lewat kemampuan sendiri. Dia ditempa dari posisi paling dasar dan menghadapi jatuh bangun, hingga akhirnya berada di posisi sekarang. Kalau bicara pengalaman sosial dan kemampuan manajerial, Ryan merasa dirinya masih seperti murid sekolah dasar di hadapan Lucya.Saat pikiran itu terlintas, Ryan tiba-tiba melihat ada noda tepung di wajah Lucya. Sepertinya tadi tidak sengaja terkena saat di dapur."Bu Lucya, wajahmu kena noda.""Di mana?""Di sini.""Oh."Lucya mengusapnya asal-asalan, tapi malah jadi makin belepotan."Hahaha, kalau terus begitu nanti jadi panda," kata Ryan sambil tertawa. "Biar aku bantu bersihkan." Dia mengambil tisu basah dari meja, lalu mengusap pipi Lucya dengan lembut. Jarak mereka begitu dekat, hingga seketika suasana menjadi canggung dan samar-samar terasa intim.Namun tepat saat itu, bel pintu berbunyi."Sudah malam begini, siapa ya?" gumam Lucya sambil bangkit dan menuju pintu.Di depan pintu berdiri seorang kurir yang
Sesampainya di rumah, hati Ryan masih tidak bisa tenang dalam waktu yang cukup lama.Hanya dari satu acara reuni, dia melihat begitu banyak wajah kehidupan manusia.Ketua kelas yang dulu arogan, kini menjadi pengecut dan ragu-ragu. Murid yang dulu duduk di bangku belakang dan selalu dianggap gagal, kini malah menjadi sosok sukses di mata teman-temannya. Primadona kelas yang paling mudah mendapatkan cinta, kini menjalani bertahun-tahun tanpa cinta. Dan Vania ... sosok yang selama ini dia hormati, demi anaknya, bahkan sampai terjun ke dunia malam.Ryan menarik napas dalam-dalam. Dia hanya bisa menghela napas panjang. Setiap keluarga memang punya kesulitan yang tak pernah bisa diceritakan ke orang lain.Natalie tampak begitu gemerlap di hadapan orang luar. Siapa sangka, selama bertahun-tahun ini kehidupan asmaranya begitu hambar."Ah ...."Ryan menghela napas, lalu perlahan tertidur.Keesokan harinya, Ryan naik kereta untuk kembali ke Kota Shein. Sebelum berangkat, ibunya sengaja bertanya
"Jadi saat kamu menolakku tadi, aku merasa mimpi yang selama bertahun-tahun menopang dunia perasaanku hancur begitu saja. Hatiku sakit sekali!" Saat mengucapkan kata-kata itu, tubuh Natalie bergetar pelan.Ryan menatap Natalie. Pada detik itu, dia teringat dengan kenangan antara dirinya dan Natalie di masa lalu.Ryan memandang Natalie di hadapannya, seolah melihat kembali gadis muda berseragam sekolah yang memegang penggaris sambil menopang dagu, lalu berkata dengan wajah bingung, "Ryan, soal ini kamu harus jelaskan lagi. Aku masih belum mengerti ....""Ryan, aku suka kamu!" kata Natalie dengan jujur dan terbuka. "Nggak peduli kamu suka sama aku atau nggak, aku tetap harus mengatakan ini. Setelah mengatakannya, setidaknya aku nggak punya penyesalan!"Dia menatap Ryan dengan penuh perasaan. Pada saat itu, bagi Natalie, Ryan seolah menjadi seluruh dunianya.Detik berikutnya, dia memeluk Ryan dengan lembut. Kali ini tidak ada lagi kegugupan dan desakan seperti sebelumnya. Segalanya terasa
"Cukup!"Ryan kembali memisahkan Natalie, kedua tangannya memegang lengan Natalie sambil bertanya dengan nada marah, "Kenapa kamu jadi seperti ini sekarang?"Rambut Natalie berantakan. Giginya menggigit bibir dan bergetar beberapa kali, lalu setetes air mata meluncur dari sudut matanya. Dia tiba-tiba menangis keras, lalu terduduk di sofa. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam di antara kedua kakinya, rambut panjangnya yang acak-acakan terurai di sisi pahanya.Hati Ryan langsung melunak. Dia merasa dirinya tadi agak berlebihan. "Natalie, maaf. Aku nggak seharusnya membentakmu."Ryan melangkah mendekat dan berdiri di depan Natalie. Melihat Natalie terisak sambil menahan tangis, rasa bersalahnya membuat dia seperti anak kecil.Natalie mengendus hidungnya dan menahan air mata, lalu menunjuk ke arah meja kopi."Tolong ambilkan tisu."Ryan menyerahkan tisu pada Natalie."Terima kasih," kata Natalie dengan nada keras kepala."Aku nggak menyakitimu, 'kan?" tanya Ryan.Natalie malah manyun dan bali












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak