"Kamu punya waktu mengkhawatirkanku, lebih baik khawatirkan dirimu sendiri. Jangan sampai waktu aku datang lagi nanti, kamu sudah dirampas preman itu dan dijadikan istri." Mendengar ucapannya, Bradford menjawab dengan wajah santai sambil bercanda.Bagi Sissy, Keluarga Witansa mungkin adalah gunung besar yang harus dijunjung tinggi. Namun bagi Bradford, mereka paling-paling hanya batu kecil yang mengganjal kaki. Kalau dia mau, sekali tendang saja batu itu bisa lenyap tanpa jejak."Kamu saja yang jadi istrinya! Sudah saat seperti ini, kamu masih sempat bercanda, benar-benar, deh!" balas Sissy langsung dengan kesal."Kalau dipikir-pikir, menurutku Framly itu lumayan juga. Wajahnya tampan, keluarganya kaya, bahkan rela datang jauh-jauh ke sini khusus untukmu. Kamu benar-benar nggak mau pertimbangkan dia?" Bradford berpura-pura serius memberi saran.Bradford memang tidak punya cara untuk menjelaskan terlalu banyak terhadap kekhawatiran Sissy, jadi dia hanya bisa mengalihkan perhatian dengan
Read more