Se connecter"Hati-hati!" Setelah dua anak buah Framly bergerak, Sakti refleks berteriak mengingatkan.Sementara itu, Sissy yang berada di samping kepala desa tua malah tidak bersuara. Sissy pernah melihat kemampuan Bradford di acara lelang batu. Dua orang di belakang Framly itu kemungkinan besar tidak akan berhasil.Meski begitu, di wajahnya masih tampak kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Berbeda dengan Sakti, yang dikhawatirkan Sissy jelas bukan hanya dua orang itu.Saat dua pengawal itu hampir menyentuh Bradford, mereka bahkan sudah bisa melihat bayangan diri mereka di mata lawan."Ah ...."Dua pria bertubuh besar itu tiba-tiba terpental tanpa tanda apa pun. Bahkan sampai saat itu, senyum di wajah mereka belum sempat menghilang.Disertai suara berat karena terjatuh ke tanah, kedua pengawal Framly meringkuk sambil memegangi perut mereka dengan wajah penuh kesakitan.Di mata para warga yang menyaksikan, Bradford seolah tidak melakukan gerakan apa pun. Hanya Framly yang samar-samar melihat
Hari ini Framly datang ke Desa Moza dengan membawa orang-orangnya. Tujuannya adalah membawa Sissy pulang untuk menikah. Dulu saat mengetahui tentang perjodohan ini, Sissy langsung menyatakan penolakan.Sejak kecil sampai sekarang, Sissy bahkan belum pernah menjalani hubungan cinta yang serius. Bagaimana mungkin dia rela menikah dengan pria yang bahkan belum pernah dia temui?Namun, keluarga Sissy sudah bulat tekad untuk mewujudkan pernikahan itu. Karena tidak mampu melawan, Sissy diam-diam melarikan diri dari rumah dan pergi ke Desa Moza.Sebenarnya Framly seharusnya sudah datang sejak lama, tetapi tertunda oleh beberapa urusan hingga baru tiba hari ini. Bradford datang membawa giok yin-yang, dan kebetulan bertemu dengan situasi ini."Sissy, pantas saja kamu kabur ke tempat terpencil begini. Ternyata kamu punya simpanan di sini! Padahal Paman bilang kamu masih gadis suci. Hah, benar-benar nggak tahu malu!" Framly memarahi Sissy dengan wajah muram.Kali ini untuk pertama kalinya, Framly
Framly tampaknya tidak menyadari kemunculan Bradford dan mulai membujuk Sissy dengan sungguh-sungguh.Nada bicara Framly jelas jauh lebih lembut, tetapi terselip kelembutan feminin yang tidak semestinya ada pada seorang pria. Dari nada suaranya, jelas dia sudah membujuk cukup lama.'Keluarga? Pernikahan?' Di dalam hati Bradford muncul sedikit keterkejutan. Sejak pertama kali bertemu Sissy, Bradford sudah mencurigai bahwa latar belakangnya tidak sesederhana itu.Namun, karena Sissy tidak pernah mengatakannya sendiri, Bradford pun malas menyelidiki lebih jauh. Kemunculan Framly sekarang ini membuktikan dugaan Bradford sebelumnya.Yang lebih aneh lagi, dari maksud perkataan Framly, ternyata dia adalah tunangan Sissy!Dari potongan percakapan antara Sissy dan Framly, Bradford sudah sedikit memahami duduk perkaranya. Framly hari ini jelas datang untuk menjemput Sissy."Jangan pakai omong kosong soal perjanjian itu! Urusan pernikahanku, aku yang menentukan sendiri! Lagian, jangan sok akrab!"
Seiring pemandangan yang familier terlihat menjauh di kaca spion, jarak Bradford dengan Desa Moza semakin dekat.Di tengah perjalanan, Bradford menelepon Sissy, tetapi akhirnya tidak ada yang mengangkat. Bradford tidak banyak berpikir, langsung memasuki wilayah Desa Moza.Sebuah pikap militer berhenti dengan mantap di pintu masuk Desa Moza. Di pintu masuk Desa Moza ada sebatang pohon pagoda yang sudah berumur, cukup untuk berteduh dari terik matahari.Biasanya, saat seperti ini adalah waktu warga desa berteduh dari panas sambil mengobrol santai. Anehnya, Bradford tidak melihat satu orang pun di sini.Ketika suasana sekitar sepi tanpa orang, Bradford kembali menelepon Sissy. Di pihak Sissy masih tersimpan beberapa batu nirbana bintang. Bradford tidak ingin bolak-balik dengan sia-sia.Namun, telepon Sissy kali ini tetap tidak tersambung. Mendengar nada sibuk di telinganya, alis Bradford sedikit berkerut.Walaupun biasanya pekerjaan Sissy memang sibuk, dia tidak mungkin sampai tidak punya
Ghanief tidak ingin cucunya ikut terseret dalam urusan ini. Itu adalah kekhawatiran seorang kakek yang sangat wajar.Sebaliknya, Gisela yang tidak tenang karena memikirkan keselamatan Ghanief juga tak bisa dihindari.Baik Bradford maupun Gisela sama sekali tidak menyadari, saat mereka pergi, dari celah tirai sebuah kamar di lantai dua rumah Keluarga Massaid, tampak sepasang mata yang agak menyeramkan."Tenang saja, kakekmu nggak akan kenapa-kenapa. Kalau ada situasi apa pun, hubungi aku secepatnya. Aku pasti akan membantumu." Melihat Gisela duduk di mobil tanpa berkata apa-apa, Bradford pun langsung menghibur.Hati Gisela yang tadinya agak murung, entah kenapa langsung terasa jauh lebih ringan setelah mendengar suara Bradford. Perubahan aneh itu bahkan membuat Gisela sendiri merasa heran."Terima kasih. Bradford, kenapa kamu baik sekali padaku? Apa kamu benar-benar ingin jadi cucu menantu kakekku?" Gisela menyentuh bibir merahnya sambil langsung mendekat ke hadapan Bradford.Urusan Gha
"Kak Gisela, tolong minta orang untuk siapkan kertas dan pena." Menghadapi pertanyaan Erdin, Bradford langsung bertindak.Setelah mendengarnya, Gisela segera menyuruh pelayan mengambilkan barang yang dibutuhkan Bradford.Tidak sampai tiga menit, Bradford sudah menyalin seluruh bagian Jarum Penenang Jiwa yang telah lama hilang. Baik urutan titik akupunktur, maupun sudut dan kedalaman tusukan jarum, semuanya dia tulis dengan sangat jelas.Sampai saat Bradford menyerahkan kertas itu ke tangan Erdin, profesor yang sangat dihormati itu masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.Erdin benar-benar tidak menyangka bahwa harta yang selama ini dia dambakan siang malam, justru bisa dia dapatkan dengan cara seperti ini."Kak Gisela, aku punya satu resep. Minum tiga kali sehari selama tiga hari berturut-turut, maka pemulihan Pak Ghanief akan menjadi lebih baik." Pada saat yang sama, Bradford juga tidak lupa menuliskan resep penunjang pemulihan untuk Ghanief.Gisela yang sebelumnya hanya men